17 Juli 2008
KS Targetkan Dana IPO Hingga Rp 5 Triliun

Jakarta - Direktur Utama PT Krakatau Steel (KS) Fazwar Bujang mengungkapkan target perolehan dana dari hasil penawaran saham perdana (IPO/Initial Public Offering) KS berkisar antara Rp 4 triliun hingga Rp 5 triliun. "Kita target nilai IPO setinggi mungkin. Sekitar Rp4-5 triliun. Tetapi sahamnya jangan besar-besar," kata Fazwar Bujang, di Jakarta, Rabu.

Menurut Fazwar Bujang, target perolehan IPO harus setinggi mungkin. Sebaliknya dalam hal nilai saham, bila memungkinkan prosentasenya harus serendah mungkin.

Namun berapa pastinya besaran persentase saham yang akan dilepas ke pasar, Fazwar mengaku tidak bisa banyak berkomentar karena persentase dan nilai akhir yang akan dicapai dalam IPO berkaitan dengan penilaian penjamin emisi. "Saya tidak bisa katakan berapa persentase dan nilai akhirnya karena itu juga terkait dengan bagaimana underwritter tersebut telah menilai dengan wajar," demikian Fazwar Bujang. Hanya saja, sebelumnya, DPR telah memberi sinyal KS akan melepas hingga 40 % saham.

Sementara itu, terkait hasil roadshow KS beberapa waktu lalu ke Singapura dan Hongkong untuk melakukan lawatan nondeal dengan investor di kedua negara itu, Fazwar mengatakan, dari roadsliow ke dua negara tersebut, calon investor yang berminat nyaris berimbang antara Singapura maupun Hongkong dan merupakan kombinasi antara institusi dan retail.

Menanggapi isu penjatahan untuk investor lokal, Fazwar menilai bahwa KS akan membuka diri terhadap semua investor baik dari dalam maupun luar negeri. "Pokoknya KS terima investor asing dan dalam negeri. Apalagi selama ini tidak bisa dipungkiri bahwa investor asing juga cukup mendominasi pasar kapital kita," katanya.

Sedangkan untuk alokasi atau penjatahan pihaknya masih menunggu keputusan penjamin emasi yang dalam waktu dekat akan ditetapkan. "Kita lihat dulu keseimbangannya yang optimal," katanya.

Menurut Fazwar, bagi KS yang terpenting pada akhirnya adalah saham KS harus likuid tidak perlu dibahas dan dipermasalahkan secara rinci dimiliki oleh investor loka) maupun asing. Jika saham tidak likuid, katanya, dikhawatirkan nilai saham akan mudah jatuh.

Sementara terkait pilihan penjamin emisi atau underwriting, KS menargetkan penjamin emisi selesai ditunjuk pada Agustus 2008. "Awal Agustus 2008 baru akan kita ketahui siapa penjamin emisi IPO KS," kata Fazwar Bujang. Ia mengatakan penjamin emisi IPO KS itulah yang nantinya akan menentukan persentase saham yang dilepas ke pasar termasuk nilai dana hasil IPO. Manajemen sendiri tidak menetapkan kriteria penjamin emisi termasuk apakah dari perusahaan BUMN ataukah perusahaan swasta. "Kalau kami tergantung seleksi akhirnya saja. Underwritter dari BUMN kan sudah biasa, kalau dari swasta kan mereka selama ini menunjukkan kemampuannya," katanya.

Saat ini, sejumlah perusahaan yang berminat menjadi underwritter PT KS sedang menjalani tahap seleksi "beauty contest" sebelum disusun surat keputusan resminya. "Kami baru akan menyusun SK-nya. Setelah ada SK baru akan kami susun aturan mainnya," katanya. Aturan main itulah yang akan menjadi dasar penilaian mengenai tahap "beauty contest" yang kemudian akan diserahkan kepada pemerintah.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Negara BUMN, Sofyan Djalil mengatakan, IPO KS diharapkan terlaksana tahun ini. Hingga kini perizinan IPO KS masih terus dalam proses dan menunggu persetujuan resmi dari DPR RI. "Semula kita harapkan persetujuan didapat sebelum masa reses DPR berakhir tetapi kelihatannya reses tinggal beberapa hari lagi jadi kita harapkan awal musim sidang depan bisa selesai," katanya.

Menteri menegaskan, pada dasarnya sudah tidak ada persoalan lagi bagi IPO KS tetapi DPR RI perlu mempertimbangkan segala aspek dalam kaitannya dengan pelaksanaan penawaran saham perdana. "Kalau saya lebih ke arah aspek ekonomi saja sedangkan kalau DPR kan harus mengkaji dari segala segi termasuk aspek politiknya," ujar Sofyan Djalil.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VII, Andi Punoko menargetkan perusahaannya dapat menjaring dana hasil penawaran saham perdana (IPO) sebesar Rpl,2 triliun - Rpl,5 triliun. Ia mengatakan, jumlah itu berarti saham yang dilepas ke publik sebesar 30 persen. "Sebenarnya kami membutuhkan dana sekitar Rp2 triliun untuk pengembangan lahan," katanya.

Dengan demikian kekurangan sebesar sekitar Rp500 miliar diupayakan melalui jalan lain. "Sebulan lalu sudah kami terbitkan obligasi Rp300 miliar dan nanti sisanya berasal dari penerbitan MTN (Medium Term Notes) atau melalui pinjaman bankRp500 miliar," katanya.

Menurut rencana, pihaknya akan membangun usaha untuk menambah luas lahan sekitar 10.000-15.000 ha. Untuk saat ini PTPN VII telah memiliki lahan seluas 20.000 dan sebanyak 6.000 ha di antaranya telah ditanami. Manajemen berencana untuk menambah areal yang akan ditanami lagi seluas 14.000 ha mulai tahun ini hingga 2009 mendatang. "Sedangkan lainnya untuk replantasi dan diverifikasi usaha," katanya. Ia mengatakan, PTPN VII dalam waktu dekat juga berencana untuk membangun kawasan industri terpadu yang nantinya akan sekaligus memanfaatkan produk-produk hilir di antaranya menggunakan biodiesel.

Manajemen menargetkan pelaksanaan IPO pada akhir 2008 tergantung kesiapan perusahaan dan kesiapan pasar termasuk persetujuan dari DPR RI. "Untuk 1 sampai 2 bulan ke depan advisor kita harapkan sudah ditunjuk," katanya.

Sementara itu, Sofyan Djalil mengatakan, IPO bagi PTPN VII telah dipersiapkan dengan baik. Menurut dia, secara internal pihaknya telah mempersiapkan IPO PTPN VII sejak beberapa waktu lalu sehingga begitu dapat persetujuan dari DPR RI dan kondisi pasar mendukung akan segera di-go public-kan. "Tapi kalau pasar kurang bagus ya terpaksa kita tunda meski sudah mendapat persetujuan DPR RI," katanya.

Menteri berharap PTPN mampu meraup dana maksimal saat IPO agar bisa meng-ekspansi usahanya secara optimal. "Kita juga ingin PTPN bisa cepat hingga mampu merebut lebih banyak dalam pasar yang kompetitif," katanya.

(Sumber: Harian Ekonomi Neraca)

 Dilihat : 2821 kali