19 Oktober 2007
Investasi Baja Asing Meresahkan

JAKARTA (SINDO). Pemerintah diminta membuat regulasi untuk menghambat serbuan investasi asing di sektor hulu industri baja nasional. Maraknya investasi asing di bidang ini dikhawatirkan mengganggu industri baja domestik akibat berkurangnya pasokan bahanbaku.

"Bila pemerintah tidak melakukan sesuatu, industri baja domestik yang merupakan penanam modal dalam negeri akan mati," kata Ketua Gabungan Asosiasi Produsen Besi dan Baja Seluruh Indonesia (Gapbesi) Daenulhay kepada SINDO, kemarin.

Daenulhay menilai, maraknya investasi asing di industri hulu baja, khususnya dari China, disebabkan ketidaktersediaan pasokan bahan baku baja di negara asal para produsen asing itu. Mereka, kata dia, kemudian hijrah ke Indonesia untuk mengeksploitasi bahan baku bijih besi yang ada. Terlebih, kata dia, Indonesia pun memiliki cadangan batubara sebagai sumber bahan bakar yang melimpah. Daenulhay menambahkan, saat ini tingkat konsumsi baja di China mencapai 450 juta ton per tahun dan tidak seluruhnya dapat dipasok dari dalam negeri.

"Jadi bisa dibayangkan bila serbuan China semakin banyak ke Indonesia. Berapa besar cadangan bijih besi dan billetyang dikeruk mereka?" tuturnya.

Karena itu, Daenulhay meminta pemerintah melakukan pembatasan, antara lain dengan membuat peraturan pemerintah (PP) yang menyatakan bahwa hasil produksi industri baja asing di dalam negeri tidak seluruhnya boleh diekspor. Produksi baja perusahaan-perusahaan itu, lanjut dia, harus lebih diutamakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Selain itu, sambung dia, pemerintah juga dapat menaikkan pungutan ekspor (PE) bagi pelaku industri baja asing. Dengan demikian, sebagian porsi produksi mereka tetap dapat dinikmati pasar negeri. Menurut Daenulhay, jika ini tidak berhasil dilakukan, kalangan industri dalam negeri harus melakukan aliansi dan kerja sama operasional di sektor hulu.

Di tempat terpisah, Dirjen Industri Logam, Mesin,Tekstil, dan Aneka Departemen Perindustrian (Depperin) Ansari Bukhari mengatakan serbuan investasi asing di industri hulu baja, terutama dari China, tidak akan mengganggu pasar baja domestik. Dia menilai, masuknya industri baja asing itu hanya akan mengisi kekurangan kebutuhan dalam negeri. "Mereka itu semuanya masuk ke hulu, di mana selama ini (produknya) kita masih impor," katanya.

Ansari mengatakan, saat ini pelaku industri baja nasional yang memproduksi baja di sektor hulu hanya PT Krakatau Steel (KS). Sementara produksi KS belum dapat memenuhi seluruh kebutuhan dalam negeri. Untuk itu, jelas dia, diharapkan defisit kebutuhan baja dalam negeri justru akan dipenuhi oleh masuknya investasi asing itu.

Ansari menambahkan, adanya investasi baru di sektor hulu baja diharapkan dapat berdampak pada pertumbuhan industri baja nasional sehingga dapat memenuhi konsumsi baja nasional yang diperkirakan meningkat menjadi 10 juta ton per tahun pada 2010. "Kecuali kalau hasil produksinya diangkut semua ke negaranya, itu yang merugikan," cetusnya.

Sumber : Harian Seputar Indonesia, 19 October 2007

 Dilihat : 3002 kali