06 Juni 2008
Pilihan cerdas bagi KS

Pemerintah akhirnya bertindak cerdas dalam memutuskan cara pelepasan saham PT Krakatau Steel, yakni melalui mekanisme penawaran perdana kepada masyarakat(IPO). Tentu saja kita patut memberikan penghargaan atas perubahan strategi tersebut, mengingat sebelumnya nyaris tertutup peluang bagi IPO itu.

Dari awal, pemerintah dalam hal ini diwakili oleh Kantor Menneg BUMN yang didukung Departemen Perindustrian dan BKPM cenderung memilih pola penjualan kepada mitra strategis, menyusul keinginan Arcelor Mittal yang getol mengincar sedikitnya 40% saham produsen baja terbesar di Indonesia tersebut.

Sedangkan sebagian anggota masyarakat bersama-sama manajemen Krakatau yang yakin mampu membukukan keuntungan hingga Rp800 miliar tahun ini berargumentasi kuat bahwa penjualan saham BUMN itu kepada Mittal kurang menguntungkan.

Tanpa bermaksud menilai pihak mana yang lebih benar dalam adu argumentasi tersebut, koran ini berpendapat pelepasan saham BUMN ke pasar jelas lebih mendatangkan manfaat ketimbang mudharatnya.

Betapa tidak. Dari berbagai kasus pelepasan saham BUMN kepada mitra strategis, dan secara kebetulan selalu ditempuh menjelang pemilihan umum, seringkali berujung pada kericuhan.

Kita menyaksikan kasus Cemex dan Semen Gresik, Temasek Group dan BUMN telekomunikasi kita (Indosat dan Telkom), serta beberapa di antara hasil penjualan kepada mitra strategis ternyata menimbulkan luka di hati rakyat. Padahal, rakyat dan para pembayar pajaklah pemilik sebenarnya atas berbagai BUMN tadi.

Dengan menjual saham Krakatau Steel di bursa, terbuka kesempatan bagi masyarakat untuk ikut memiliki BUMN yang menjadi salah satu kebanggaan bangsa tersebut. Kalaupun KS nantinya mampu meraup untung lebih besar lagi, setidaknya masyarakat ikut mencicipi langsung manisnya kekayaan mereka tersebut.

Melalui langkah go public pula, manajemen Krakatau Steel akan semakin transparan, mengingat BUMN itu nantinya harus memenuhi lebih ba-nyak lagi kriteria dan persyaratan untuk menjadi perusahaan terbuka.

Selain itu, dengan menjual saham ke pasar, tidak perlu mengundang kerepotan baru seperti perombakan manajemen secara drastis, review rencana bisnis besar-besaran, serta penyemaian benih-benih kepentingan sebagaimana sering terjadi pada kasus masuknya investor strategis di berbagai perusahaan nasional.

Memang ada pendapat di kalangan tertentu yang menyatakan IPO juga tidak menjamin masyarakat dapat serta merta menikmati saham BUMN favorit itu, mengingat mayoritas pemain saham di bursa domestik adalah asing Investor domestik, apalagi yang bermodal cekak dan kelas ketengan, tentu akan kalah berebut.

Pernyataan itu ada benarnya. Tapi, ini seperti mempersoalkan telur dan ayam, mana yang lebih dulu. Dengan semakin terbukanya perhatian serta pemahaman masyarakat terhadap perkembangan bursa saham, lambat tapi pasti aktivitas investasi porto folio akan semakin memasyarakat.

Namun, kalau tidak dimulai dipergencar dari sekarang, ya jangan salahkan asing yang tetap menguasai perdagangan saham di bursa lokal itu. Dengan semakin membaiknya perekonomian nasional kelak, plus makin tingginya kesadaran masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal, dapat dipastikan porsi investor lokal akan semakin membesar.

Hal yang perlu diingat oleh manajemen Krakatau Steel adalah dengan momentum go public ini, mereka akan memperoleh dana murah dalam jumlah tidak kecil. Namun, mereka juga harus mempertanggungjawabkan peningkatan kinerja KS, mengingat tingkat kompetisinya selama ini terhadap perusahaan sejenis dan sekelas relatif rendah.

Jangan sampai argumentasi menolak strategic partner yang ditawarkan pemerintah selama ini justru untuk menghindar agar kelemahan dan ketidakmampuan manajemen untuk mencapai prestasi tinggi tidak terungkap.

Sumber : Bisnis Indonesia, Page : 7

 Dilihat : 3802 kali