25 Juni 2008
Produsen Paku Terpukul Kelangkaan Bahan Baku

JAKARTA. Nasib para produsen baja hilir kian tergencet. Belum sembuh benar luka akibat terjepit kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi sebesar 28,7% akhir Mei lalu, kini produsen paku dan kawat terpukul oleh semakin langkanya bahan baku.

Ketua Umum Ikatan Pabrik Kawat dan Paku Indonesia (Ippaki) Ario N. Setiantoro mengatakan, produsen paku dan kawat kini kekurangan batang kawat alias wire rod sebagai bahan baku paku dan kawat. "Bahan baku kita berkurang 35.000 ton sampai 40.000 ton per bulan," keluhnya, Selasa (24/6).

Ario bilang, kekurangan bahan baku ini terjadi akibat perusahaan-perusahaan besar yang memproduksi wire rod di dalam negeri diduga kuat mengurangi pasokan lokal dan memilih ekspor. Sayang, ia enggan menyebut identitas perusahaan tersebut. "Hampir 60% produksi wire rod diekspor," tegasnya.

Dengan berkurangnya pasokan bahan baku, sejumlah profedusen paku dan kawat mengalami penurunan kapasitas. Ario mencontohkan, PT Surabaya Wire dan PT Sidoarjo Metal memangkas produksinya hingga 60%. Lebih gawat lagi, kata Ario, banyak perusahaan anggota Ippaki yang tutup pabrik. "Kalau sebelumnya ada puluhan perusahaan, kita tinggal empat perusahaan yang eksis," katanya.

Tutupnya pabrik itu memang ironis. Soalnya, menurut data Ippaki, pada kuartal II2008 konsumsi toire rod dalam negeri meningkat 41,7% dari 35.000 ton per bulan menjadi 60.000 ton per bulan. Lonjakan ini terpicu oleh peningkatan proyek-proyek pembangunan infrastruktur dan sektor properti.

Kurangnya pasokan wire md, menyebabkan produsen paku kini lebih mengandalkan wire rod dari PT Krakatau Steel dan PT Master Steel. Sehingga permintaan wire rod dari dua pabrik itupun melonjak, "Ordernya meningkat hingga dua kali lipat sejak dua bulan lalu," kata Irvan Kamal, Direktur Pemasaran Krakatau Steel.

Namun Irvan membantah lebih mementingkan ekspor. Menurutnya, Krakatau justru lebih mementingkan pasokan domestik. Menurut Irvan, Krakatau telah memproduksi wire rod sesuai dengan kapasitas terpasangnya, yakni sebesar 35.000 ton per bulan.

Krisis bahan baku paku dan kawat itulah yang menyebabkan Ippaki ingin segera bertemu petinggi di Departemen Perindustrian (Depperin). Ippaki minta Depperin menurunkan bea masuk wire rod hingga jangka waktu tertentu dan meningkatkan pajak ekspor hingga 50% dari semula 10%.

Direktur Industri Logam Depperin I Putu Suryawirawan mengakui rencana pertemuan dengan Ippaki dan industri hulu baja. "Kami akan bertemu Jumat depan," katanya. Pertemuan akan membahas dua hal, yakni penurunan bea masuk 10% dan menaikkan pajak ekspor.

(Sumber: Harian Kontan)

 Dilihat : 3939 kali