23 Juli 2008
Mittal Garap Pabrik Baja Terintegrasi Senilai US$800 Juta

JAKARTA: Setelah gagal mengakuisisi saham PT Krakatau Steel melalui kerja sama strategic partner, pengusaha baja asal Inggris Lakhsmi Mittal akan membangun pabrik pengolahan baja baru (greenfield) yang terintegrasi.

Pembangunan pabrik baja terintegrasi ArcelorMittal tersebut diperkirakan akan menelan dana hingga US$800 juta. Kalkulasi working capital sebesar itu didasarkan pada asumsi biaya investasi pabrik steel making milik KS yang membangun tin slab free mill (pengolahan baja lembaran) sekitar US$500 juta.

Pejabat pemerintah yang menangani sektor industri baja mengungkapkan bahwa Mittal positif membangun pabrik baja terintegrasi yang meliputi iron making (hulu/upstream) dan steel making (sektor antara/intermediate) total investasi diperkirakan akan mencapai sekitar US$600 juta-US$800 juta.

Biaya investasi tersebut kemungkinan bahkan bisa membengkak hingga US$1 miliar jika perseroan juga membangun beberapa unit pembangkit listrik berkapasitas 400 megawatt (MW) sebagai pemasok energi. Pembangunan pembangkit listrik swadaya merupakan syarat mutlak, seiring dengan terjadinya defisit daya listrik di dalam negeri.

Kendati rencana tersebut masih simpang siur, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) belum lama ini memberikan sinyal positif bahwa ArcelorMittal--perusahaan milik Lakhsmi Mittal--berniat membangun pabrik baja (steel making) di Pasuruan, Jawa Timur, dan Banten.

"Memang sudah ada rencana, tapi belum resmi mengajukan izin investasi," kata Kepala BKPM MuhammadLutfi seusai rapat dengan Komisi VI DPR, (14 Juli 2008).

Direktur Industri Logam Departemen Perindustrian I Putu Suryawirawan mengungkapkan pemerintah telah bertemu dengan manajemen ArcelorMittal dan utusan Kadin Indonesia bidang British Committee Maxi Gunawan di Depperin, kemarin.

"Di dalam pertemuan itu, Mittal hanya meminta restu pemerintah terkait dengan komitmennya membangun pabrik baja terintegrasi di Indonesia. Kalau soal nilai investasi ataupun kepastian lahan pabrik baru tersebut belum dibicarakan secara mendalam," kata Putu saat dikonfirmasi.

Dirjen Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka Departemen Perindustrian Ansari Bukhari mengatakan perusahaan baja sekelas Mittal tidak akan berinvestasi hanya di sektor hulu atau hilir baja. Kecenderungan perusahaan baja dunia biasanya akan membangun perusahaan terintegrasi.

Jika Mittal hanya membangun pabrik steel making atau iron making, sambungnya, struktur industrinya tidak akan kuat, apalagi, karakter investor seperti Mittal tidak akan bekerja setengah-setengah.  "Secara teori, agar pabrik baja bekerja efisien, tentu harus ada pengintegrasian dari hulu ke hilir."

Beri insentif

Dia menuturkan pemerintah menjamin akan membuka ruang seluas-luasnya bagi kalangan investor asing yang akan mendirikan pabrik pengolahan baja di dalam negeri. Sebab, investasi baja tidak masuk dalam daftar sebagai negatif investasi (DNI).

"Bahkan, pemerintah akan memberikan insentif pajak bagi investor yang akan membangun pabrik baja terintegrasi, karena industri baja resmi masuk sebagai salah satu industri yang diprioritaskan mendapatkan diskon pajak sesuai dengan Revisi PP No. 1/2007."
 
(Sumber: Bisnis Indonesia)

 Dilihat : 2772 kali