02 November 2007
Konsumsi baja naik 10% tahun depan

Konsumsi baja naik 10% tahun depan Oleh YUSUF WALUYO JATI Bisnis Indonesia

JAKARTA: Pelaku usaha di industri baja nasional memprediksi konsumsi baja nasional tetap akan meningkat pada tahun depan sebesar 10% diban
dingkan dengan 2006, meski terjadi kenaikan harga minyak dunia yang memicu lonjakan biaya transportasi.
Berdasarkan analisis internal yang dikeluarkan PT Krakatau Steel (KS), konsumsi HRC (baja canai panas/ hot rolled coils) pada tahun ini akan mencapai sekitar 2,91 juta ton. Dengan asumsi peningkatan 10%, pada 2008 konsumsi baja domestik akan menyentuh 3,25 juta ton.
Pada tahun depan, peningkatan konsumsi HRC di pasar domestik terutama didorong oleh kian bergairahnya pembangunan infrastruktur dan re
alisasi ekspansi sejumlah produsen hilir baja berbasis CRC (cold rolling coils/baja canai dingin) a.l. industri tabung baja.
Meski diprediksi meningkat, penyerapan konsumsi pada 3 hingga 4 bulan pertama semester 1/2008 masih akan melambat seiring penyesuaian daya beli konsumen akibat lonjakan biaya transportasi yang memengaruhi harga baja domestik. .
Dirut KS Daenulhay menjelaskan kenaikan ongkos angkut ini berpengaruh sangat vital bagi kinerja perseroan karena KS masih mengimpor bahan baku bijih besi a.l. dari Brasil, Cile, dan India."Kenaikan BBM dalam produksi KS memang tidak signifikan karena kami sudah mendiversifikasi energi [dari BBM ke gas], tapi kenaikan biaya transportasi 54% ini sangat berat bagi konsumen karena mereka juga'harus menanggung kenaikan harga baja," papar dia.
Penyesuaian biaya transportasi tersebut, kata dia, dipicu akibat kenaikan harga minyak dunia yang menembus US$93 per barel. Hal ini secara langsung akan meningkatkan harga baja di dalam negeri.

Sebab, harga baja dunia berupa hot rolled coils (HRC/ baja canai panas) diprediksi akan kembali melambung di kisaran US$700 per ton pada Maret 2008. Padahal, harga baja saat ini masih berkisar US$600 per ton.

Kenaikan konsumsi Kenaikan harga baja dunia tersebut salah satunya akibat peningkatan konsumsi baja di China, India, dan beberapa negara di kawasan Asean a.l. Vietnam dan Thailand.Saat ini, beberapa perusahaan baja Asean sedang meningkatkan produksi dengan menambah investasi di mesinmesin produksi. "Akibat kenaikan harga minyak dunia, ongkos angkut saat ini sudah meningkat 54% sampai ke konsumen, dari total biaya transportasi," katanya.

Terhadap kenaikan harga minyak dunia yang memicu pelambalan ekonomi global, Daenulhay yang juga Ketua Umum Gabungan Asosiasi Produsen Besi dan Baja Indonesia (Gapbesi) menyikapinya sebagai fenomena yang temporer. "Saya optimistis pelambalan ekonomi global akan segera teratasi."

Jika terjadi kenaikan harga dunia, produsen baja domestik akan menyesuaikan dengan ketentuan harga internasional sehingga dalam empat bulan pertama 2008, daya beli konsumen hilir baja di dalam negeri akan mencari titik keseimbangan baru.
Sementara itu, memasuki kuartal 11/2008, konsumsi baja domestik diperkirakan akan kembali normal. Untuk mengamankan konsumsi baja yang terus meningkat, kata dia, perseroan akan meningkatkan kapasitas rotary Mn menjadi dua kali lipat pada 2008 dengan rerata produksi mencapai 15.000 ton HRC per hari.

Sumber : Bisnis Indonesia

Oleh Yusuf Waluyo Jati

 

 Dilihat : 3551 kali