04 Juli 2008
Delapan BUMN Memaparkan Kinerja ke 100 Institusi Global

JAKARTA. Hari ini, Jumat (4/7), program roadshow Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ke Singapura dan Hong Kong berakhir. Program yang telah berlangsung sejak Selasa (1/7) lalu itu cukup mendapat respon positif dari para investor institusi asing.

Menurut Marciano Herman, Direktur Investment Banking Danareksa Sekuritas yang mengikuti roadshow tersebut, ada sekitar 100 investor institusi asing yang mengikuti presentasi Kementerian BUMN. "Sambutan mereka sangat baik," terangnya kepada KONTAN lewat telepon genggamnya, kemarin (3/6).

Dalam kesempatan tersebut, delapan perusahaan BUMN peserta roadshow mendapatkan kesempatan untuk memaparkan kinerja serta strategi bisnis mereka. Di antara para BUMN itu ada tiga perusahaan publik, yaitu PT Jasa Marga Tbk (JSMR), PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).

Sisanya adalah perusahaan BUMN yang berniat menggelar penawaran saham ke publik atau initial public offering (IPO) seperti PT Krakatau Steel, PT Bank Tabungan Negara (BTN), serta PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IH, PTPN IV, dan PTPN VII. "Mereka juga memaparkan besaran investasi yang mereka butuhkan secara garis besar," tambah Marciano.

Namun, para perusahaan BUMN tidak merinci sumber dana yang mereka cari untuk menutup dana investasi tersebut. Sebab, menurut Marciano, dalam roadshow kali ini, rombongan Kementerian BUMN tidak ingin menjaring dana dari para investor. "Melainkan, untuk memperkenalkan portofolio BUMN Indonesia ke investor global," katanya.

Namun menurut Marciano, selanjutnya, para BUMN itu mungkin saja akan mencari dana dari para investor tersetut. "Dalam kunjungan selanjutnya baru akan ada transaksi," imbuhnya. "Cuma, jadwal roadshow berikutnya belum pasti. Kementrian BUMN masih mencermati kondisi pasar keuangan".

Meski sambutan investor institusi asing cukup positif, Marciano mengakui, para investor tersebut memiliki beberapa kekhawatiran. Salah satunya tentang pengaruh inllasi terhadap perusahaan di Indonesia. Selain itu, mereka juga mempertanyakan pengaruh krisis kredit sub-prime di Amerika Serikat terhadap Instrumen pasar modal di dalam negeri.

(Sumber: Harian Kontan)

 Dilihat : 3645 kali