04 Juni 2008
Paradoks Adaro Energy dan Krakatau Steel

Tahun ini PT Bursa Efek Indonesia menargetkan menjaring 30 emiten baru pada tahun ini. Dari jumlah tersebut, baru delapan emiten yang berhasil terjaring. Padahal, sisa waktu BEI untuk mencapai target tersebut tinggal sekitar delapan bulan lagi. Artinya, jika dirata-ratakan, maka BEI minimal harus menarik 8-9 emiten baru.

Meskipun Diru BEI Erry Firmansyah, dalam sebuah kesempatan berbincang dengan sejumlah wartawan yakin target 30 emiten tersebut bakal terpenuhi, namun tentu saja ini bukan pekerjaan mudah. Hal ini mengingat kondisi pasar modal yang sedang tidak bersahabat. Ini juga yang sempat membuat sejumlah calon emiten baru memilih mengundurkan atau menunda IPO-nya.

Yang paling kontrovesial adalah kasus PT Wahanaartha, dimana sang calon emiten menunda IPO padahal sudah mendapatkan pernyataan efektif dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam LK). Akibatnya, penjamin emisi Wahanaartha terkena sanksi Bapepam berupa tak boleh berpraktik sebagai penjamin emisi pada kurun waktu tertentu.

Nah, di tengah kondisi pasar modal yang tengah goncang dan tak stabil ini, maka ketika perusahaan BUMN PT Krakatau Steel bermaksud untuk IPO, tentu saja wajar jika banyak pihak yang berkata jangan. Sebab, kondisi pasar modal yang masih down bisa membuat penawaran perdana pabrik baja tersebut tidak sukses. Dan pada akhirnya, jumlah dana yang bisa diraihnya pun tidak memenuhi target.

Tetapi, benarkah demikian? Satu-sisi, kondisi bursa nasional tak bisa dipungkiri sempat mengalami masa-masa buruk. Khususnya pada masa awal tahun. Indikatornya dapat dilihat dari nilai Indeks Harga Saham Gabungan

(IHSG) yang sempat terpangkas dari 2.800-an poin menjadi hanya 2.200-an poin dalam kurun waktu tiga bulan.

Namun, belakangan ini, IHSG sudah kembali merangkak naik. IHSG bahkan sempat berada di level 2.500. Meski belakangan melemah kembali pada kisaran 2.300-an dan 2.400-an.

Selain itu, indikasi mulai membaiknya bursa juga terlihat dari jumlah investor asing yang kembali memasuki pasar saham nasional. Ini dapat dilihat dari kenaikan nilai transaksi pada bulan April sebesar empat persen. Sebelumnya pada bulan Maret terjadi net selling (aksi jual bersih) investor sebesar Rp2,68 triliun. Nah, pada bulan April lalu, terjadi sebaliknya, yaitu net buying (aksi beli bersih) meningkat menjadi Rpl,5 triliun. Meski masih minus, kondisi itu tanda baik karena pasar sudah berbalik, karena investor asing sudah masuk kembali.

Bahkan, Erry memprediksi IHSG bakal kembali ke posisi puncaknya dan bisa saja melewati nilai tertinggi IHSG yang sempat berada di posisi 2.800-an. "Saya optimis semester 11 akan rebound melebihi kenaikan awal tahun ini," kata Erry pada wartawan di Jakarta, pertengahan bulan lalu.

Tanda-tanda membaiknya bursa juga dapat dilihat dari sejumlah calon emiten yang bakal segera melantai pada semester II ini. Yang paling menjadi sorotan adalah PT Adaro Energy. Sebab, IPO perusahaan tambang batubara terintegrasi ini diperkirakan bakal memecahkan sejarah nilai raihan saham perdana terbesar dalam sejarah bursa, yaitu sebesar Rp 12 triliun.

Adaro sendiri nampaknya sangat yakin bakal meraih angka tersebut, meski kondisi bursa disebut sedang goncang dan masih tersangkut masalah tranfer pricing serta sengketa saham. Bahkan, Direktur Utama Adaro Energy Boy Garibaldi Thohir di Jakarta,

Senin, mengklaim, sudah banyak investor dalam maupun luar negeri berminat membeli saham perusahaan tambang batubara ini.

Hal senada dikemukakan Wakil Direktur PT Danatama Makmur, selaku penjamin emisi IPO Adaro, Vicky Ganda Saputra. "Antusiasme investor tetap tinggi. Tidak ada yang terganggu dengan pemberitaan media massa," katanya.

Vicky menambahkan, hampir seluruh perusahaan dana pensiun dan asuransi juga sudah menyatakan minatnya. "Bahkan, ada beberapa perusahaan asuransi yang memasukkan penawaran Rp 200-300 miliar untuk satu order," ujarnya.

Nah, berkaca dari kasus KS dan Adaro, tak heran menimbulkan pertanyaan, benarkah bursa masih belum menarik untuk IPO? Atau jangan-jangan, ada udang di balik batu yang membuat rencana IPO KS selalu sersandung batu

Sumber : Harian Ekonomi Neraca, Page : 3 

 Dilihat : 2808 kali