09 Juni 2008
Penyelamatan Krakatau Steel

KRAKATAU Steel adalah sebuah legenda dalam industri baja Indonesia. Jauh sebelum banyak bermunculan industri baja swasta, pabrik baja Krakatau Steel di Cilegon sudah dengan gagah berdiri. Meski demikian, keberadaannya sebagai pionir tampaknya membuatnya gagap pada saat harus bersaing dengan banyak industri baja di dunia.

Saya mendengar banyak perusahaan baja di Asia yang lahir sesudah Krakatau Steel ternyata berkembang pesat melampaui seniornya tersebut. Oleh karena itu, patut dipahami keinginan pemerintah untuk melakukan perubahan besar di BUMN industri baja tersebut.

Sebagaimana diketahui, upaya perubahan yang ingin dilakukan pemerintah adalah untuk mendorong Krakatau Steel mampu melakukan ekspansi sehingga bisa bersaing dengan industri serupa di seluruh dunia. Ini jelas bukan suatu tugas yang ringan.

Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah tujuan tersebut harus dil akukan dengan melepaskan kepemilikan pemerintah kepada investor strategis, atau masih ada opsi yang justru lebih menguntungkan bagi perusahaan tersebut baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Perlunya Ekspansi Usaha

PT Krakatau Steel adalah perusahaan baja yang produk utamanya adalah pelat-pelat baja yang diproduksi melalui proses lembaran panas dan besi beton. Produk tersebut sangat penting untuk berbagai keperluan, seperti untuk galangan kapal,industri automotif, pekerjaan konstruksi.

Melihat perkembangan serta prospek perekonomian Indonesia, maka permintaan terhadap produk baja tersebut akan terus meningkat pada tahun-tahun mendatang.

Dewasa ini kapasitas produksi dari PT Krakatau Steel mencapai 2,5 juta ton. Meskipun banyak industri baja swasta bermunculan selain produknya yang berbeda. maka Krakatau Steel masih tetap yang terbesar di Indonesia. Namun dengan melihat permintaan dalam beberapa tahun terakhir, urgensi bagi dilakukannya ekspansi dari Krakatau Steel menjadi semakin tinggi.

Yang menjadi permasalahan, dalam keadaan APBN yang sedemikian ketat, pemerintah merasa tidak memiliki kemampuan untuk membantu pembiayaan investasi bagi ekspansi tersebut.

Berdasarkan informasi yang tersedia dalam website mereka, tampaknya PT Krakatau Steel telah menyiapkan diri untuk menambah kapasitasnya menjadi 5 juta ton, kalau bisa pada 2011. Lalu,bagaimana untuk menyiasati hal tersebut? Jika APBN tidak mampu menyisihkan uang untuk modal berekspansi, pemerintah berpikir bahwa itu adalah hari kiamat.

Oleh karena itu, pemerintah menyodorkan dua opsi penting, yaitu apakah melakukan penjualan saham perdana (initial public offering/IPO) atau mencari mitra strategis. Dalam perdebatan sampai saat ini, muncul dua kelompok yang berbeda pendapat, baik perbedaan tersebut karena faktor objektif maupun yang dipicu adanya interes tertentu.

Belajar dari Jalan Tol

Pembiayaan untuk jalan tol merupakan contoh yang sangat konkret untuk bisa dijadikan sebagai acuan. Pada saat pengembangan jalan tol dilakukan PT Jasa Marga, yang menghubungkan Cikampek dan Padalarang beberapa tahun lalu, maka satu-satunya bank yang berani memberikan pinjaman lebih dari Rpl,5 triliun untuk keperluan tersebut adalah Bank BCA.

Dalam pelaksanaannya, di ciptakan jenis pinjaman baru yang menginduk pada pinjaman dari BCA tersebut. Pinjaman inilah yang dinamakan Contractors Prefinancing, di mana berbagai bank menawarkan pinjaman mereka kepada kontraktor jalan tol tersebut.Pelunasan pinjaman para kontraktor tersebut dilakukan saat mereka memperoleh pembayaran atas prestasi mereka. Pembayaran inilah yang kemudian dilakukan dengan menggunakan sumber dana "masterlopn" dari BCA.

Dewasa ini situasinya sudah sangat berbeda.Berbagai bank besar, baik BUMN maupun swasta, berlomba-lomba memperebutkan pinjaman bagi pengembangan jalan tol baru yang akan dibangun. Umumnya pembiayaan dilakukan dengan pinjaman sindikasi. Itulah sebabnya dalam waktu yang relatif singkat, pembiayaan bagi jalan tol Trans Jawa bisa dikatakan sudah bisa dipenuhi perbankan kita.

Dengan melihat perkembangan tersebut, kebutuhan PT Krakatau Steel dalam membiayai ekspansinya untuk mencapai kapasitas 5 juta ton, bisa saja dibiayai dengan skema tersebut. Jumlah pembiayaan sebesar USD900 juta, atau setara dengan Rp8,5 triliun, akan dapat dipenuhi perbankan Indonesia.

Bahkan kalau melihat keuntungan yang mampu diciptakan dalam tiga tahun ke depan, yaitu 2008-2010 sekitar Rp3 triliun (atau lebih), maka kebutuhan pembiayaannya tinggal Rp5,5 triliun. Jumlah ini dapat dijangkau secara lebih mudah oleh perbankan kita.

Oleh karena itu, menarik untuk melihat rencana PT Krakatau Steel menjual saham perdana atauIPO.Dalam perhitungan PT Krakatau Steel, IPO tersebut jika terlaksana akan menghasilkan uang masuk sekitar Rp2 triliun.

Ini berarti bahwa kebutuhan pembiayaan yang diharapkan perbankan akan menjadi semakin kecil lagi. Sementara itu, pembiayaan melalui IPO tersebut akan mengubah budaya transparansi di perusahaan tersebut, sehingga tingkat "governance" nya pun bisa diharapkan akan meningkat.

Dalam keadaan seperti ini, PT Krakatau Steel bukan tidak mungkin akan menjadi blue chip sebagaimana yang terjadi dengan PT Antam dan PT Telkom.

Policy Mix

PT Krakatau Steel adalah perusahaan baja milik negara satu-satunya di Indonesia. Saat ini BUMN tersebut bersanding dengan beberapa perusahaan swasta yang semakin lama semakin kuat. Sementara itu, Indonesia dalam tahap menuju negara yang memiliki kekuatan ekonomi yang semakin lama semakin besar.

Oleh karena itu, banyak perusahaan baja asing yang sangat tertarik masuk Indonesia. Itulah sebabnya PT Krakatau Steel menjadi incaran banyak orang karena perusahaan tersebut sebetulnya sebuah berlian.

Sayangnya, orang lain lebih mampu melihat nilai berlian tersebut dibandingkan dengan kita sendiri. Pemerintah, baik pimpinan tertinggi maupun kementerian negara BUMN, perlu menjaga nilai berlian tersebut, dan kalau mungkin menggosoknya supaya lebih kemilau.

Hal ini bisa kita lakukan daripada melepas berlian tersebut masih dalam bentuk kasar dan kita jual murah kepada pedagang luar negeri.

Apa yang bisa dilakukan pemerintah untuk menggosok berlian tersebut. Opsi IPO dalam hal ini merupakan langkah awal yang penting sekali. Dengan mudah, kita akan langsung bisa melihat reaksi pasar terhadap penjualan saham perusahaan tersebut, dan juga kinerja sahamnya dalam tahun-tahun pertama.

Dengan IPO tersebut, proses transformasi perusahaan sekaligus bisa dilaksanakan. Paradigma perlu berubah dari perusahaan yang tertutup menjadi perusahaan yang lebih terbuka. Dengan demikian, kinerja manajemen juga langsung bisa dimonitor secara lebih baik.

Jika langkah tersebut sudah diambil rencana ekspansi segera bisa dilaksanakan. Opsi pembiayaan dari perbankan, dengan kombinasi pengeluaran obligasi jika diperlukan, akan mampu menyediakan pembiayaan dengan "capital structure" yang baik.

Sementara itu, dari sisi teknologi, suatu kerja sama yang erat bisa saja dilakukan dengan perusahaan yang teknologinya lebih baik. Perusahaan baja dari Korea, Jepang, ataupun Australia merupakan salah satu pilihan yang baik bagi pengembangan teknologi di perusahaan tersebut.

Pada akhirnya, berlian tersebut sungguh perlu kita selamatkan. Kalau tidak, kita bisa menjadi umpat caci anak cucu nantinya.(*)) Rektor ABFIIPerbanas

Sumber : Harian Seputar Indonesia, Page : 1

 Dilihat : 4247 kali