21 Agustus 2008
Harga Baja Naik, Produsen Genjot Ekspor

Jakarta - Harga baja dan produk baja akan tetap tinggi dan cenderung meningkat sampai semester 1 2009, meskipun harga minyak mentah dunia mengalami penurunan.

Imbasnya, kalangan produsen baja Indonesia menggenjot porsi ekspornya pada September dan Oktober 2008. Langkah itu juga untuk menghindari penumpukan stok akibat melemahnya pasar lokal lantaran bulan puasa dan lebaran.

"Dalam dua bulan ke depan, kami akan memperbesar porsi ekspor," ujar Direktur Pemasaran PT Krakatau Steel (KS) Irvan Kamal Hakim di Jakarta, Rabu.

Menurutnya, ekspor dilakukan untuk menjaga pasokan baja di dalam negeri, karena para produsen akan tetap berproduksi secara normal pada September dan Oktober, yang bertepatan dengan Bulan Puasa (September) dan Lebaran (pada awal Oktober).

Biasanya pada Bulan Puasa dan Lebaran, urai Irvan, permintaan baja di dalam negeri melemah, karena ada libur panjang. Oleh karena itu, produsen meningkatkan pasar ekspor, agar stok baja di dalam negeri tidak menumpuk.

"KS akan meningkatkan porsi ekspornya dua kali lipat, dari 10 persen kapasitas produksi menjadi 20 persen," jelasnya.

KS merupakan produsen baja terbesar di lndonesia dengan kapasitas produksi plat baja hitam (Hot Roll Coil, HRC) mencapai sekitar dua juta ton per tahun, plat baja putih (Cold Roll Coil, CRC) mencapai sekitar 850 ribu ton per tahun, dan batang kawat (wire road) mencapai sekitar 450 ribu ton per tahun.

Hal yang sama juga dilakukan produsen baja besar lainnya yaitu PT Essar Indonesia.

Menurut Direkturnya Trivendi, pihaknya akan menggandakan porsi ekspor dari 20 persen menjadi 40 persen. PT Essar Indonesia antara lain memproduksi CRC dengan kapasitas produksi mencapai sekitar 400 ribu ton per tahun.

Direktur Grup Gunung Garuda Sudjono mengatakan pihaknya akan meningkatkan porsi ekspor sebesar 10 persen. "Saat ini kami mengekspor sekitar 40 persen (baja), dan akan ditingkat sebanyak 10 persen, sehingga menjadi 50 persen," katanya.

PT Gunung Garuda merupakan produsen baja nasional dengan kapasitas produksi HRC mencapai sekitar 700 ribu ton per tahun.

Selain memproduksi baja hulu, PT Gunung Garuda juga memproduksi long product atau baja panjang, dengan kapasitas sebanyak 500 ribu ton per tahun.

Irvan menambahkan ekspor baja tersebut akan diutamakan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan ekspor. Ia juga menegaskan peningkatan ekspor tersebut tidak akan mengganggu pasokan baja di dalam negeri.

"Permintaan baja khususnya produk plat baja masih tetap tinggi sampai akhir tahun, baik untuk industri galangan kapal, otomotif, tabung gas maupun proyek pipanisasi dan konstruksi di dalam negeri," ujarnya.

Harga Tinggi

Menurut Irvan, harga baja dan produk baja akan tetap tinggi dan cenderung meningkat meskipun hargaminyak mentah dunia mengalami penurunan. "Kami harus mengakui ada koreksi harga pada bulan Agustus ini, karena ada penurunan harga scrab (bahan baku baja), tapi itu bersifat musiman," katanya.

Harga scrab yang terkoreksi tipis dari 700 dolar AS pada Juli 2008, lanjut dia, merupakan pengaruh musiman tidak hanya akibat turunnya harga minyak, tapi juga menurunnya konsumsi baja di sejumlah kawasan menyusul adanya liburan musim panas, seperti di Eropa.

Selain itu, produsen baja di Taiwan juga mengurangi produksinya akibat pembatasan listrik.

Oleh karena itu, penurunan harga baja terutama untuk produk panjang (tong product) seperti besi beton, yang banyak menggunakan scrab hanya terjadi pada Agustus sampai September. Pada Oktober 2008 sampai pertengahan 2009 harga baja cendrung naik sekitar 20 persen.

"Untuk produk plat baja yang penggunaan serapnya hanya 20 persen, harganya tidak mengalami koreksi signifikan," ujarnya.

Balikkan secara keseluruhan harga baja di dunia maupun di dalam negeri diprediksi akan mengalami kenaikan, karena sejumlah faktor diantaranya industri baja dunia di Asia, Australia dan Amerika Serikat (AS) akan melakukan overhoule pada kuartal IV 2008 yang akan berakibat menurunnya pasokan baja dunia sebesar 5-6 juta ton.

Selain itu, kata dia, China sebagai konsumen baja terbesar juga diperkirakan tidak akan menurunkan konsumsi pasca Olympiade di Beijing karena pertumbuhan di negara itu akan mencapai 10,5 persen.

(Sumber: Harian Ekonomi Neraca)

 Dilihat : 3802 kali