06 Juni 2008
Ada apa di Krakatau Steel?

Menjadi primadona, PT Krakatau Steel (KS) dibicarakan di ruang-ruang strategis negeri ini. Banyak peminat, terutama investor strategis yang datang lewat jalur berbeda. Maklumlah, jalur alternatif dipercaya cenderung lebih cepat dibandingkan dengan jalur resmi.

Privatisasi memang sulit berlari cepat karena prosedurnya tidak memungkinkan. KS memiliki Tim Privatisasi terlama. Dibentuk sekitar 1997, menjelang krisis ekonomi tetapi tidak kunjung mencapai target. Selalu ada tahun depan untuk KS.

Gencarnya peminat yang main nyodok, tidak sabar menunggu proses privatisasi, menimbulkan pertanyaan masih ada apa di KS? Mengapa kita terhenyak dan sibuk membicarakannya ketika ada investor asing yang berminat?

Akuisisi perusahaan dapat terjadi karena adanya potensi pertumbuhan yang tersembunyi. Calon investor mengharapkan keuntungan dari potensi tersebut setelah akuisisi. Akuisisi juga dapat dilakukan dengan tujuan diversifikasi usaha Alasan lain adalah untuk integrasi usaha. Integrasi vertikal untuk mengamankan pasokan bahan baku atau distribusi produk sampai kepada koasumen dan integrasi horizontal untuk memperluas pangsa pasar.

Masih banyak alasan yang dapat digunakan sebagai dasar untuk mengakuisisi sebuah perusahaan. Dari alasan yang rasional sampai yang tidak rasional. Hanya karena alasan gengsi sebuah akuisisi bisa juga dipaksakan untuk terjadi.

Dari media massa kita ketahui bahwa Mittal datang dengan tiga proposed, yaitu membeli saham KS, mengembangkan usaha sendiri atau melakukan usaha patungan dengan KS.

Kedatangan Mittal dengan proposalnya memancing pemain-pemain baja yang lain seperti Tata, Blue Scope, dan Essar untuk mengajukan proposal.

Padahal, dalam sebuah proses akuisisi dan penggabungan usaha seperti ini, proposal awal hanyalah pemicu transaksi. Masih ada proses panjang due diligence atas aspek legal, keuangan, manajemen dan operasional. Setelah itu dilanjutkan dengan negosiasi mengenai bentuk kerja sama.

Apabila proses penjualan dilakukan dengan cara tender para peserta cukup mengajukan harga penawaran untuk bentuk kerja sama yang telah disepakati oleh semua peserta tender dengan perusahaan target atau pemegang sahamnya.

Kita tidak perlu gegabah menilai siapa akan mendapatkan apa di KS, karena pelaksanaan privatisasi perlu ada perencanaan dari pemerintah dan dikonsultasikan dengan DPR. Tidak akan ada transaksi kecuali melewati proses yang sudah dipakemkan.

IPO merupakan pilihan yang mudah bagi semua pemangku kepentingan karena konon harga saham ditentukan oleh pasar sehingga tanggung jawab moral menjadi lebih ringan. Manajemen menjadi lebih tenang, karena biasanya tidak terjadi perubahan manajemen dalam waktu dekat, bahkan mungkin masa jabatannya diperpanjang kalau kinerjanya baik.

Karyawan senang karena ada kemungkinan mendapat bagian dalam Employees Stock Ownership Program (ESOP) sehingga akan menikmati kenaikan harga saham kalau harga saham saat IPO tidak kemahalan.

Masyarakat pemodal akan gembira, apalagi kalau bisa, mendapatkan keuntungan besar pada minggu-minggu pertama. Kalau masyarakat senang, tentu kita asumsikan DPR juga turut senang. Untuk KS? Dana yang dihimpun lewat IPO akan lebih rendah dibandingkan dengan dijual kepada investor strategis.

Apabila kita mengejar dua kelinci sekaligus, kita akan menangkap angin. Jika landasan keputusannya adalah menggunakan harga IPO untuk mendukung besaran premi yang harus dibayar investor sekaligus alasan ini tetap tidak akan cukup kuat menahan tudingan bahwa harga untuk investor strategis kemurahan. Apalagi pada masa-masa di mana semua senang kalau bisa menuding.

Suatu keajaiban bila privatisasi KS dapat terjadi dalam tahun ini dan prestasi luar biasa kalau dilakukan pada 2009. Lebih masuk akal apabila privatisasi baru terjadi pada 2011. Kalau 2010? Ah, kita jangan mengada-ada, beri waktu untuk manajemen bekerja.

Keadaan KS sedikit terungkap dalam website perusahaan tersebut bahwa kapasitas produksi saat ini adalah 2,5 juta ton per tahun, kondisi yang sudah ada sejak 1994. Visi manajemen adalah untuk menjadikan KS pemain baja terkemuka di dunia pada 2020 dengan kapasitas produksi 20 juta ton per tahun.

Sebagai tahapannya adalah peningkatan kapasitas menjadi 8 juta ton per tahun dan tekad menjadi pemain baja yang terpadu pada 2013 dan sebagai pemain baja yang efisien, low cost producer, pada 2008.

KS dengan kapasitas 2,5 juta ton per tahun di tengah pasar domestik yang mengkonsumsi 6-7 juta ton per tahun cukup signifikan dari sisi pangsa pasar. Pengembangan kapasitas terakhir pada 1994 dan diversifikasi usaha di 10 anak perusahaan, menjadikan KS target akuisisi apabila terus beroperasi tanpa pertumbuhan yang signifikan.

Sempat muncul rencana pembangunan pabrik KS2 dengan teknologi terkini guna mendukung efisiensi operasi tetapi semuanya bubar karena ada arahan yang berbeda.

Arahan dadakan mungkin timbul karena rencana awal belum matang disosialisasikan. Perlu ada langkah-langkah penyesuaian antara perencana dan pengarah agar arahan tidak melampaui kemampuan pelaksana.

Jadi, di KS masih ada pabriknya yang sudah ketuaan perlu peremajaan. Silakan manajemen dan karyawan berkarya, kita dukung dan tunggu hasilnya. Kalau berhasil, itu memang sudah tanggung jawab. Tapi kalau gagal? Ah, jangan pesismis dahulu. Selamat bekerja.

Sumber : Bisnis Indonesia, Page : 1 

 Dilihat : 4520 kali