18 Juli 2008
Kuartal IV, Momentum IPO Krakatau Steel

JAKARTA - Kuartal IV-2008 atau Januari 2009 adalah momentum yang tepat untuk penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham PT Krakatau Steel (PT KS). Porsi saham KS yang dilepas kepada publik idealnya 30-35%.

Investor bakal merespons saham produsen baja pelat merah tersebut karena kondisi pasar modal saat itu diperkirakan sudah pulih seiring membaiknya perekonomian global.

Demikian salah satu benang merah dalam diskusi Dialog Pelaku Pasar Modal terhadap Rencana IPO PT Krakatau Steel di Jakarta, Kamis (17/7). Hadir selaku pembicara dalam diskusi itu pengamat pasar modal Dandossi Matram, Pemimpin Redaksi Investor Daily Primus Dorimulu, dan anggota Komisi VI DPR Didik J Rachbini.

Menurut Dandossi Matram, PT KS masih punya waktu yang cukup untuk go public pada kuartal IV-2008 atau Januari 2009. "KS mestinya bisa mengantungi pernyataan efektif dari Bapepam-LK pada pertengahan Agustus," tuturnya.

Waktu paling tepat bagi IPO PT KS, kata Dandossi, adalah kuartal IV-2008 atau Januari 2009. Soalnya, pada September atau Oktober 2008, pasar modal mulai bergerak naik. "Sebaliknya, terlalu mendekati ke pemilu (April 2009) juga terlalu berisiko," katanya.

Dia memperkirakan pemulihan pasar modal di dalam negeri lebihbanyak dipicu sentimen positif eksternal, terutama dari bursa global. Itu terjadi akibat meningkatnya kepercayaan masyarakat internasional terhadap pemulihan ekonomi dunia pascapemilihan presiden AS pada 4 November 2008.

"Partai Demokrat di AS hampir pasti menang. Kemenangan Partai Demokrat akan memberikan kepercayaan bahwa ekonomi segera membaik. Selama ini kan Partai Republik selalu mencari perang, sedangkan Partai Demokrat lebih fokus pada ekonomi," paparnya.

Sejalan dengan itu, menurut dia, suku bunga di AS akan turun seiring redanya laju inflasi. Begitu pula harga minyak dan komoditas pertambangan lainnya. "Nah, ini akan direspons pelaku pasar. Saat itulah bursa global, termasuk bursa kita bergerak naik," ucapnya.

Dandossi Matram mengemukakan, KS yang tahun ini ditargetkan membukukan laba bersih Rp 1 triliun lebih bisa melepas 30-35% saham kepada publik guna meraup dana Rp 4-5 triliun dengan asumsi kapitalisasi pasarnya sekitar Rp 14 triliun.

"Price earning ratio (PER) PT KS berkisar 13-14 kali. Rata-rata PER industri baja global kan 14-15 kali. Potensi kenaikan harga sahamnya masih tinggi, apalagi konsumsi dan harga komoditas teru6 meningkat," paparnya.

Menurut dia, semakin banyak saham KS yang dilepas akan semakin baik karena sahamnya kelak lebih likuid. Namun, saham KS yang dilepas ke publik sebaiknya tidak sampai melebihi 35%.

"Kalau terlalu sedikit, pasar nggak akan merespons. Tapi kalau terlalu banyak, pemerintah akan kesulitan rights issue karena harus mempertahankan kepemilikan mayoritas," ujarnya.

Masa Depan KS

Menurut Primus Dorimulu, baja adalah industri strategis yang bukan saja penting bagi kemajuan ekonomi, tapi juga pertahanan nasional. "Itu sebabnya, pemerintah harus tetap menjadi pemegang saham mayoritas PT KS guna menjaga kepentingan nasional," katanya.

Dia menjelaskan, untuk ekspansi usaha, PT KS bisa memperoleh dana dari perbankan dan pasar modal, baik melalui penerbitan obligasi maupun saham dibandingkan metode penjualan strategis (strategic sales) yang kurang transparan dan bisa berisiko ditelikung. Dengan demikian, IPO jauh lebih baik daripada penjualan strategis. "Usai IPO, PT KS bisa rights issue bila butuh dana," ucapnya.

Primus mengemukakan, kabar tentang rencana privatisasi PT KS melalui strategic sales guna memuluskan jalan masuk Lakshmi Nivas Mittal, mencuatkan kembali sejarah panjang PT KS. "Rakyat Indonesia tidak rela mayoritas saham KS jatuh ke tangan asing. Keputusan pemerintah memprivatisasi PT KS melalui IPO sudah tepat," ujarnya.

Dari rekam jejaknya, menurut dia, Mittal tak pernah membawa dana besar ke suatu negara. Orang terkaya nomor empat dunia versi majalah Forbes dengan total kekayaan US$ 45 miliar itu awalnya masuk dengan membeli 5-10% saham BUMN lewat strategic sales.

"Selanjutnya dia meminjam dana dari bank lokal untuk mendanai pembelian rights issue memanfaatkan pre-emptive right hingga mencapai mayoritas. Jadi, utang dibayar perusahaan yang diambil alih," katanya.

Primus menegaskan, masa depan KS sepenuhnya ditentukan pemerintah. Jika pemerintah punya visi ekonomi dan pertahanan yang baik, industri baja akan menjadi prioritas. "Kita tetap mengharapkan Mittal menanamkan dananya di Indonesia, tapi KS tidak perlu diganggu dengan strategic sales," paparnya.

Didik Rachbini mengungkapkan, parlemen kemungkinan tidak memberikan izin privatisasi KS dan sejumlah BUMN lainnya tahun ini. "Mulai 18 Juli kan DPR reses sampai pidato presiden di parlemen pada 17 Agustus. Jadi, sampai Desember, DPR akan fokus pada masalah anggaran," paparnya.

Dia mengakui, tahun depan, izin privatisasi juga sulit diberikan karena sudah terlalu mendekati pelaksanaan Pemilu 2009. Mengenai wacana agar pemda dilibatkan sebagai investor dalam penjualan saham PT KS, Didik berujar, "Sebaiknya tidak. Pemda sudah banyak persoalan dan itu akan bertabrakan dengan karakter birokrasi."

(Sumber: Investor Daily Indonesia)

 Dilihat : 3083 kali