19 Oktober 2007
KS akan gunakan 10% bijih besi lokal

JAKARTA: PT Krakatau Steel akan mengoptimalkan pemanfaatan bijih besi lokal hingga mencapai sedikitnya 10% dari total kebutuhan bahan baku produksi pada tahun depan, menyusul peningkatan kebutuhan bahan baku baja yang diperkirakan mencapai 37% mulai tahun depan.

Hingga saat ini, pemanfaatan bijih besi lokal sebagai bahan baku oleh Krakatau Steel (KS) masih di bawah 5% dari total kebutuhan bahan baku perusahaan baja tersebut.

Direktur Utama PT Krakatau Steel Daenulhay mengatakan peningkatan bahan baku lokal tersebut merupakan bagian dari upaya antisipasi perseroan untuk menekan biaya produksi yang dipastikan akan meningkat pada tahun depan.

Peningkatan biaya produksi itu a.l. disebabkan adanya kenaikan harga pellet (produk turunan bijih besi) sekitar 37% mulai tahun depan, dibandingkan dengan posisi harga saat ini. "Kami masih, dalam proses menghitung [dampak dari kenaikan bahan baku dan posisi harga jual saat ini].

Yang jelas, pada tahun depan harga bahan baku pellet' akan naik sekitar 37% dari posisi sekarang. Cost [biaya] produksi pasti akan naik," jelas Daenulhay kepada Bisnis, barubaru ini. Selama ini, KS menggunakan bijih besi lokal dari Kalimantan Selatan (Kalsel) yang diperoleh dari dua perusahaan penambangan setempat.

Peningkatan pemanfaatan bijih besi lokal pada tahun depan tersebut didasarkan pada optimisme manajemen KS yang akin mendirikan pabrik pengolahan bijih besi di Kalsel berkapasitas 300.000 ton per tahun pada Maret 2008.

Efisiensi Daenulhay yakin pemanfaatan bijih besi lokal tersebut akan mampu meningkatkan efisiensi pabrik KS, sehingga dapat mengantongi laba lebih besar dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Berdasarkan dokumen resmi KS yang diperoleh Bisnis pada awal tahun, laba bersih konsolidasi perseroan yang ditetapkan dalam RKAP tahun ini sebesar Rp292,55 miliar. Pada kesempatan tersebut, Daenulhay menepis tudingan adanya inefisiensi di BUMN tersebut yang membuat pemerintah berencana mengenakan tarif bea masuk antidumping (BMAD) terhadap baja impor dari sejumlah negara guna melindungi industri di dalam negeri.

"Tidak benar itu [inefisiensi KS]. Harga impor sekarang tinggi sekali. Mesin kami memang tua, tetapi kami bisa berproduksi dengan harga yang bersaing. Kalau tidak, kami tidak mungkin bisa melakukan ekspor," katanya.

Sebelumnya,. Ketua Umum Gabungan Asosiasi Perusahaan' Pengerjaan Logam dan Mesin Indonesia (Gamma) Achmad Safiun menuding rencana pengenaan BMAD terhadap baja impor semata-mata merupakan upaya untuk melindungi industri baja nasional yang beroperasi tidak efisien. Rencana pengenaan BMAD tersebut dinilainya merugikan industri hilir pengguna baja.

Sumber : Bisnis Indonesia, 19 October 2007

 Dilihat : 3350 kali