07 Juni 2008
KS pilih IPO daripada Strategic Sales

UPAYA perusahaan baja milik warga India; Lakhsmi Mittal untuk membeli PT Krakatau Steel (PT KS) melalui "Strategic Sales" tampaknya akan kandas. Sebab, upaya tersebut mendapatkan perlawanan dari direksi dan dewan komisaris serta karyawan PT KS. Masyarakat di sekitar lokasi perusahaan baja terbesar di Asia Tenggara ini juga dikabarkan menolak penjualan kepada perusahaan yang disebut-sebut sebagai raja baja itu. Berbagai elemen dan tokoh masyarakat-pun telah menyatakan penolakan penjualan Krakatau Steel, termasuk Syafei Maarif, Hidayat NurWahid, dll.

"Kami pilih IPO. bukan Strategic Sales;" ungkap Taufiqurrahman Ruki, mantan ketua KPK itu yang kini menjabat sebagai Komisaris Utama PTKS dalam sebuah pertemuan dengan para editor media massa di Jakarta, pekan lalu Diakuinya tekanan ke arah "Strategis Sales" sangat kuat termasuk dari beberapa pihak pengambil keputusan. Sejak awal pihak Krakatau Steel (KS) menyatakan banyak pihak yang bersedia menyokong pendanaan untuk sejumlah proyek pengembangan industri baja pertama di Indonesia ini. Pasalnya, KS memiliki performa yang bagus di mata investor.

Sebagai warga Banten (PT KS terletak dr propinsi Banten). Ruki, dengan tegas menyatakan bahwa BUMN ini bisa maju pesat di masa depan karena kinerja perusahaan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan perkembangan positif. Produk Krakatau Steel diterima di mancanegara, membuktikan bahwa kinerja Krakatau Steel bertaraf internasional. Kondisi inilah yang membuat banyak pihak tertarik untuk merangkul KS. bahkan ada sejumlah perusahaan dengan segala cara dilakukannya agar dapat memiliki perusahaan baja terbesar di negeri ini.

Direksi KS menyatakan membutuhkan dukungan dana untuk pengembangan industri baja nasional tersebut. Solusi terkuat, KS.condong menarik dana melalui penawaran saham perdana kepada publik yaitu IPO (Initial Public Offering). Mengenai usulan "Strategic Sales" yang diusung oleh beberapa kalangan itu dinilai tidak pas untuk KS sebab perusahaan ini sedang dalam performa baik dan bukan perusahaan yang sedang kolaps.

Jajaran direksi dan Komisaris KS menolak usulan "strategic sales", namun mengajak melakukan Joint Venture kepada Mittal maupun mitra lainnya untuk membangun pabrik baja di luar Cilegon. Penolakan tersebut mengingat kinerja keuangan KS cukup bagus. Saat ini ketersediaan dana tunai terbilang besar yakni pada Januari 2008 sekitar Rp1 triliun, bahkan di bulan April 2008 naik menjadi Rp1,2 triliun.

Dengan dana tunai sebesar itu,maka kemungkinan perusahaan untuk mendapatkan pinjaman dana segar dari pihak investor ataupun perbankan bisa mencapai Rp11 triliun. Jadi, dengan dana equity tambahan Rp2 Triliun melalui IPO, PT KS dapat berkembang sceara mandiri sesuai dengan pertumbuhan pasar baja domestik.

Sekarang timbul pertanyaan, mengapa PTKS perlu tetap dipertahankan sebagai BUMN dan melepas sahamnya melalui pasar modal? Faktanya, banyak industri baja dunia yang masih mempertahankan status BUMN-nya dan melepas saham melalui pasar modal. Contohnya Bluescope Steel (Australia). US Steel (USA), SAIL (India), Bao Steel (China), Wuhan (China). China Steel (Taiwaa), POSCO (Korea). Nippon Steel (Jepang) .

Kesemuanya tersebut adalah milik pemerintah dengan dikombinasikan dengan saham publik dan tidak pada swasta. Hal tersebut penting dilakukan oleh pemerintah masing-masing mengingat baja adalah komoditas strategis* sehingga selalu diperlukan sebagai kekuatan penyeimbang terhadap produksi baja swasta dalam negeri masing-masing. Di sisi lain, melalui IPO, PT KS berupaya untuk menjalankan amat UU No. 19 tahun 2003 mengenai BUMN, PP 33 mengenai tata laksana privatisasi, dan Kepres No. 121 tahun 1999, yang diamanatkan bahwa privatisasi diutamakan mela-lui mekanisme pasar modal untuk kepemilikan masyarakat luas.

Dengan kemampuan berhutang PT KS saat ini sebesar Rp11 triliun dengan dikombinasikan potensi IPO sebesar 200 juta dolar AS. maka PT KS masih dapat menjalankan proyek senilai 800-900 juta dolar AS dalam rangka meningkatkan kapasitas menjadi 5 juta ton/tahun dengan teknologi berbasis batu bara.

Dengan dana yang ada tersebut maka teknologi pembuatan baja dapat diadakan dan pabrik baru dapat segera dibangun dan hampir seluruh pabrik baja di dunia adalah pembeli teknolgi dari teknologi owner plant builder. Sehingga, dengan dana yang tersedia, teknologi sekaligus didapatkan. Seperti diungkapkan oleh Ruki bahwa Arcelor-Mittal bukanlah pemilik teknologi, posisinya sama dengan PT KS yaitu sebagai operator pabrik baja. Bahkan pabrik Arcelor-Mittal di Luxemburg masih menggunakan teknologi dari abad ke-19.

Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) juga mempertimbangkan untuk memberikan kesempatan perusahaan BUMN lain untuk mengambil alih atau mengakusisi saham Krakatau Steel (KS). Dalam sebuah diskusi, Sekretaris Menteri Negara BUMN Said Didu mengakui opsi ini menjadi wacana karena akan meminimalkan opsi-opsi yang sudah ada baik melalui IPO (penawaran sahamperdana) atau strategic sales (penjualan pada mitra strategis),

Keikutsertaan BUMN membeli saham KS baik melalui IPO atau Strategic Sales maka gejolak pro dan kontra yang muncul seperti sekarang ini bisa diminimalisasi. Said mengaku pihaknya memang belum membahas secara detail pelaksanaan hal ini karena masih membutuhkan kajian yang mendalam. "Jika BUMN yang mengambil alih dan bukannya asing maka gejolak di masyarakat akan bisa diatasi." katanya.

Privatisasi tidak harus dilepas ke pasar atau pada mitra strategis swasta, karena hal ini juga akan mengakomodasi berbagai keberatan dari berbagai pihak yang menyatakan kepemilikan asing di industri strategis akan merugikan kepentingan nasional. Pemerintah sepertinya tidak ingin mengulang kejadian pada privatisasi Indosat dan Semen Gresik, ketika opsi "Strategic Sales yang dilakukan pemerintah ini nyata justru menimbulkan masalah di masyarakat.

Ketua Pusat Studi Hukum dan Pembangunan (PSHP)Ade Komaruddin mendukung ide model pelepasan kepemilikan BUMN dengan cara menggandeng BUMN lain. "Ini seperti memindahkan isi kantong kanan ke kantong kiri. Tetap kuasa ada di negara. Dan penolakan akan lebih kecil," kata Adc. Dalam kajian PS HP, privatisasi yang dilakukan dengan cara IPO akan membuat sebuah BUMN lebih dimiliki oleh banyak orang karena terjadinya penyebaran kepemilikan.

Sumber :  Harian Terbit, Page : 6

 

 Dilihat : 3663 kali