05 Juni 2008
Kabupaten Tanah Bumbu Siap Dukung Krakatau Steel

TANAH BUMBU - Kabupaten Tanah Bumbu, April lalu, baru saja menjadi tuan rumah acara peringatan 12 tahun Otonomi Daerah yang dihadiri oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beserta menteri terkait dan lebih dari 150 bupati se-Indonesia.

Dipilihnya Tanah Bumbu sebagai tuan rumah tak lain karena kabupaten hasil pemekaran di Provinsi Kalimantan Selatan ini, meski baru terbentuk sejak lima tahun lalu, telah menunjukkan perkembangan yang signifikan di berbagai dimensi.

Tanah Bumbu yang beribu kota Batulicin sebenarnya telah ditetapkan sebagai Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (Kapet) di akhir90-an, sehingga tak heran, industri baja nasional seperti PT Krakatau Steel melirik kawasan yang memiliki kandungan bijih besi melimpah ini.

Selama ini Tanah Bumbu atau kawasan lainnya di Kalimantan Selatan lebih dikenal akan hasil tambang batu baranya. Jika kita melalui jalan darat dari Banjarmasin menuju Batulicin yang memakan waktu delapan jam akibat kondisi jalan yang banyak rusak, maka ketika melintasi Kecamatan Sungai Danau, akan berjumpa dengan truk-truk besar pengangkut batu baru dari PT Arutmin.

"Kalau sudah sore hingga malam, jalanan Banjarmasin-Batulicin akan tersendat karena aktivitas truk-truk batu bara itu Hancurnya jalan ini juga karena truk-truk itulah," ujar Odi, pengemudi pada sebuah biro perjalanan.

Belakangan ini di wilayah ini juga agak sulit mendapatkan bahan bakar solar, karena kebanyakan sudah diborong oleh truk milik pengusaha batu bara. Namun, keruwetan di jalan provinsi itu sirna ketika masuk Kota Batulicin, ibu kota kabupaten. Gemerlap berbagai hotel di sepanjang jalan seolah menutupi suasana agak kumuh yang terlihat sepanjang delapan jam perjalanan darat dari Banjarmasin.

Kabupaten dengan luas 5.200 km2, berpenduduk 304.000 jiwa, juga memiliki tiga pelabuhan {speedboat antarpulau, pelabuhan peti kemas yang mampu disandari kapal hingga 10.000 DWT, dan pelabuhan feri lintas provinsi) dan satu bandar udara. Bandara yang dulunya digunakan untuk transportasi para transmigran dari Jawa, meskipun tak terawat baik, namun prospeknya cukup baik.

"Di bandara itulah kemarin mendarat enam pesawat termasuk pesawat kepresidenan Dash-7,"kata dr Zairullah Ashar M.Sc,Bupati Tanah Bumbu.

Industri Pioner

Rencana pembangunan pabrik bijih besi milik dua BUMN yakni PT Krakatau Steel dan PT Aneka Tambang, membuktikan bahwa Tanah Bumbu sebagai Kapet memiliki prospek cerah. Rencananya November mendatang penanaman tiang pancang untuk mengawali pembangunan pabrik.

"Dengan adanya Krakatau Steel diharapkan bisa memacu pertumbuhan perekonomian kawasan ini.

Lapangan kerja terbuka, pembangunan infrastruktur penunjang lainnya makin berkembang, dan yang tidak kalah pentingnya Krakatau Steel dapat menjadi pembimbing dan pembina bagi pengembang bijih besi lokal lainnya di Tanah Bumbu atau Kalimantan Selatan," ujar Zairullah.

Menurut Taufiqurahman Ruki, mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi yang kini menjadi Komisaris Utama Krakatau Steel, kehadiran perusahaannya bisa menjadi industri pioner untuk pertumbuhan kawasan di Kalimantan umumnya.

"Ini seperti Krakatau Steel membangun Cilegon tiga puluh tahun yang lalu di mana infrastruktur lainnya belum memadai," tutur Ruki, ketika mengunjungi Tanah Bumbu, beberapa waktu lalu.

Perusahaan patungan yang telah disepakati April lalu itu dibeli nama PT Meratus Jaya Iron Steel. Komposisi sahamnya 66 persen dimiliki Krakatau Steel dan 34 persen oleh Aneka Tambang. Pabrik pengolahan bijih besi yangakan dibangun berkapasitas 315.000 ton per tahun dengan nilai investasi US$ 60 juta.

"Dengan ground breaking November besok, dua tahun ke depan pabriknya diharapkan sudah dapat mulai beroperasi," ujar Ir Nurfirman dari bagian Perencanaan Krakatau Steel saat dijumpai SH di lokasi pabrik, yakni di Desa Sari Gadung, Kecamatan Karang Bintang.

Fazwar Bujang, Direktur Utama Krakatau Steel, juga memperkirakan dengan pabrik baru ini maka kebutuhan bahan baku bijih besi bagi Krakatau Steel sebagian bisa terpenuhi dari dalam negeri. "Selama ini, kami impor dua juta ton per tahun. Jadi, kalau pabrik sudah beroperasi, impornya bisa berkurang 315.000 ton," ujarnya.

Industri di Kalsel ini akan memulai usaha dari penguasaan penambangan bijih besi, pembangunan pabrik baja (steel making) sampai ke produk baja hilir (rolling). Ditargetkan, kapasitasnya mampu mencapai satu juta ton per tahun.

(abrar/xha)

Sumber : Sinar Harapan, Page : 5

 Dilihat : 3557 kali