27 Agustus 2008
Ispat Indo Kaji Bangun Pabrik Baja US$ 500 Juta

JAKARTA - Perusahaan baja milik Lakshmi Mittal di Sidoarjo, Jawa Timur, PT Ispat Indo, mengkaji pembangunan pabrik hulu baja (iron making) dengan perkiraan investasi sekitar US$ 500 juta.

Produsen kawat baja (wire rod) terbesar di dalam negeri itu serius mempertimbangkan dua daerah, yakni Lampung dan Banten, sebagai lokasi pabrik barunya.

Untuk memuluskan rencana tersebut, petinggi Ispat Indo telah berunding dengan pejabat Departemen Perindustrian dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).. Hasilnya, Lampung dan Banten dinilai tepat dan potensial sebagai lokasi pabrik baja baru.

Seorang pejabat pemerintah yang ikut dalam perundingan itu menyatakan, Ispat Indo akan menggarap pabrik hulu baja yang terintegrasi ke sektor antara (midstream) yang diintegrasikan dengan pembangkit listrik (power plant). "Kalau Ispat sudah merencanakan investasi itu, berarti sudah disetujui ArcelorMittal karena Ispat adalah perusahaan afiliasi mereka," katanya di Jakarta, Selasa (26/8).

Dia memperkirakan, pembangunan pabrik baru Ispat Indo akan mendekati kapasitas satu juta ton agar sesuai skala keekonomiannya. Pabrik baja hulu berkapasitas satu juta ton per tahun, katanya, paling tidak membutuhkan pembangkit listrik 200 megawatt (MW).

Namun, dia mengaku tidak mengetahui apakah ambisi Ispat Indo itu terkait dengan kegagalan Mittal menjadi partner strategis PT Krakatau Steel (KS). Sebelumnya raksasa baja Arcellor Mittal berminat membeli 40% saham KS. Akan tetapi, upaya itu kandas karena pemerintah Indonesia menyetujui divestasi KS melalui penawaran saham perdana (initial public offering/lPO).

Secara terpisah, Managing Director Ispat Indo Baldeo Prasad Banka mengakui, saat ini perseroan mengincar lahan di kedua lokasi tersebut untuk melakukan perluasan usaha (ekspansi). Ispat terus mematangkan rencana tersebut untuk mendapatkan hasil yang optimal.

Menurut dia, jika kajian produksi dan komersial sesuai dengan skala keekonomian. Ispat segera memutuskan arah investasi itu. "Kami belum bisa mengungkapkan secara pasti apakah investasi ini akan dioptimalkan ke sektor hulu, antara, ataupun hilir (downstream). Apabila kesempatannya besar, kami akan masuk ke hulu. Sebaliknya, apabila peluangnya kecil, kami akan berinvestasi dalam skala kecil," paparnya.

Pabrik Ispat Indo dibangun oleh Lakshmi Mittal di Sidoarjo, Jawa Timur, pada 1976 dengan kapasitas 60 ribu ton. Saat ini, Ispat Indo memiliki kapasitas produksi 700 ribu ton kawat baja per tahun. Ispat Indo memiliki tiga anak usaha, yakni PT Ispat Wire Products (produsen paku terbesar di Indonesia yang berlokasi di Sidoarjo), PT Ispat Panca Putera (produsen baja beton yang berlokasi di Gresik), dan PT Ispat Bukit Baja (produsen baja batangan yang berlokasi di Bekasi).

Investasi US$ 500 Juta

Dirjen Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka Depperin Ansari Bukhari menilai, investasi pabrik baja di sektor hulumembutuhkan investasi yang besar. Apabila disertai pembangkit listrik, investasi pabrik bisa meningkat antara 20-30%.

"Investasi di hulu diperkirakan bisa mencapai US$ 300-400 juta. Kalau ada tambahan pembangkit sekitar 200 MW, bisa bertambah sekitar US$ 200 juta lagi, sehingga totalnya bisa sampai US$ 500 juta," katanya.

Ansari menambahkan, investasi baru Ispat Indo akan diarahkan secara integral dari hulu ke antara. Ispat diperkirakan akan memperkuat sektor baja lembaran (flat product) karena produksi nasional untuk kelompok ini masih rendah, sementara untuk sektor baja batangan (long product) sudah seimbang. "Tak perlu diarahkan pemerintah pun, mereka pasti akan ekspansi ke sana," katanya.

Meski demikian, Baldeo Prasad Banka tetap enggan menyebutkan perkiraan nilai investasi yang sebenarnya dan arah proyek tersebut mengingat sehiruh proses investasi itu masih dalam studi yang sangat prematur. "Ini kan proyek untuk beberapa tahun ke depan, sehingga masih terus dikaji skala keekonomiannya. Jadi, tidak benar kalau investasinya mencapai nilai segitu," tegasnya.

Berdasarkan data Depperin, pasar baja domestik tahun ini mencapai 7 juta ton. Dari jumlah itu, sekitar 40% masih dipasok impor dan 60% disuplai produsen domestik. Sepanjang semester pertama tahun ini, impor baja nasional melonjak 115% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dari USS 2,009 miliar menjadi USS 4,332 miliar.

(Sumber: Investor Daily Indonesia)

 Dilihat : 3701 kali