15 Juli 2008
Industri Baja Terancam Kekurangan Bahan Baku

JAKARTA - Industri baja nasional terancam kekurangan pasokan bahan baku menyusul terus meningkatnya konsumsi domestik seiring dengan diteruskan nya proyek-proyek pembangunan infrastruktur.

Seiring dengan itu, lonjakan harga baja di pasar internasional kian menyulitkan produsen domestik yang masih mengandalkan bahan baku impor.

Total impor bahan baku baja, berupa bijih besi (bahan mentah) sampai produk baja intermediate yakni baja canai panas (hot rolled coils/HRC), selama ini mencapai 4 juta ton pertahun. Dengan kondisi itu, kalangan industri hilir baja akan mengalkulasi ulang harga jual pada pertengahan kuartal III tahun ini.

Berdasarkan data Midle East Steel, lembaga riset khusus tentang baja, harga baja canai panas HRC di pasar internasional sejak Januari-Juli 2008 melonjak 57,5% dari US$ 730/ton menjadi USS 1.150/ton. Bahkan, di Eropa Barat, harga pelat timah (tinplate) telah menembus rekor tertinggi dengan lonjakan 45,4% dari US$ 1.100/ton pada Januari 2008 menjadi USS 1.600/ton pada Juli.

Ketua Gabungan Asosiasi Industri Pengerjaan Mesin dan Logam Indonesia (Gamma) Ahmad Safiun menjelaskan, defisit baja di pasar domestik akan terus terjadi karena produksi tidak bisa mengimbangi peningkatan konsumsi yang diperkirakan tahun ini mencapai 7 juta ton. "Meski KS (PT Krakatau Steel) beroperasi optimal pada semester pertama tahun ini, secara total produksi baja nasional hanya mencapai 4 juta ton pada tahun ini. Jumlahitu tidak mencukupi konsumsi domestik," paparnya di Jakarta, Senin (14/7).

Selama ini, lanjut dia, produsen hilir baja domestik antara lain industri pipa baja, seng (baja lapis seng/BjLS), kawat, paku, besi beton, dan pelat timah masih menggantungkan bahan baku berupa HRC dari impor serta pasokan KS. Persentase pasokan bahan baku itu rata-rata 50% dari PT KS (BUMN lokal) dan sisanya diimpor.

Akibat pergerakan harga baja dunia yang belum kunjung menurun. Direktur Pemasaran KS Irvan Kamal menjelaskan, KS menaikkan harga jual hingga 10% pada akhir Juni 2008, lebih cepat dibandingkan rencana semula yakni Agustus 2008. "Kami terus memantau perkembangan harga baja dunia," ujarnya.

Menurut dia, realisasi kenaikan harga jual HRC dari KS itu lebih disebabkan tekanan lonjakan harga minyak mentah dunia yang memicu kenaikan ongkos produksi dan peningkatan biaya transportasi. Di pasar lokal, harga HRC diperdagangkan pada kisaran Rp 11.700 per kg sebelum pajak.

Industri Hilir Kesulitan

Ketua Gabungan Produsen Seng Seluruh Indonesia (Gapsi) Agus Salim menilai, saat ini produsen BjLS nasional sudah menurunkan produksi hingga 50%. Kenaikan harga bahan baku baja dan penurunan permintaan menjadi pemicu penurunan itu.

"Kalau Krakatau Steel (KS) menaikkan harga jual, ini jelas menyulitkan kami karena permintaan seng sedang lesu akibat kenaikan harga BBM. Kondisi sekarang serba sulit," kata Agus.

Lonjakan harga HRC juga membuat kalangan produsen pipa baja mengalkulasi ulang harga jual untuk menyelamatkan neraca keuangan perusahaan.

Wakil Ketua Umum Gabungan Produsen Pipa Baja Indonesia (Gapipa) Untung Yusuf menilai, harga pipa baja di pasar lokal diperkirakan menembus level tertinggi yakni US$ 1.600 per ton, atau melonjak 60% dibandingkan posisi awal 2008 yang masih sekitar USS 1.000 per ton.

"Industri pipa baja nasional saat ini terhambat kenaikan harga bahan baku berupa HRC yang telah melonjak 70% sejak awal tahun. Selain itu, ketersediaan HRC di pasar internasional semakin terbatas seiring dengan peningkatan konsumsi dunia," ujar Untung.

(Sumber: Investor Daily Indonesia)

 Dilihat : 4170 kali