06 Juni 2008
IPO untuk Krakatau Steel

Setelah terjadi tarik-menarik kepentingan, akhirnya pemerintah memutuskan privatisasi Krakatau Steel lewat penawaran sahara perdana di bursa (initial public offering-IPO). Batas waktu yang ditetapkan September 2008 ini. Kata akhir ya atau tidak, tinggal menunggu keputusan DPR.

Dalam privatisasi badan usaha milik negara (BUMN), memang ada dua jalan yang biasa ditempuh yakni strategic sales dan IPO. Dua-duanya sudah ditempuh oleh pemerintah untuk memperoleh dana penambal APBN. Hasilnya, ternyata yang sifatnya strategic sales banyak disesalkan oleh masyarakat.

Ada tiga BUMN yang dilepas dengan cara strategic sales, yakni Semen Gresik pada 1998, Pelindo II (1998), dan Indosat (2002). Semen Gresik dan Pelindo sekalipun di level elite cukup banyak memunculkan kontroversi, tetapi tidak begitu melebar ke masyarakat biasa. Sedangkan privatisasi Indosat, sampai saat inipun masih digugat oleh masyarakat.

Belum hilang ingatan tentang kekecewaan dilepasnya Indosat ke Temasek Singapura, muncul keinginan sebagian menteri kabinet yang akan melego Krakatau Steel (KS) ke Arcelor Mittal. Mittal merupakan perusahaan baja internasional yang bermarkas di Luxemburg yang dimiliki orang India, Laksmi Mittal.

Lobi-lobi Mittal sangat intensif di kalangan menteri dan DPR. Bahkan, dia sudah dipertemukan dengan presiden, dan sekaligus menyampaikan niatnya untuk membeli saham KS. Berapa pun saham yang dijual, akan dibeli semua oleh Mittal. Tak ketinggalan pula mereka membangun citra dengan mengajak pers Indonesia ke pabriknya.

Tapi manajemen KS, baik direksi maupun komisaris menolak. Masyarakat luas juga banyak menolak, termasuk beberapa anggota DPR. Kalau alasannya hanya uang, maka KS bisa memperoleh pinjaman mengingat kinerja KS sedang bagus-bagusnya. Kuartal pertama tahun ini saja sudah membukukan keuntungan Rp 414 miliar.

Bukan hanya kinerja yang bagus, prospek ke depan juga menjanjikan. Terbukti harga baja di pasar internasional terus terkerek karena kebutuhan terhadap baja yang diprediksi akan tinggi. Karena, itulah bukan cuma Mittal yang mengincar KS, tapi juga Blue Scope (Australia), Tata Steel (India), Pohan (Korea), dan Essar Steel (India).

Kini bola ada di tangan DPR, apakah KS akan diprivatisasi lewat strategic sales atau IPO. Dalam situasi seperti ini, justru sangat rawan. Banyak kasus yang membuktikan bahwa DPR bisa dibeli. Jangan-jangan ketika dilempar ke DPR justru stategic sales yang akan dipilih.

Kasus Al Amin yang disuap untuk menggolkan perubahan hutan lindung bisa dijadikan contoh betapa orang-orang DPR mudah tergiur uang, apalagi sekarang mereka sedang membutuhkan dana untuk kampanye 2009. Jual beli kepentingan ini sangat mungkin mewarnai pemilihan privatisasi KS ini.

DPR harus sadar bahwa masuknya investor lewat strategic sales bisa mengebiri industri baja nasional. Bagaimanapun KS merupakan perusahaan baja yang menguasai, bahkan memonopoli pasar baja lokal. Jika dikuasai oleh asing, mereka bisa dengan gampang memainkan pasokan baja dalam negeri, sehingga harga bisa diombang-ambingkan.

Pemerintah telah menyucikan diri dari kecurigaan adanya komisi penjualan yang kelak disetor untuk kepentingan politik dengan memberi lampu hijau bagi IPO. Kini tinggal DPR yang juga harus membuktikan bahwa mereka juga steril dari kepentingan uang dalam memilih strategi yang tepat untuk privatisasi KS ini, yakni IPO.

Sumber : Republika, Page : 6 

 Dilihat : 3957 kali