18 Juni 2008
KS Hanya Butuh Rp 3,22 Triliun - Hindari Kepemilikan Asing, IPO Harus Menjadi Pilihan

JAKARTA, KOMPAS - Kebutuhan dana untuk pengembangan industri baja PT Krakatau Steel periode 2008-2011 adalah sebesar Rp 5,258 triliun. Jika kebijakan privatisasi tetap diambil pemerintah, KS sesungguhnya hanya membutuhkan dana atas penjualan saham Rp 3,22 triliun atau sekitar 20 persen dari total asetnya.

Direktur Utama PT Krakatau Steel (KS) Fazwar Bujang memaparkan kebutuhan dana pengembangan KS dalam rapat dengar pendapat dengan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) di Jakarta, Selasa (17/6).

Sejak bergulir rencana privatisasi pada April 2008, pemerintah hingga kini belum memutuskan pilihan mekanisme kepemilikan KS antara kemitraan strategis (strategic partner) dan penawaran perdana di pasar saham (initial public offering/IPO).

Fazwar menjelaskan, selain dari hasil privatisasi, kebutuhan dana juga diambil dari dana operasi sampai tahun 2011 yang diperkirakan mencapai Rp 1,942 triliun dan dana laba perusahaan Rp 95 tralia.

Menurut dia, penjualan strategis perlu mempertimbangkan antara lain masalah pasar. KS sama sekali tak mempunyai ketergantungan dalam menerobos pasar atau menguasai pasar.

"Fasilitas untuk memperoleh perluasan pasar yang ditawarkan (calon investor) bukanlah hal yang diperlukan," kata Fazwar.

Pertimbangan kedua adalah sisi logistik. Saat ini perusahaan baja di dunia memperoleh pasokan bijih besi sebesar 74 persen dari tiga produsen besar. Sisanya dari industri bijih besi kecil.

Ketiga adalah masalah teknologi. Fazwar mengatakan, Teknologi pada saat ini bukanlah hal yang tidak dimungkinkan, kalau kami tidak bermitra strategis. Jangan salah, teknologi bisa dibeli, tetapi persyaratan yang lebih penting adalah apakah sumber daya manusia kami siap merebut teknologi baja ini?"

Dia menilai, KS dengan pengalaman 30 tahun rasanya siap mengikuti dan merebut kemajuan teknologi pengembangan baja. Kemitraan, strategis kebanyakan membidik investasi finansial, bukan investasi teknologi. Jadi, tak ada dasar yang kuat bagi strategic partner.

Pertimbangan keempat adalah sisi keuangan. Kemitraan strategis bukanlah berarti secara otomatis KS bisa memperoleh suntikan dana secara murah. Karenakeuntungan KS membaik, tidaklah terlalu sulit untuk memperoleh pendanaan.

Ganti Manajemen

Soal manajemen, Fazwar menegaskan, "Semua terserah kepada pemegang saham. Kalau manajemen dinilai tidak mampu, ya diganti saja. Jadi, bukan berarti harus menjual perusahaan ini."

Pakar ekonomi keuangan, Budi Ruseno, menilai kinerja keuangan KS tahun 2007 sesungguhnya sangat memprihatinkan. Ilustra-sinya, satu aset yang dimiliki sebesar Rp 11,178 triliun hanya menghasilkan Rp 367,578 miliar. Itu artinya hanya 3,28 persen dari total aset

"Ini harus menjadi sorotan bersama agar KS memiliki produktivitas yang tinggi. Pengembangan usaha sebaiknya ditempuh dengan IPO. Ini merupakan kunci untuk profesionalisme dan keterbukaan good governance," kata Budi.

Ketua DPD Sarwono Kusumaatmadja mengatakan, Indonesia sesungguhnya adalah pasar yang sangat besar. Selalu ada saya kemungkinan niat-niat pemilik modal asing untuk mengambil KS dengan berbagai cara.

"Strategic sales perlu diwaspadai karena untuk siapa sesungguhnya penjualan strategis itu? Jangan-jangan nantinya aset-aset kita Iebih dimanfaatkan oleh asing," kata Sarwono.

(Sumber: Kompas)

 Dilihat : 3288 kali