19 Oktober 2007
Tambang Bijih Besi Sangat Menjanjikan

Bisnis pertambangan belakangan ini makin menarik minat investor. Tak heran bila sejumlah perusahaan kakap (termasuk emiten) ramai-ramai mengalihkan usahanya ke Sektor ini. Batubara memang menjadi bidikan mereka. Maklum, bisnis ini cukup menggiurkan. Selain harganya di pasar internasional sangat menjanjikan, sumber dayanya pun melimpah ruah.

Mardiyanto Hoesodo, yang dikenal sebagai salah satu raja lelang properti di Tanah Air, tak menyia-nyiakan peluang emas di sektor pertambangan. Setelah sukses memimpin perusahaan lelang PTTriagung Lumintu, ketua umum Himpunan Balai Lelang Indonesia (Himbali) ini terjun total dalam bisnis pertambangan mulai dari batubara hingga bijih besi. Berikut petikan wawancara wartawan Investor Daily Happy Amanda Amalia dengan Mardiyanto yang juga mantan ketua DPD KNPI-Jawa Tengah.

Apa yang menyebabkan Anda tertarik diversifikasi usaha dari lelang ke tambang?

Awalnya saya pernah melakukan lelang komoditas batubara, saya perhatikan bisnis ini kok menarik. Kemudian saya, coba masuk ke bisnis batubara. Mengapa Anda tidak melanjutkan bisnis ini?

Setelah saya masuk bisnis tambang batubara; lama-lama saya perhatikan ternyata banyak perusahaan yang bergerak di sektor tambang batubara dan sudah secara umum banyak yang melakukan, sehinggasaya memutuskan untuk beralih ke industri baja. Saya melihat adanya peluang yang besar di industri baja yang dapat dijadikan sebagai kekuatan negara Indonesia.
Maksudnya?

Jika diperhatikan, selama ini Indonesia seringkali menjual bahan mentah. Ini sama saja dengan menjual negara. Itu sangat disayangkan, karena dengan menjual bahan mentahnya saja, tidak'ada nilai tambah yang diperoleh Indonesia, apalagi seharusnya itu dapat dijadikan sebagai suatu kekuatan potensi industri di Tahan Air.

Alasan itu yang membuat Anda beralih terjun ke bisnis bahan baku baja?

Saya lihat itu merupakan kebutuhan nasional yang bisa dikatakan belum ada, jadi masih impor terusmenerus. Sedangkan impor merupakan pengha

bisan devisa, kalau bisa rhengurangi devisa, ini akan lebih baik dan paling tidak bisa ikut membantu pembangunan. Karena itu saya tertarik mengolah bahan mentah bijih besi yang kemudian saya olah menjadi baja. Atas dasar itulah saya masuk ke industri itu karena saya nilai sangat prospektif.

Bijih besinya anda peroleh dari mana?

Saya peroleh dari Kalimantan dan saya bangun juga pabriknya di Kalimantan.

Kapan mulai bangun pabrik?

Mudah-mudahan akhir tahun ini sudah bisa dibangun dalam waktu satu tahun, sehingga bisa beroperasi pada 2009. Brandnya Tri Steel yang akan dikerjakan oleh PT Triagung Steel.

Berapa dana yang dibutuhkan untuk membangun pabrik tersebut?

Sekitar Rp 0,5 triliun di atas lahan seluas 1.500 Ha milik sendiri Setelah pabrik dibangun, rencananya bijih besi akan diekspor atau bagaimana?

Ketika pabrik sudah dibangun, harapan saya adalah bijih besi akan tetap berada di situ dan tidak diekspdjr karena sama saja dengan menjual negara. Masak, raw material yang dijual. Rasanya sangat sayang kalau semuanya dijual.

Berapa besar kapasitas btfih besi yang ditampung di dalam pabrik tersebut?

Pabriknya digunakan untuk pengolahan bijih besi menjadi baja dan mampu menampung sekitar 200.000 ton bijih besi per tahun.

Sedangkan perkiraan cadangan bijih besi di Kalimantan diperkirakan bisa untuk membuat 10 pabrik pengolahan bijih besi dengan kapasitas yang sama atau sekitar 20 juta ton.

Bagaimana dengan respons pemda setempat?

Mereka senang dengan adanya proyek ini dan menanggapi secara positif. Saya juga akan mengubah pola untuk mengembangkan industri di sana.
Porsinya akan lebih banyak untuk ekspor atau konsumsi dalam negeri?
Untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri juga masih kurang, sehingga bijih besi tidak perlu diekspor.

Ada rencana ekspansi ke pertambangan lain?

Untuk sementara belum ada, saya biarkan pertambangan bijih besi di Kalimantan berkembang. Namun kaku memang ada yang menarik, boleh juga untuk diperhatikan dan tidak menutup kemungkinan untuk mengembangkan di sana.

Bagaimana dengan kesulitan yang dihadapi di sektor tambang byih besi?

Dari sektor perbankan nasional yang hanya ngomong doang dan tidak memiliki jiwa nasionalisme. Karena itu, banyak investor yang berlaih ke perbankan asing. Ketika seorang investor akan meminjam dana dari bank nasional, mereka minta agar proyek tersebut harus sudah jalan terlebih dahulu.

Sumber : Investor Daily Indonesia, 19 October 2007

 Dilihat : 7818 kali