25 Agustus 2008
Pabrik Baja Bersiap Dongkrak Produksi

JAKARTA - Maraknya pembangunan infrastruktur membuat konsumsi baja kian melesat tinggi. Seiring meningkatnya konsumsi, dua perusahaan baja nasional pun bersiap-siap menambah kapasitas produksi.

Direktur Pemasaran PT Krakatau Steel (KS) Irvan Kamal Hakim memprediksi, konsumsi baja tahun depan akan melonjak antara 5%-9%. "Naik dari 7 juta ton menjadi 8 juta ton," katanya akhir pekan lalu. Menurut Irvan, lonjakan konsumsi itu terjadi seiring meningkatnya proyek infrastruktur termasuk realisasi proyek pembangkit listrik 10.000 megawatt (MW).

Selain itu, lonjakan permintaan juga akan dipicu oleh peningkatan konsumsi otomotif, elektronik, konstruksi, dan galangan kapal. Untuk itu, KS akan menaikkan kapasitas produksi 10% dari kapasitas yang sudah ada. Rencananya, penambahan ka-pasitas itu akan mereka wujudkan pada 2009. Sayang, Irvan enggan menyebut nilai investasi yang mereka siapkan untuk penambahan kapasitas tersebut.

US$300 juta

Menurut Komisaris PT KS Ansari Bukhari, perusahaan itu menyiapkan dana senilai US$ 300 juta untuk membiayai proyek itu. "Dana akan diambilkan dari kas internal," ujar Ansari. Ia mengakui, saat ini kapasitas KS masih sangat rendah, hanya 2,5 juta ton per tahun. Celakanya, pemanfaatan kapasitas terpasang pabrik baja ini hanya 70% dari permintaan. Tak urung, BUMN baja ini pun kian kewalahan melayani permintaan baja yang terus naik.

Akibatnya, kebutuhan baja di dalam negeri banyak dicukupi oleh baja impor. "Peningkatan kapasitas produksi ini sangat penting, dan ini dilakukan bertahap. Sehingga, impor juga bisa ditekan," tuturnya.

Pabrik baja lain, PT Gunung Garuda juga akan mengikuti langkah KS. Direktur Sales Gunung Garuda Sujono mengatakan, perusahaannya akan menaikkan kapasitas 10%, dari 1,2 juta ton menjadi 1,32 juta ton. Penambahan kapasitas lantaran konsumsi baja nasional maupun dunia menunjukkan adanya tren peningkatan.

Sayang, Sujono belum bersedia menyebutkan berapa dana yang akan dikeluarkan untuk menambah kapasitas tersebut "Saya belum tahu," cetusnya. Namun, ia menegaskan, Gunung Garuda akan mencari dananya lewat pinjaman lembaga keuangan. "Industri baja masih menjadi industri yang menjanjikan. Jadi ada saja yang akan tertarik mendanai," imbuhnya.

Sebelumnya, Deparlemen Perindustrian (Depperin) juga memperkirakan konsumsi baja tahun ini akan mencapai 7 juta ton. Jumlah itu meningkat sekitar 700.000 ton dibandingkan konsumsi 2007 yang mencapai 6,3 juta ton. Konsumsi sebesar itu jauh di atas kemampuan produksi baja nasional.

Ancaman defisit baja akhirnya menjadi kian nyata. Saat ini, industri baja di dalam negeri baru bisa memproduksi sebanyak 4,5 juta ton hingga 5 juta ton. Akibatnya, banyak industri baja Indonesia yang terpaksa melakukan impor untuk menutup kebutuhan mereka.

Kondisi itu, membuat konsumsi kian melaju tinggi. Selain itu, banyak pula para spekulan yang melakukan penimbunan untuk mendapatkan harga tertinggi, menyusul lonjakan harga baja dunia yang terus berlanjut.

(Sumber: Harian Kontan)

 Dilihat : 3280 kali