04 Juni 2008
RENCANA PENJUALAN BUMN - Krakatau Steel Minta Segera Ada Keputusan

JAKARTA. Manajemen PT Krakatau Steel tak ingin kontroversi soal penjualan pabrik baja milik negara itu terus berlarut-larut. Karena itu manajemen Krakatau Steel meminta pemerintah segera memutuskan cara penjualan Krakatau Steel. Apakah melalui penawaran saham perdana alias initial public offering (IPO) atau strategic sales.

"Sebaiknya bulan depan sudah ada keputusan," kata Komisaris Krakatau Steel Taufiequrachman Ruki, Selasa (3/6). Ruki juga menolak janji surga Arcelor Mittal yang menegaskan bakal memberi teknologi paling modem. Alasannya, manajemen kini sedang mendatangkan teknologi canggih dari Jerman. Nilai investasinya US$ 200 juta. "IPO cara terbaik menjadikan perusahaan ini lebih transparan," tegasnya.

Pilihan IPO bisa jadi memang lebih menguntungkan ketimbang penjualan strategis atau Strategic sales. Seorang sumber KONTAN yang memahami proses privatisasi Krakatau Steel menegaskan, pemerintah tidak akan mendapat untung dengan menjual Krakatau Steel langsung ke Arcelor Mittal.

Dia pun menunjuk ketika Mittal mengakuisisi Arcelor. "Kasus Krakatau Steel berbeda dengan ketika Mittal mengakuisisi Arcelor. Saat itu yang terjadi adalah share swap (pertukaran saham) antara Mittal dan Arcelor. Pembelian saham Arcelor oleh Mittal di pasar modal dengan harga sangat tinggi meski negosiasinya alot," papar sumber itu.

Direktur Utama Krakatau Fazwar Bujang menegaskan, dia menyerahkan semua keputusan privatisasi ini kepada pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Untuk tidak mengganggu kinerja perusahaan, ia telah memerintahkan kepada karyawan Krakatau untuk tetap fokus pada peningkatan produktivitas.

Manajemen Krakatau Steel juga mengklaim sudah merevisi target perolehan laba imtuk tahun 2008 ini, dari Rp 430 miliar menjadi Rp 850 miliar. "Ini untuk kepentingan Krakatau Steel," kata Fazwar.

Sejauh ini, pemerintah memang masih belum memutuskan akan memilih strategi penjualan yang mana. Menteri Perindustrian Fahmi Idris dan Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) M. Lufti cenderung memilih penjualan strategis. Sementara Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil sudah memasrahkan persoalan ini kepada DPR.

Walhasil, privatisasi Krakatau Steel sekarang sudah semakin kental bernuansa politis ketimbang keputusan bisnis.

Sumber : Harian Kontan, Page : 1 

 Dilihat : 3735 kali