09 Juni 2008
Pintu Sudah Tertutup, Tuan Mittal

Pemerintah akhirnya meminta Krakatau Steel melakukan penawaran saham perdana. Arcelo Mittal terbiasa menghadapi rintangan.

Bunga tulip merah muda mulai berseri dipeluk udara hangat musim semi di Hamburg, Jerman, akhir Mei lalu. Memasuki sebuah pabrik baja di kawasan Dradenau, hawa suam makin terasa lantaran jilatan api dari arah tungku pembakaran. Namun angin dingin sesekali masih menggigit kulit.

Kilang yang berdiri sejak 1968 itu kepunyaan ArcelorMittal. Meski berukuran mini dan hanya menempati lahan 40 hektare, produksinya-berupa lempeng dan kabel baja-mencapai dua juta ton per tahun. Kay Wiehler, kepala teknisi pabrik tersebut, mengatakan mesin-mesin yang berasal dari banyak negara itu memang tangguh dan terawat.

Di Belgia, tetangga sebelah barat daya Jerman, ada pabrik ArcelorMittal yang lain. Kilang yang terletak di Gent ini lebih modern dan terintegrasi ketimbang di Hamburg. Produksinya meliputi baja galvanisasi, baja canai dingin, lempeng baja, dan lembaran baja tipis yang bisa dibentuk untuk berbagai industri.

Pabrik lain dengan peralatan tak kalah modern ada di Differdange, Luksemburg. Di sini ditempa lempeng baja dan pancang baja ukuran raksasa yang digunakan untuk infrastruktur dan properti. "Freedom Tower di New York, yang menjadi pengganti gedung World Trade Center, menggunakan pancang baja dari sini," ujar Haroon Hassan, juru bicara ArcelorMittal.

Melalui perdebatan sebulan penuh, Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Sofyan Djalil pekan lalu akhirnya memutuskan Krakatau Steel akan melego sahamnya di Bursa Efek Indonesia. Penjualan kepada mitra strategis dalam situasi sekarang, menurut dia, hanya menimbulkan gempa politik. "Dengan demikian, kasus ditutup," ujarnya tegas.

Penawaran saham perdana Krakatau Steel ditargetkan paling lambat akhir tahun ini. Untuk mengakali kondisi pasar yang sedang tak bergairah, Sofyan menganjurkan penjualan sebagian kecil porsi saham terlebih dulu. "Bila kondisi pasar membaik, bisa ditambah lagi," ujarnya. Nantinya, Krakatau Steel akan melepas total 20 persen saham.

Keputusan Menteri Sofyan disambut gembira Direktur Utama Krakatau Steel Fazwar Bujang. Pihaknya menjanjikan, Oktober mendatang, Krakatau sudah bisa melakukan penawaran saham perdana. Ia pun bersyukur lantaran tak jadi ada "bule" bekerja di tempatnya. "Boros mempekerjakan mereka karena untuk satu tenaga ahli asing harus mengeluarkan seribu euro per hari," ujarnya.

Sebagai pemain baja nomor satu di dunia dengan pabrik tersebar di Eropa, Amerika, dan Asia, ArcelorMittal dikenal agresif. Akhir tahun silam, mereka membeli perusahaan Oriental dari Cina untuk mengimbangi pesaingnya, Severstal asal Rusia, yang membeli industri baja kebanggaan Amerika, US Steel.

Bukan cuma mengambil alih pabrik baja di negara lain, mereka juga aktif memburu tambang-tambang yang menyediakan bahan mentah bagi industri itu. Akhir Mei lalu, perusahaan yang menguasai 10 persen pangsa pasar baja dunia itu baru saja membeli 14,9 persen saham Macarthur Coal, perusahaan tambang batu bara asal Australia. Sebelumnya, mereka juga sudah menguasai tambang batu bara dan bijih besi di Liberia, Afrika.

Dengan produksi baja 117,2 juta ton per tahun, kebutuhan mereka akan bijih besi, nikel, mangan, dan batu bara jelas begitu besar. "Saat ini baru 45 persen kebutuhan batu bara dan cuma 16 persen kebutuhan bijih besi yang bisa dipenuhi sendiri," ujar Roland Verstappen, Vice President ArcelorMittal bidang hubungan internasional. Sedangkan harga bahan baku itu, begitu pula besi rongsokan, terus merangkak naik di pasar dunia.

Maka bisa dipahami bila Mittal ingin merambah Indonesia. Negeri ini memiliki pabrik baja yang masih bisa dikembangkan karena potensi pasar domestiknya yang besar. Indonesia juga kaya akan hasil alam berupa bijih besi, nikel, mangan, dan batu bara yang dibutuhkan industri baja.

Di Indonesia, Lakshmi Mittal sesungguhnya sudah memiliki Ispat Indo, yang produksinya 700 ribu ton per tahun-berupa baja profil alias long product yang biasa digunakan untuk pembangunan infrastruktur. Namun kilang baja di pinggiran Surabaya, Jawa Timur, itu sudah mentok karena lahannya cupet, cuma 16,5 hektare. Sebaliknya, Krakatau Steel memiliki tanah 4.000 hektare di lokasi ciamik, dekat dengan laut, yang separuhnya belum terpakai.

Bila bergabung dengan ArcelorMittal, Krakatau Steel sebetulnya bisa meraup keuntungan berupa akses ke pasar modal internasional. Kini perusahaan itu telah terdaftar di sedikitnya tiga bursa kelas dunia. Sehingga Krakatau Steel otomatis akan menjalani back door listing di bursa-bursa tersebut. Ini sebuah pilihan yang jelas lebih menarik ketimbang Bursa Efek Indonesia, yang kapitalisasinya terbatas.

Namun tentu saja perlu diwaspadai rincian kontrak kerja samanya agar Krakatau Steel dan Indonesia tak dirugikan. Pengalaman Arcelor saat melakukan merger dengan Mittal dua tahun lalu mungkin bisa menjadi pelajaran. Sewaktu Mittal meminang Arcelor, seluruh Eropa bergetar. Politikus seantero Eropa gencar menolak lamaran itu.

Toh, Arcelor dan Mittal akhirnya bergabung. Keputusan itu tak disesali Georges Schmitt, Direktur Jenderal Usaha Departemen Pembangunan Ekonomi dan Perdagangan Internasional Luksemburg, yang juga duduk di dewan direksi ArcelorMittal. Mengapa? Ini penjelasannya. Pemerintah Luksemburg awalnya memiliki 20 persen saham di Arcelor, yang nilainya hanya 500 juta euro atau sekitar Rp 7,5 triliun. "Setelah bergabung dengan Mittal, saham kami susut tinggal 2,7 persen, tapi nilainya melambung jadi 2,5 miliar euro alias Rp 37,5 triliun," ujar Schmitt. Keuntungan serupa dinikmati pemegang saham lama Arcelor lainnya.

Seperti saat meminang Arcelor yang penuh rintangan, bukan tak mungkin kini pun Mittal masih berkukuh dengan tawarannya di Indonesia. Gembok yang dipasang Menteri Sofyan Djalil barangkali hanya dianggap halangan biasa bagi pengusaha yang memiliki kemauan keras bak panser Rusia itu.

Nugroho Dewanto (Hamburg, Gent, Differdange), IM. Nafi, Wahyudin Fahmi

Sumber : Tempo Mag - Indonesian, Page : 128 

 Dilihat : 3028 kali