25 Juni 2008
Baosteel-Rio Tinto Sepakati Kenaikan Harga Bijih Besi

SHANGHAI - Produsen baja terbesar dari Cina, Baosteel dan perusahaan tambang asal Australia, Rio Tinto sepakat menaikkan harga biji besi hingga nyaris dua kali lipat. "Rio Tinto dan Baosteel hari ini menyepakati harga baru pendistribusian ore besi untuk kontrak yang berlaku sejak 1 April 2008," kata Rio Tinto dalam pernyataan resminya.

Baosteel setuju membeli ore besi dengan kenaikan harga berkisar 80 hingga 97 persen dibandingkan tahun lalu. Harga baru tersebut akan berlaku pada seluruh pendistribusian bijih besi di 2008.

Kesepakatan menaikan harga tersebut menguntungkan kedua belah pihak. Baosteel akan memperoleh kepastian pasokan, yang berarti terkait dengan pengembangan industri baja jangka panjang, baik pengolahan maupun penambangan. "Perusahaan baja di Cina akan mendukung Rio Tinto mengekspansi investasinya dan meningkatkan produksinya untuk memenuhi kebutuhan pasar," tutur Baosteel.

Kesepakatan tersebut menguntungkan Rio Tinto secara signifikan. Pasalnya, bijih besi adalah satu dari tiga produksi tambang perusahaan selain tembaga dan aluminium. Juru bicara Rio Tinto mengatakan, kenaikan harga itu lebih tiggi dari yang ditetapkan Vale, perusahaan tambang terbesar di Brasij,yang menaik-kan harga 65 persen dan 71 persen awal tahun ini.

Baosteel biasanya menyerahkan masalah harga kepada produsen baja negara lain untuk pembelian bijih besi internasional. Dalam beberapa tahun terakhir, harga bijih besi meningkat seiring bertambahnya permintaan pasar terutama di India dan Cina yang tengah giat membangun konstruksi. Kenaikan harga bijih yang terakhir akibat meroketnya harga minyak dunia yang mempengaruhi ongkos produksi dan transportasi.

Tahun lalu Cina mengimpor 383,09 juta ton bijih besi atau naik 17,4 persen dari tahun sebelumnya. Dalam kesempatan yang sama. Rio Tinto menyatakan akan menjual Pilbara Blend Fines atau Yandicoogina Fines kepada Baosteel senilai 144,66 sen dolar AS per dry metric tonne unit.

Sementara itu, perusahaan asal Australia Origin Energy menolak tawaran pengambilalihan saham oleh BG Group senilai 13,8 miliar dolar Australia. Perusahaan asal Inggris tersebut berencana menawarkan pembelian langsung kepada pemegang saham. BG Group merupakan salah satu pedagang aktif gas alam cair (liquedied natural gas/LNG). Di negara asalnya, Inggris, BG Group menduduki peringkat ketiga terbesar sebagai perusahaan penghasil LNG. Tahun ini BG Group aktif bergerilya di Australia.

(Sumber: Republika)

 Dilihat : 3206 kali