05 Juni 2008
POSCO dan BlueScope Incar Saham IPO Krakatau - Pemerintah menargetkan IPO Krakatau Steel bisa terlaksana pada September mendatang

JAKARTA. PT Krakatau Sl eel (KS) rupanya memang benar-benar memikat di mata investor asing. Meski rencana divestasi Krakatau melalui penjualan kepada investor strategis (strategic sale) terancam kandas, perusahaan asing tetap berminat. Mereka tetap ingin membeli saham Krakatau jika perusahaan ini menggelar penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO).

Taufiequrachman Ruki, Komisaris Utama Krakatau, bilang, ada beberapa perusahaan yang siap jadi mitra strategis Krakatau. Mereka telah mengirimkan surat kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan menyampaikan komitmennya untuk membeli saham Krakatau melalui IPO. Dia menyebut, ada dua perusahaan asing yang bersedia berpartisipasi dalam IPO tersebut, yaitu perusahaan baja asal Korea, Pohang Iron and Steel Company (POSCO) dan BlueScope Steel asal Australia. "Saya menerima surat tembusannya," kata Ruki kepada KONTAN, dua hari lalu.

Dia menambahkan, perusahaan baja asal Jepang, Nippon Steel, dan China Steel asal China telah mengungkapkan secara lisan tentang keinginannya membeli saham IPO Krakatau. "Kami masih menunggu surat resmi dari mereka," imbuh Ruki. Dia menilai, hal itu menjadi tanda bahwa Krakatau adalah industri strategis dan benar-benar menjanjikan. Karena itulah, bekas Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini tetap menolak rencana divestasi perusahaan melalui pola strategic sale. Apalagi, membludaknya minat raksasa baja internasional itu menjadi indikasi awal bahwa saham Krakatau bakal likuid kalau dilepas melalui bursa saham.

Dua opsi IPO

Keinginan Ruki itu, bakal segera terkabul. Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil sudah merestui keinginan Krakatau untuk IPO. "Kalau IPO bisa selesaikan masalah, ya, segera lakukan sekarang," katanya di Jakarta, kemarin (4/6). Dia meminta agar IPO terlaksana tahun ini dan tidak ditunda-tunda lagi. Sebagai tahap awal, ia menargetkan, restu dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bisa keluar paling lambat pekan depan. Dia juga meminta manajemen Krakatau segera mempersiapkan proses IPO sehingga, hajatan itu bisa terlaksana pada bulan September nanti.

Menurut Sofyan, jumlah saham Krakatau yang bakal dilego ke publik maksimal 40%. Namun, jumlah itu masih bisa berubah, bergantung pada kondisi pasar pada saat itu. Maklum, salah satu faktor yang mengganjal rencana IPO Krakatau sejak awal tahun ini adalah kondisi pasar yang masih labil.

Sofyan menyodorkan dua opsi IPO untuk mengatasi kondisi tersebut. Pertama, Krakatau menjual terlebih dahulu 5% saham ke publik. "Jika pasar memungkinkan, pasti akan kita tambah lagi hingga target (40%) tercapai," imbuhnya. Cara kedua, Krakatau tetap melego 40% saham, tapi dengan memanfaatkan sistem IPO plus opsi penambahan saham. Nah, manajemen Krakatau dan penjamin emisi yang bertugas memilih kedua opsi tersebut.

Target dana dari IPO 40% saham Krakatau adalah sekitar Rp 4 triliun. Duit itu bisa digunakan untuk menggenjot kapasitas produksi perusahaan itu menjadi lima sampai tujuh juta ton per tahun pada 2011 nanti. Kini, produksi Krakatau masih 2,5 juta ton per tahun. Sofyan bilang, produksi Krakatau harus ditingkatkan karena konsumsi baja nasional terus meningkat.

Kepala Riset Paramitra Alfa Sekuritas Pardomuan Sihombing menilai, IPO adalah langkah yang tepat untuk Krakatau. "Bukan berarti saya sok nasionalis," imbuhnya Tapi, perusahaan ini memang butuh uang untuk ekspansi. Sedangkan teknologi canggih bisa menyusul jika kapasitas produksi naik. Dia yakin investor akan memburu saham IPO Krakatau meski kondisi bursa memburuk.

Cuma, Taufiequrachman memberi catatan bahwa sebuah BUMN yang akan melakukan IPO mesti melakukan banyak persiapan. Misalnya, mereka perlu membereskan masalah hukum jika ada, due dilligence keuangan, revaluasi aset, dan membentuk tim pelaksana IPO.

Sumber :  Harian Kontan, Page : 4 

 Dilihat : 3344 kali