01 September 2008
Indoferro Membangun Pabrik Baja di Cilegon

JAKARTA - Indonesia seperti surga bagi industri baja asing. Setelah perusahaan-perusahaan elit baja dunia seperti Arcelor-Mittal, Bluescope, dan Tata Steel ngebet membangun pabrik baja di Indonesia, kini ada satu lagi investor asing yang kebelet menanam modal di industri baja domestik.

Adalah PT Indoferro, perusahaan patungan antara investor Singapura dengan PT Growth Sumatra Industry, berencana membangun pabrik baja di Cilegon, Banten. Direktur Jenderal Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka Departemen Perindustrian (Depperin) Arisan Bukhari mengatakan kapasitas pabrik baja baru milik Indoferro terbilang jumbo. "Kapasitas pabriknya mencapai satu juta ton," katanya, Jumat (29/8). Pembangunan pabrik ini akan berlangsung dua tahap.

Dalam situs resminya, Indoferro merilis rencana pembangunan pabrik baja baru di Cilegon. Indoferro menargetkan bisa mengoperasikan pabrik barunya itu pada kuartal pertama tahun 2009.

Ketua Gabungan Produsen Besi Baja Seluruh Indonesia (Gapbesi) Fazwar Bujang menambahkan, Indoferro pun sudah mulai membangun pabriknya. "Meski berkapasitas satu juta ton, tahap pertama hanya 500.000 ton," ungkapnya

Belum jelas nilai investasi pabrik tersebut. Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Indoferro akan menanamkan investasinya sebesar USS 40 juta.

Menurut Fazwar, awalnya Indoferro ingin membangun pabrik baja jenis billet. Sayang, kenaikan harga baja membuat investasi membengkak. Selain itu, mereka masih terkendala teknologi, sehingga membuat perusahaan ini urung melaksanakan mimpinya Karenanya Indoferro hanya akan membuat baja kasar jenis pig iron dan scrab. "Untuk menghasilkan billet butuh dua kali proses produksi sehingga biaya gede," kata Fazwar.

Kelak, kata Fazwar, Indoferro berencana menjual produknya ke Krakatau Steel. Indoferro telah bertemu dengan Krakatau Steel. "Ini memang tawaran yang menarik," kata Fazwar yang juga Direktur Utama Krakatau.

Pabrik Indoferro memang dekat dengan kawasan industri Krakatau Steel. Ini tentu bisa menekan biaya transportasi. Namun, meski Krakatau membutuhkan pig iron, Fazwar mengaku tak akan serta merta menerima tawaran Indoferro.

(Sumber: Harian Kontan)

 Dilihat : 5586 kali