17 Juli 2008
7 Sektor Industri Dikecualikan dari Ketentuan

JAKARTA - Tujuh sektor industri manufaktur akan dikecualikan dari pengaturan jam kerja industri yang diatur dalam surat keputusan bersama (SKB) lima menteri. Ketujuh sektor itu beroperasi penuh selama 24 jam per hari, sehingga tidak perlu menggeser jam kerja.

Ketujuh sektor manufaktur itu antara lain industri petrokimia, baja (hot rolled coils/HRC), tekstil hulu (serat sintetis), semen, pupuk, pengolahan aluminium, dan keramik. Selain itu, pemadaman listrik akan mudah mengakibatkan rusaknya mesin produksi di ketujuh sektor industri tersebut. "Kelompok industri tersebut tidak dikenakan (pergeseran jam kerja). Karena itu, pemerintah berusaha agar seluruh sektor yang beroperasi selama 24 jam dapat tetap beroperasi," kata Dirjen Industri Logam, Mesin, Tekstil, dan Aneka Departemen Perindustrian (Depperin) Arisan Bukhari di Jakarta, Rabu (16/7).

Pengecualian untuk industri yang beroperasi penuh selama 24 jam sehari dalam satu minggu merupakan salah satu butir yang disepakati SKB pengaturan jam kerja tentang Pengoptimalan Beban Listrik Melalui Pengalihan Waktu Kerja pada Sektor Industri di Jawa - Bali pada Pasal 4.

Peraturan bersama itu telah ditandatangani Menteri Perindustrian Fahmi Idris, Menteri Dalam Negeri Mardiyanto, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro, Menteri BUMN Sofyan Djalil, dan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Suparno pada 14 Juli lalu.

Secara terpisah, Dirut PT Krakatau Steel (KS) Fazwar Bujang menjelaskan, industri baja khususnya di sektor hulu harus beroperasi selama 24 jam penuh dan hanya berhenti satu tahun sekali saat perbaikan (overhaul). Kendati demikian, kondisi overhaul tidak memengaruhi pasokan listrik,karena telah diatur sesuai prosedur standar operasi. "Di industri baja, tidak ada yang harus disesuaikan. Industri baja ini adalah sektor usaha yang pasokan listriknya tidak boleh sedetik pun mati. Justru apabila pasokan listrik PLN dihentikan, pengoperasian pada saat beban puncak akan mengganggu operasional pabrik," katanya.

(Sumber: Investor Daily Indonesia)

 Dilihat : 3096 kali