29 Juli 2008
KS Tolak Tawaran Mittal Bangun Pabrik Patungan

JAKARTA - PT Krakatau Steel (KS) kembali menolak opsi kerja sama sinergis dengan perusahaan baja terbesar di dunia, ArcelorMittal, yang akan membangun pabrik baru baja (greenfield) terintegrasi di Banten dengan pola patungan.

Manajemen KS menyatakan ArcelorMittal lebih baik membangun pabrik sendiri dan berkompetisi secara sehat di industri baja nasional.

Penolakan tersebut merupakan yang kedua kalinya, setelah KS juga menolak tawaran ArcelorMittal untuk membeli produsen baja terbesar di Indonesia itu melalui skema strategic sale.

Direktur Utama PT Krakatau Steel Fazwar Bujang menanggapi dingin rencana ArcelorMittal yang tengah menjajaki pembangunan pabrik baja di Banten berkapasitas 3 juta ton.

"Mereka [ArcelorMittal] sudah berencana investasi sejak 10 tahun lalu. Realisasikan saja rencana itu dan nggak perlu ada persyaratan, misalnya, joint venture. Sebab, kami sudah punya master plan sendiri dan tidak bisa diubah begitu saja," paparnya kemarin.

Fazwar mengungkapkan manajemen ArcelorMittal sering meminta bertemu dengan manajemen KS, tetapi selalu ditolak. "Harapannya jangan dipaksakan untuk joint wntiire dengan dia karena itu tidak menguntungkan KS. Apabila ArcelorMittal masuk lagi, justru semua aksi korporasi KS yang sudah direncanakan dalam master plan akan terganggu, termasuk proses IPO [penawaran saham perdana]."

Menurut dia, joint venture KS dengan ArcelorMittal akan sangat menguntungkan perusahaan asing tersebut mengingat fasilitas produksi yang dimiliki KS cukup lengkap.

"Mereka [ArcelorMittal] sebaiknya jangan menggantungkan pada fasilitas yang dimiliki KS," ujarnya.

Saat ditanya apakah investasi ArcelorMittal akan mengancam pasar KS, Fazwar menjelaskan pasar baja nasional saat ini tumbuh rerata 9% per tahun. Dengan kondisi itu, industri baja membutuhkan investasi baru yang cukup besar.

Jika investasi dan ekspansi baru tidak segera masuk, kondisi tersebut dapat menyebabkan pasar baja nasional terus mengalami defisit.

Berdasarkan catatan Departemen Perindustrian, produksi baja nasional saat ini hanya 4 juta - 4,5 juta ton, sedangkan konsumsi pada tahun ini berpotensi menembus 7 juta ton. "Jadi, [investasi baru ArcelorMittal] bukan ancaman. Justru investasi mereka akan memacu kompetisi yang lebih sehat. Mungkin kami bisa saling melengkapi," ujarnya.

Menurut dia, jika serius direalisasikan, pembangunan pabrik baja ArcelorMittal membutuhkan waktu empat tahun untuk bisa beroperasi.

(Sumber: Bisnis Indonesia)

 Dilihat : 3248 kali