28 Agustus 2008
Privatisasi BUMN Kemungkinan Digeser ke 2009

Jakarta- Komisi XI DPR RI kemungkinan akan menunda persetujuan terkait proses privatisasi BUMN hingga 2009. Hal ini yang kemudian menghambat pemerintah untuk privatisasi beberapa target perusahaan pelat merah.

"Mungkin akan dibahas tahun ini, tapi pembahasannya betul-betul lambat. Semuanya akan dibegitukan di tilt down, termasuk rencana privatisasi PT Krakatau Steel (PT KS) dan PTPN." ungkap Drajad usai rapat pansus hak angket BBM DPR RI, Jakarta, Rabu (27/8).

Dua alasan yang menurut Drajad menghambat proses privatisasi, yakni kelesuan kondisi pasar. "Kedua, kondisi psikologis DPR," tambahnya.

Kondisi psikologis yang dihadapi DPR saat ini, dikhawatirkan menimbulkan kecurigaan terjadinya tindak pidana korupsi oleh anggota DPR. "Misalnya, nanti teman-teman (anggota DPR) menyetujui, lalu ada suap segala macam, seolah-olah ada duit segala macam itu kan jadi celaka Itulah yang membuat kita menunda dari pada nantinya repot," ujarnya.

Sehingga, kata Drajad, pemerintah harus memiliki argumen yang benar-benar kuat Meskipun ada keharusan bagi DPR untuk menyetujui privatisasi itu. "Kalau pun ada, itu karena pemerintah harus benar-benar ngotot dan menunjukkan itu memang diperlukan," paparnya 2009.

Garuda

Sementara rencana PT Garuda Indonesia melepas sahamnya ke publik (IPO) tahun 2009 mendapat lampu hijau dari pemerintah. "IPO Garuda akan masuk Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan perusahaan pada tahun 2009," kata Direktur Operasional Garuda, Ari Sapari, di jakarta, Rabu.

Usai rapat dengan Menneg BUMN Sofyan Djalil bersamadireksi dan komisaris Garuda, Ari mengatakan, persiapan untuk IPO sedang dilakukan. "IPO merupakan bagian dari upaya perusahaan memperoleh dana untuk pembiayaan kembali (refinancing) perusahaan," kata Ari.

Sebelumnya, Menneg BUMN Sofyan Djalil menyatakan Garuda merupakan satu nominasi BUMN yang akan masuk dalam privatisasi tahun 2009. IPO Garuda merupakan bagian dari restrukturisasi perusahaan yang saat memasuki penyelesaian.

Kinerja keuangan Garuda dalam satu tahun terakhir membaik, tercermin dari laba bersih 2007 sebesar Rp258miliar. Tiga tahun sebelumnya rapor keuangan perusahaan penerbangan "pelat merah" ini masih defisit Rp811,3 miliar (2004), Rp688,4 miliar (2005), Rpl97 miliar (2006).

Perusahaan setidaknya membutuhkan dana sekitar 400 juta USS agar keuangan terus positif, sementara pemerintah hanya mampu memberi suntikan sekitar 100 juta USS.

Dalam satu diskusi belum lama ini, Dirut Garuda Emirsyah Satar mengatakan opsi IPO Garuda sedang dibicarakan antara pemerintah dengan DPR.

Emirsyah tidak berani memperkirakan berapa jumlah saham yang akan dilepas ke publik, termasuk jumlah saham yang akan diperoleh dari rencana aksi korporasi tersebut Akan tetapi katanya, jumlah saham yang diprivatisasi tidak boleh melebihi 51 USS, pemerintah harus tetap mayoritas.

Selain berencana IPO, Garuda sedang merestrukturisasi utang sekitar 800 juta USS terdiri atas utang kepada European Credit Agency (ECA) dan utang Floating Rates Notes (FRN) kepada kreditur di Singapura, serta utang kepada pihak lokal seperti Bank Mandiri dan PT Pertamina.

(Sumber: Harian Ekonomi Neraca)

 Dilihat : 3923 kali