25 Juni 2008
Minyak Batu Bara Dongkrak Harga Bijih Besi

JAKARTA - Baosteel, produsen besi dan baja terbesar China, mencapai kesepakatan kenaikan harga bijih besi dengan grup perusahaan pertambangan asal Australia, Rio Tinto.

Kenaikan harga bijih besi disebabkan oleh meningkatnya harga minyak dan balu bara yang menjadi bahan Iwkar dalam pengolahan dan pengiriman komoditas ini. Harga bijih besi untuk 2008 disepakati naik hingga 96,5% atau hampir dua kali lipat dari harga 2007.

Seperti disebut dalam situs resmi Kementerian Perdagangan China. Baosteel sepakat membayar kenaikai. harga sebesar 79,88% untuk jenis pilbara blend fines dan yandicoogina fines sehingga harganya menjadi US$1,4466 per metrik ton.

Selanjutnya, Baosteel menyetujui kenaikan harga sebesar 96,5% untuk jenis pilbara blend lump, Kontrak harga ini dimulai 1 April 2008 mencapai US$2.0169 per metrik ton.

Kesepakatan dicapai kedua pihak setelah negosiasi itu setuju mempertahankan mekanisme penentuan harga lama dan pemesanan pasar yang normal. Selain itu, dua pihak juga setuju mempertahankan kerja sama di sektor hulu dan hilir.  "Rio Tinto sangat senang bisa mencapai kesepakatan ini dengan Baosteel, perusahaan baja terkemuka China. Perjanjian itu menunjukkan permintaan masih terus kuat di pasar untuk produk dari anak perusahaan kami, Hamersley," ujar Sam Walsh, Chief Executive Iron Ore Group Rio Tinto, seperti dikutip dalam rilis resmi perusahaan, kemarin.

Harga baru itu, kata Walsh, akan menjadi acuan bagi seluruh kontrak penjualan untuk jangka panjang produk Hamersley Iron untuk periode 2008-2009, termasuk produk jenis pilbara blend.

Baosteel pada awal Februari sempat menekan kontrak kenaikan harga sebesar 65% atas impor bijih besi dari perusahaan tambang Brasil yang merupakan terbesar di dunia Vale do RioDoce.

China mengimpor 1,34 miliar ton bijih besi antara periode 2003 dan 2007 atau sekitar 42% dari total ekspor bijih besi dunia dalam periode lima tahun itu.

Vice President International Affairs ArcelorMittal Ronald Verstappen mengakui industri baja mengalami tekanan berat karena kenaikan harga bahan baku seperti bijih besi dan bahkan berdampak terhadap kenaikan harga scrap (besi bekas). Menurut dia, tren harga bahan baku baja mengalami peningkatan. "Produsen berupaya mempertahankan margin dengan menaikkan harga kepada konsumen," ujarnya beberapa waktu lalu.

Produksi Naik

Walsh menambahkan kenaikan harga tersebut, sejalan dengan rencana perseroan untuk meningkatkan produksi menjadi 320 juta ton pertahun dan 420 juta ton per tahun dari kapasitas semula 200 juta ton pada 2008.

Nippon Steel Corp, produsen baja terbesar kedua dunia, seperti dikutip Bloomberg menerima kenaikan harga yang ditetapkan Rio Tinto, tetapi lonjakan ini akan menekan marjin laba perusahaan.  Sebelumnya Nippon juga sudah mengalami penurunan laba sebesar 41% akibat kenaikan harga dari Vale do Rio Doce, eksportir baja terbesar dunia yang berada di Brasil.

Juru bicara Nippon Steel Hiroshi Nakashima mengatakan pihaknya akan melakukan negosiasi kembali dengan Rio Tinto dan BHP Billiton untuk harga bijih besi.  "Kenaikan harga bijih besi melemahkan posisi perusahaan pengolahan baja di Asiar kata analis UBS Yamaguchi.

Posco, pengolah baja terbesar ketiga di Asia, akan menaikkan harga sejumlah produknya untuk ketiga kalinya tahun ini dipicu kenaikan harga bijih besi dan batu bara.

Perusahaan pengolahan baja, seperti Posco dan Nippon Steel mengantisipasi kenaikan harga bijih besi dengan cara menaikkan biaya pembuatan mobil, kapal, dan manufaktur demi mempertahankan laba.  Dampaknya, harga kontrak bijih besi sudah melonjak 65% tahun ini.

(Sumber: Bisnis Indonesia)

 Dilihat : 4750 kali