02 November 2007
MENPERIN NYATAKAN TABUNG BAJA IMPOR TIDAK BOLEH MASUK INDONESIA

Menteri Perindustrian Fahmi Idris Kamis (1/11) menegaskan dengan telah datangnya 7.344 unit tabung gas elpiji impor tiga kg di Pelabuhan Tanjung Priok, maka sebenarnya tabung tersebut dinyatakan tidak boleh masuk ke Indonesia, berdasarkan kepada dua dasar hukum.

Pertama, sesuai ketentuan pemerintah yang dinyatakan pada Keppres No. 80 tahun 2003 (BNNo. 6986, hal 58-148) yang diubah dalam Perpres No. 85 tahun 2006 (BNNo. 7425, hal3B-4B), mengenai pedoman pelaksanaan pengadaan barang dan jasa pemerintah, dalam rangka program konversi energi pengalihan minyak tanah kepada gas, maka perlu diutamakan produksi dalam negeri.

Dengan demikian sesuai ketentuan, karena telah diadakan tender, maka pemenang tender harus mampu menghasilkan produknya dari dalam negeri. Selain Keppres, Deperin juga memiliki Permenperin No. ll/M-IND/PER/3/tahun 2006 (BN No. 7343) yang diubah menjadi Permenperin No. 30/M-IND/PER/ 6/2006 {BN No. 7382, hal 98) mengenai Pedoman Teknis Penggunaan Produksi Dalam Negeri.

Dalam ketentuan tersebut dinyatakan, apabila produk dalam negeri tersebut mengandung Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang kurang lebih sama dengan produk impor, maka produksi dalam negeri tersebut diberi preferensi selisih harga bisa lebih tinggi, antara lima sampai lima belas persen.

Kedua, impor tabung gas tersebut dalam agama Islam dinyatakan sebagai "haram" hukumnya masuk ke dalam wilayah kepabeanan RI. Sebab menurut Fahmi, produksi tabung dan kompor gas dapat dilakukan oleh para produsen berskala usaha kecil dan menengah di Indonesia. Teknologinya 'gampang bin gampang' serta program tersebut sebenarnya mendukung program Presiden SBY/JK yang progrowth, pro poor dan pro job.

Dengan memproduksi tabung dan kompor gas di dalam negeri, berarti memberi lapangan kerja pada masyarakat. Dengan demikian, program tersebut mengurangi jumlah masyarakat miskin dengan berupaya menggerakkan roda perekonomian. Karena itu, ia menekankan supaya menunjukkan kemampuan dari dalam negeri, dibanding impor. Alasannya waktu itu tendernya tidak dibuka, padahal kalau dibuka dan diumumkan secara terbuka di media massa, pasti akan banyak perusahaan yang tertarik.

Tumbuhkan Klaster Program ini sebenarnya juga menumbuhkan berkembangnya klaster industri. Sebab produsen baja hulu mensuplai bahan baku baja untuk tabung dan kompor gas tersebut, baik dari Krakatau Steel dan juga beberapa produsen baja lain seperti Blue Scope Steel. Dari sana, dipasok ke beberapa produsen tabung dan baja di dalam negeri.

Fahmi juga mengatakan, kalau secara hukum impor tabung tersebut sebaiknya direekspor. Beberapa hari terakhir pihaknya secara intensif mengadakan pembahasan dengan Dirjen BC, dan meminta supaya impor tabung elpiji tersebut direekspor. Sebab rencana impor tabung baja seluruhnya mencapai 4 juta unit tabung. Saat ini yang rencananya masuk ke Indonesia telah mendekati angka 3 juta unit tabung.

Impor sebenarnya tidak dilarang. Tetapi untuk apa diimpor, kalau di dalam negeri sudah mampu memproduksinya. Tabung-tabung baja yang diimpor dari Taiwan tersebut sudah menumpuk di beberapa pelabuhan masuk. Karena berdasarkan beberapa alasan di atas, tabung tersebut sebaiknya direekspor kembali ke negaranya.

Produsen dalam negeri mampu mengerjakan pembuatan tabung dan kompor gas itu. Jika terkendali pada harga yang kurang kompetitif, sehingga pada akhirnya Pertamina memutuskan mengambil yang berasal dari impor saia, tidak tepat. Karena selain mampu dikerjakan di dalam negeri, karena tidak membutuhkan teknologi yang sulit, produksi yang dihasilkan di Indonesia lebih bagus dari kualitas yang diimpor.

Satu-satunya alasan Pertamina mengimpor, adalah harganya yang lebih murah lima persen dibanding produksi dari dalam negeri. Sementara dengan preferensi harga sampai 15 persen, meka kompor dan tabung dari dalam negeri masih bisa memenuhi persyaratan yang diajukan.

Tidak Tepat Jika Dikatakan Tidak Mampu Penuhi Tenggat Waktu Menjawab pertanyaan mengenai alasan produsen dalam negeri tidak mampu memenuhi target produksi mencapai 4,5 juta unit tabung sampai bulan Februari 2007, yang seharusnya dipenuhi pada bulan Desember 2007, karena sebenarnya produksi sempat dihentikan pengirimannya selama 1,5 bulan.

Alasan penghentian pengiriman oleh Pertamina, karena gudang sudah penuh barang, dan ada reaksi masyarakat yang menolak program konversi dari minyak tanah ke gas elpiji, menurut Direktur Niaga dan Pemasaran PT Pertamina Achmad Faisal. Setelah program tersebutdibuka kembali dan akhirnya produsen minta diadakan reschedulling, akhirnya disetujui pengiriman akan dilakukan sampai bulan Februari 2007.

Hal ini dianggap cukup adil oleh Fahmi, karena produksi ditunda 1,5 bulan, sehingga untuk menggerakkan kembali pabrik diperlukan waktu, jadi tenggat waktu diperpanjang 2 bulan, sampai Februari 2007. Sedang untuk menaikkan harga jual tabung elpiji yang dianggap kurang kompetitif saat ini, Fahmi minta supaya diadakan perundingan bilateral antara produsen dengan Pertamina, agar dicapai harga terbaik.

[ Mi ]

Sumber : Business News

 Dilihat : 2503 kali