05 Agustus 2008
Pemerintah Gagal Perkuat Struktur Industri

JAKARTA - Laju importasi bahan baku/penolong dan barang konsumsi melejit tinggi sepanjang semester I tahun ini seiring dengan lonjakan permintaan di dalam negeri.

Lonjakan permintaan itu terjadi karena industri di dajam negeri terutama sektor hulu tak mampu menambah kapasitas produksi sesuai dengan kebutuhan industri antara (mid-stream) dan hilir (downstream).

Mahalnya produk manufaktur lokal terutama di sektor midstream akibat tekanan harga minyak mentah dunia dan defisit daya listrik yang memicu lonjakan biaya produksi merupakan beberapa faktor penyebab pengusaha lebih memilih mengimpor produk jadi (barang konsumsi).

Nilai impor produk petrokimia hilir seperti plastik dan barang dari plastik pada semester 1/2008 meroket 94,2% menjadi US$2 miliar dibandingkan dengan USS 1,3 miliar pada periode sama tahun lalu. Pasokan bahan baku bijih plastik berupa polietilena (PE) dan polipropilena (PP) di sektor midstream yang terbatas, memicu lonjakan impor produk konsumsi.

Nilai impor bahan baku besi dan baja (kelompok barang/HS No. 72) seperti iron ore, pellet, slab, billet, pada semester 1/2008 bahkan melebihi pencapaian sepanjang 2007 dari US$2 miliar menjadi US$4,33 miliar atau setara dengan 4,6 juta ton.

Sementara itu, nilai impor produk barang dari besi dan baja (HS 73) meroket 185,9% dari US$640 juta (sekitar 600.000 ton) menjadi US$1,59 miliar (sekitar 1,5 juta ton). Angka tersebut membuktikan konsumsi baja pada tahun ini meningkat signifikan.

"Pada tahun ini, konsumsi baja diperkirakan melonjak jadi 7 juta ton," kata Dirjen Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka Depperin Ansari Bukhari, kemarin.

Tingginya biaya produksi di sektor hulu merupakan efek berantai dari berbagai faktor termasuk keterbatasan pasokan daya listrik PT PLN (Persero) yang semakin menyulitkan industri.

"Seharusnya, industri hilir mengoptimalkan kapasitas produksi apabila mendapatkan sumber bahan baku dengan harga kompetitif dari hulu," kata pengamat ekonomi dan industri Universitas Gadjah Mada, Mudrajat Kuncoro, kemarin.

Sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS), dari total impor nasional selama semester 1/2008 yang mencapai US$65,05 miliar, balian baku/penolong memberikan kontribusi terbesar yaitu sekitar 79,03% dengan nilai US$51,41 miliar, sedangkan barang konsumsi sebesar 6,77% (US$4,4 miliar).

Struktur Rapuh

Tingginya importasi bahan baku/penolong, lanjut Mudrajat, merupakan akibat dari kian rapuhnya struktur industri hulu manufaktur. Seharusnya, industri hulu bisa berkontribusi signifikan menekan impor bahan baku dengan memasok hasil produksi secara memadai dan sekaligus berperan sebagai pengendali harga di tengah tingginya harga minyak mentah.

Direktur Utama PT Krakatau Steel (KS) Fazwar Bujang mengakui industri baja hulu tidak mampu memenuhi seluruh konsumsi baja domestik pada tahun ini.

Kapasitas produksi hulu baja KS berupa pengolahan billet (bahan baku baja lembaran/hot rolled steel flat carbon) hanya sekitar 500.000 ton, padahal kebutuhan billet nasional bisa menembus 2 juta ton.

"Industri baja nasional kami akui terlambat berinvestasi dalam menambah kapasitas di sektor hulu," katanya.

Menurut Mudrajat, lonjakan impor bahan baku mengindikasikan pemerintah tidak punya planning yang baik dalam memperkuat struktur industri nasional.

(Sumber: Bisnis Indonesia)

 Dilihat : 4014 kali