06 Juni 2008
IPO BUMN Vs Investment Society

Menapak menuju negara modern Indonesia kini memiliki beragam produk investasi. Masyarakat kini memiliki banyak alternatif untuk mengakumulasi kekayaannya lewat investasi portofolio seperti saham, obligasi, reksa dana , dan produk-produk turunannya. Beragam produk investasi tak hanya menguntungkan masyarakat, tetapi juga korporasi.

Perusahaan yang membutuhkan dana kini tak hanya tergantung pada sumber perbankan semata, tetapi bisa mencarinya lewat pasar modal, baik melalui initial public offering (IPO), rights issue, atau menerbitkan obligasi. Masyarakat juga diuntungkan karena berpeluang mendapatkan return lebih baik di tengah makin kecilnya suku bunga tabungan.

Perkembangan pasar modal, baik dilihat dari jumlah emiten, investor, maupun kapitalisasi pasarnya, dari tahun ke tahun terus meningkat. Pada 2000, jumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai 342, pada 2007 jumlahnya meningkat menjadi 461. Tahun ini, BEI menargetkan 30 emiten baru bakal masuk BEI. Sementara itu, nilai kapitalisasi pasar BEI per 5 Juni 2008 mencapai Rp 1.812 triliun.

Kebangkitan kembali pasar modal di Indonesia mulai dinikmati masyarakat. Banyak pemodal yang mereguk keuntungan besar seiring dengan meroketnya indeks harga saham gabungan (IHSG). Pada 2007 IHSG naik 52,08%, tertinggi ketiga di wilayah Asia Pasifik setelah Shanghai dan Shenzen. Makin ramainya pasar modal membuat korporasi, baik swasta maupun BUMN, berebut menjajakan sahamnya.

Sayangnya, kiprah saham BUMN di pasar modal tidak terlalu bagus. Tak sedikit investor kecewa setelah membeli saham BUMN karena harganya terus menurun. Saham BNI, misalnya, harganya terus merosot dari Rp 2.050 pada saat penawaran umum kedua (secondary public offering) menjadi Rp 1.240 atau terkoreksi 40%. Harga saham sejumlah BUMN juga berada di bawah harga saat IPO, seperti PT Jasa Marga Tbk, PT Wijaya Karya Tbk, dan

PT Semen Gresik Tbk.

Image bahwa saham-saham BUMN tak mampu memberi gain kepada investor tentunya akan menyulitkan program privatisasi BUMN dengan metode IPO. Padahal, dalam waktu dekat ini pemerintah berencana menjual saham PT Krakatau Steel lewat mekanisme IPO.

Turunnya kinerja saham-saham BUMN ini sangat berlawanan dengan cita-cita pemerintah untuk mengubah pola masyarakat dari saving society menjadi investment society. Padahal, saham-saham BUMN mustinya menjadi trigger bagi investor pemula agar mereka makin mengerti tentang investasi.

Sementara itu, perusahaan sekuritas BUMN yang seharusnya menjadi driver dinilai investor hanya memikirkan keuntungnya sendiri. Saat listing perdana, mereka ikut-ikutan menjual saham, bahkan dalam jumlah besar, sehingga investor panik dan harga saham BUMN tersebut makin jeblok.

Realita ini harus menjadi perhatian pemerintah untuk meningkatkan kinerja saham BUMN di pasar modal. Apalagi, perusahaan-perusahaan BUMN yang bagus makin terbatas. Jika yang bagus saja harganya jeblok apalagi yang kurang atraktif?

Sudah saatnya Menneg BUMN memberi target kepada CEO perusahaan negara agar tidak hanya memperhatikan kinerja internal perusahaan semata untuk kepentingan setoran dividen, tetapi juga melihat kapitalisasi pasar saham-saham mereka. Peningkatan kapitalisasi saham otomatis meningkatkan aset negara dan pada gilirannya membawa citra harum nama pemerintah.

Kita berharap, IPO PT Krakatau Steel menjadi bukti bahwa kinerja saham BUMN tidak kalah dengan swasta, sekaligus menjadi pendorong investor lokal untuk makin menyayangi saham-saham BUMN yang umumnya bergerak di sektor strategis. Ini tentunya bukan pekerjaan yang mudah. Yang pasti, jangan sampai IPO BUMN justru menjadi bumerang, melawan cita-cita pemerintah dalam mewujudkan investment society gara-gara investornya kapok beli saham BUMN. Q

Sumber ; Investor Daily Indonesia, Page : 4 

 Dilihat : 3193 kali