05 Juni 2008
September, Krakatau Steel IPO

JAKARTA - Privatisasi PT Krakatau Steel diputuskan melalui mekanisme penawaran saham perdana (initial public offering APO) pada September 2008. Jumlah saham yang akan di lepas ke pasar maksimal 40%.

"Saya ingin DPR segera memutuskan kalau memang KS harus IPO. Kami akan challenge (tantang) manajemen KS, supaya tidak ada kepentingan politik juga di dalamnya," kata Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil di Jakarta, Rabu (4/6).

Kendati pasar modal sedang tidak mendukung, Sofyan berharap, sedikitnya 5% saham bisa dilepas ke pasar sebelum akhir tahun. Namun, jika yang akan dijual ke publik 40%, pihaknya bisa tidak mengeluarkan secara langsung, melainkan ada additional share. "Yang penting sebelum akhir tahun KS bisa segera IPO," katanya.

Sejumlah analis mengatakan, pasar akan merespons positif rencana IPO PT KS, apalagi bisnis baja mempunyai prospek yang bagus.

Permintaan baja dunia terus meningkat menyusul naiknya konsumsi baja dari Tiongkok, India, Brasil dan Rusia. Hasil survei International Iron and Steel Institute (IISI), permintaan baja dunia tumbuh 6,7% sehingga harganya terkerek naik menembus US$ 800/ ton pada Juni 2008.

Lonjakan harga baja canai panas (HRC) yang menjadi patokan harga juga dipengaruhi kebijakan pemerintah Tiongkok yang mulai awal 2008 membatasi ekspor produk baja hilir, sehingga pasokan di pasar dunia semakin ketat. Pada Desember 2007, harga baja dunia menyentuh USS 610/ton dan terus bergerak di level US$ 650/ ton pada awal Januari 2008.

Di Indonesia, kebutuhan produk baja juga sangat tinggi. Menurut road map Kadin Indonesia, konsumsi produk akhir baja pada 2008 sebesar 9 juta ton, sedangkan produksinya hanya 7,02 juta ton. Dengan kapasitas produksi 4-5 juta ton, PT KS merupakan perusahaan baja terbesar di Indonesia dengan pangsa pasar nasional sekitar 40%.

kepala Riset Mega Kapital Felix Sindhunata. Direktur Schroder Michael Tjoajadi, Kepala Ekonom Bank BNI Tony Prasetyantono, pengamat pasar modal Pardomuan Sihombing, dan Djoko Rahardjo menyambut baik keputusan pemerintah memilih mekanisme IPO untuk privatisasi PT KS, mengingat industri baja sangat strategis.

Mereka optimistis, meskipun kondisi pasar saham kurang bagus, animo masyarakat untuk membeli saham PT KS sangat besar, sebab ada sentimen nasionalisme di dalamnya.

Meskipun demikian, mereka berharap pemerintah tidak menetapkan harga terlalu mahal untuk IPO PT KS, sehingga publik juga mendapat kesempatan memperoleh gain. Perusahaan baja di Indonesia yang sudah go public, antara lain PT Jaya Pari Steel Tbk (JPRS) dan PT Jakarta Kyoei Steel (JKSW) kurang likuid di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Pada transaksi Rabu (4/6) saham JPRS diperdagangkan pada harga Rp 460, sedangkan JKSW seharga Rp 200 dengan price earning ratio (PER) masing-masing minus 0,94 kali dan 5,86 kali.

Di pasar New York PER, untuk US Steel Corporation sebesar 20,41, sementara rata-rata PER perusahaan baja sekitar 14,6 kali. Di India, Tata Steel mempunyai PER sekitar 14,44 kali, sedangkan PER untuk China Steel Corp sebesar 11,34 kali.

Privatisasi Enam BUMN

Selain PT KS, Menneg BUMN berencana memprivatisasi enam BUMN lainnya, yakni PT Atmindo, PT Interub, PT Prasadha Pamunah Limbah Industri, PT JIHD, PT Kertas Blabak, dan PT Kertas Basuki Rahmat. Keenam BUMN itu akan diprivatisasi dengan metode strategic sales. (Lihat tabel). Terkait privatisasi PT KS,

Sofyan Djalil mengatakan, metode IPO diharapkan bisa, menyelesaikan masalah di tengah keadaan yang semakin memanas.

Kontroversi privatisasi PT KS mencuat menyusul rencana penjualan 40% saham perusahaan tersebut kepada mitra strategis. Sederet perusahaan baja berskala internasional berminat membeli KS dengan pola strategic sales, antara lain Arcelor Mittal, Blue Scoope, Tata Steel, Pohong Steel, dan Essar Steel.

Di antara para investor asing tersebut, Mittal diduga berpeluang sangat besar untuk membeli 40% saham PT KS. Apalagi, pemiliknya, Lakshmi Mittal, yang merupakan orang terkaya nomor empat dunia versi Majalah Forbes mempunyai kekayaan USS 55 miliar, pernah bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Sejumlah pengamat mengkhawatirkan, penjualan saham PT KS melalui metode strategic sales akan memindahkan monopoli negara ke swasta. Selain itu, penguasaan asing di PT KS bisa menyebabkan terjadinya ekspor baja ke negara investor, padahal di dalam negeri sendiri masih defisit.

Menanggapi kontroversi tersebut, Sofyan Djalil mengatakan, persoalan PT KS sudah bukan lagi persoalan teknis ekonomi, tapi sudah dicampuri politik ekonomi. "Saya meminta DPR segera membuat keputusan. Kalau DPR memutuskan untuk IPO, kita tantang manajemen untuk melakukan segera. Jangan sampai ini hanya menjadi wacana saja," tegasnya.

Menurut Tony Prasetyanto, Menneg BUMN telah belajar dari pengalaman penjualan BUMN-BUMN sebelumnya. Ia mencontohkan, keputusan strategic sales PT Semen Gresik yang dibeli oleh Cemex pada tahun 1998 dan PT Indosat oleh Temasek pada 2002 ternyata lebih banyak dampak negatifnya.

"Bahkan, kontroversi itu masih bergulir hingga seka-rang ketika pemerintah ingin buyback saham Indosat, tapi ternyata tidak bisa karena Temasek tidak mau. Oleh karena itu, daripada mendatangkan petaka politik, pemerintah lebih baik pilih IPO," katanya.

Anggota Komisi VI dari Fraksi PDIP Hasto Kristanto mengatakan, persoalan privatisasi PT KS menjadi berbelit-belit karena pihak Mittal masuk hanya melalui BKPM dan Departemen Perindustrian. Sementara PT KS merupakan BUMN. "Masak tidak ada permisi sama sekali ke Kementerian BUMN," ujarnya.

Ia menambahkan, kebijakan untuk memilih opsi IPO telah sesuai dengan harapan masyarakat dan ini merupakan sentiment positif. "IPO merupakan keputusan yang baik, mengingat harga baja dunia, sedang naik," kata Hasto.

Kinerja PT KS

Michael Tjoajadi menilai, kinerja PT KS cukup bagus karena permintaan baja dalam negeri terus meningkat. "Sahamnya layak untuk dikoleksi," ungkapnya.

Hal senada diungkapkan oleh Felix Sindhunata, Pardomuan Sihombing, dan Djoko Rahardjo. Menurut Felix, market akan merespons positif IPO PT KS. "Pasar saham semakin ramai dengan banyaknya perusahaan-perusahaan bagus yang go public" ungkapnya.

Pardomuan Sihombing menilai langkah IPO PT KS merupakan keputusan paling tepat untuk mengembangkan perusahaan. Apalagi kinerja PT KS sangat bagus dengan penjualan kuartal 1-2008 sebesar Rp 414 miliar atau melebihi target.

Pardomuan optimistis seluruh saham KS yang ditawarkan akan diserap oleh investor karena sektor usaha yang dikembangkan perusahaan sangat prospektif. Ia optimistis, penawaran saham KS akan kelebihan permintaan (oversubscribed) seperti PT Adaro Energy Tbk dan PT Indika Energy Tbk.

Sementara itu, Djoko Rahardjo mengatakan, PT KS sangat prospektif. Laporan keuangan perusahaan menunjukkan, pendapatan selama 2002-2007 terus meningkat dari Rp 6,388 triliun (2002) ke Rp 14,928 triliun (2007). Dari kinerja laba bersihnya, meski sempat anjlok pada 2006 (minus Rp 135,07 miliar), bisa naik drastis menjadi Rp 363,45 miliar pada 2007. Per 1 Mei 2008, laba KS dilaporkan mencapai Rp 411 miliar.

Dari sisi posisi keuangan (neraca), nilai aset KS juga terus meningkat dari Rp 7,281 triliun (2003) ke Rp 10,477 triliun (2007). Meski utangnya juga meningkat selama 2003-2007, selama periode itu (kecuali 2006) nilai ekuitas KS juga terus naik dari Rp 4,754 triliun (2003) ke Rp 5,419 triliun (2007).

Sumber : Investor Daily Indonesia, Page : 1

 Dilihat : 4108 kali