11 Oktober 2007
Serbuan Investor Baja Cina Tak Mengkhawatirkan

JAKARTA Departemen Perindustrian memastikan maraknya investasi baja dari Cina tak akan mengganggu keberlanjutan produsen lokal. Datangnya investor Cina dinilai positif untuk memenuhi konsumsi dalam negeri yang meningkat pada 2009-2010. "Investor dalam negeri pun tak banyak yang memiliki komitmen masuk ke industri hulu baja," ujar Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Tekstil, dan Aneka Ansari Bukhari di Departemen Perindustrian kemarin.

Produksi baja dalam negeri setiap tahun 6 juta ton. Sementara itu, pada 2009-2010 diproyeksikan kebutuhan menjadi 10 juta ton per tahun. "Seiring dengan program konversi energi," ujar Ansari.

Investor Cina yang menyatakan berminat melakukan investasi dalam waktu dekat adalah Nanjing & Iron Steel Co., Ltd. Nanjing rencana membangun pengolahan bijih besi kapasitas 1 juta ton dengan nilai investasi US$ 500 juta di Tanah Laut, Kalimantan Selatan,
dengan meng
gandeng PT Krakatau Steel.

Direktur Utama PT Krakatau Steel Daenulhay menyatakan pihaknya akan jalan terus melakukan investasi di Kalimantan Selatan. "Kami akan jalan terus," katanya.

Sebelumnya, Nickel China Steel Resources Holding Company akan mendirikan pabrik pengolahan baja dengan kapasitas awal 1 juta ton per tahun. Diperkirakan nilai investasi mencapai USS 400-500 juta di Tanah Bambu, Kalimantan Selatan.

Beberapa perusahaan Cina yang sudah bergerak di industri baja Tanah Air adalah PT Sinar Nusantara Mitra Selaras, PT Hoi Cheon Indonesia, PT Mag Indonesia Citra, PT Fine Wealthy Indonesia, dan PT Vacation International Indonesia.

Menurut Ansari, maraknya investor Cina hijrah ke Indonesia karena kebijakan pemerintah Cina. "Pemerintah Cina menerapkan pungutan ekspor untuk billet dan slab," katanya. Pungutan ekspor yang diterapkan sekitar 11 persen.

Selain itu, cadangan bahan baku di Indonesia yang sangat besar . Menurut Ansari, investor Cina mungkin akan mengekspor produk baja ke negara asalnya.

Sumber : Koran Tempo, 11 October 2007

 Dilihat : 2933 kali