04 Juni 2008
Raja baja menunggu Krakatau Steel

PADA awalnya memang ada resistensi terhadap proses merger Arcelor dan Mittal. Namun demikian, itu terjadi karena kurangnya pengetahuan terhadap Mittal," kata Direktur Jenderal padu Kementerian Ekonomi dan Perdagangan Internasional Luxemburg Georges Schmit. Georges Schmit, saat berkisah reaksi pertama pemerintahnya terhadap Mittal Steel yang ingin mengambil saham Arcelor di awal 2006. tidak lain bercerita tentang sikap Eropa terhadap perusahaan asal India tersebut.

Bagi mereka, perusahaan baja yang dipimpin seorang India itu terasa asing dan tampak tidak "barat", makanya aneh ketika perusahaan itu berniat mengakuisisi perusahaan baja terkemuka di Eropa, Arcelor. Arcelor. sebelumnya, merupakan bentukan baru pada awal 20KO-an dari merger A rbed (Luxemburg). UsinortPrancis] dan Acerelia (Spanyol). Oleh karena itu reaksi penentangan atas niai perusahaan baja iiu juga dalang dari pemerintah Eropa, karena mereka memiliki saham walau minoritas.

Schmit saat ditemui di Luxemburg, akhir Mei, mengakui dua kali merger itu membual saham pemerintahnya terdilusi. Dari semula 40 percen di Arbed. mengecil menjadi 20 persen saat bergabung di Arcelor. Pada perkembangannya saham pemerintahnya terdilusi menjadi delapan persen, dan saat merger menjadi Arcelor Mittal kepemilikannya tinggal 2.7 persen. "Meski terdilusi secara persentase, nilai nominalnya meningkat."

Saat kepemilikan saham 20 persen, nilainya 500 juta euro, saat delapan persen nilainya 67$ juta euro, dan saat 2.7 persen nilainya menjadi 2,5 miliar euro. Tidak hanya negara kecil Luxemburg yang berubah penilaiannya. Prancis yang memiliki harga diri tinggi di Eropa harus mengakui Lakshmi N. Mittal, yang menjadi pemilik utama Arcelor Mittal (43,6 persen), sebagai produsen baja paling terkemuka di dunia.

"Setahun lalu anda tidak disambut di Prancis. Namun itu telah berubah." kala Presiden Prancis Nicolas Sarkozy kepada Lakshmi Mittal pada acara di Museum Guimet Paris, Oktober 2007. dikutip dari "Cold Steel. Great Britain, 2008". Sang pemilih Laksmi Mittal. dari awal sejak di Mittal Steel hingga bermerger menjadi Arcelor Mittal, terkenal bergairah dalam mengakuisisi perusahaan-perusahaan baja di negara maju maupun berkembang. Ala-sannya, memperkuat bisnis baja grup Mittal, baik dari pasokan, pasar, maupun produksinya di sektor hulu hingga hilir.

Gairah itu dibuktikannya. kini pabrik Arcelor Mittal hadir di 20 negara di seluruh dunia dan aktivitas akuisisi dan merger itu mampu terus meningkatkan pendapatannya. Pertumbuhan EBITDA (keuntungan sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi) pada 2007 sebesar 27 persen menjadi 19,4 miliar dolar AS dan laba bersih naik 30 persen menjadi 10.4 miliar dolar AS. Adapun ja-lahuntuk pemegang saham ikut naik pada 2006 dividen sebesar 1.30 dolar AS per saham menjadi 1.50 dollar AS per saham pada 2007. Merger Arcelor dan Mittal di tahun 2006 terkenal sebagai puncak konsolidasi perusahaan baja dunia. Gabungan dua perusahaan itu membuatl lini produksinya sebagai terbesar di dunia dengan produksi 116 juta ton per tahun atau sekitar 10 persen produksi baja global, jauh mengungguli Nippon Steel. Posco. Tata Steel. Shagang. dan US Steel. Bendera baru itu pun pada 2007 tak menghentikan gairah mengakuisisi perusahaan baja di belahan dunia lainnya.

Tidak kurang dari 35 transaksi strategis, baik dalam bentuk akuisisi maupun investasi tercapai pada 2007, dengan total nilai sekitar 12.1 miliar dolar AS. Perusahaan baja yang diakuisisi itu termasuk transaksi kepemilikan saham minoritas di perusahaan baja di Argentina! Brasil. China. Kosta Rika. Mesir. Meksiko dan Polandia. "Kami menyadari sebagai perusahaan besar di industri baja, kami melakukan akuisis; bukan untuk menghancurkan yang sudah ada." kata anggota Dewan Manajemen Grup Arcelor Mittal di Luxemburg Gonzalo Urquijo.

Transparansi juga tetap ditegakkan, karena hal itu tak terlepas dari status perusahaanya yang sudah tercatat di bursa eflek Wall Street New York  NYSE) dan bursa Eropa (Belanda. Prancis. Spanyol, Luxcmhuig dan Belgia) Selain itu. katanya, bila Arcelor Mittal mengakuisisi perusahaan baja, mereka harus mencapai Standard global, dan mau tak mau  harus mendidik tenaga kerjanya yang kurang trampil melalui akses pendidikan di Universitas Mittal. Sedangkan agar pengembangan produknya selalu sesuai kebutuhan pasar, perusahaan itu memiliki wadah penelitian dan pengembangan yang tersebar di 14 pusat penelitian utama di Eropa, AS, Kanada dan Brasil. Dengan keberadaan Arcelor Mittaldi 20 negara, terbentuk jaringan pasar internasional, yang bisa saling dimanfaatkan bagi para anak perusahaannya, selain saling menimba pengalaman pasar, pasokan, penciptaan produk, dan jasa di industri baja.

Arcelor Mulai, di samping Bluescope dan Tata Steel, hingga kini masih menunggu jawaban dari Pemeriniah Indonesia alas proposal kemitraan strategisnya dengan BUMN produsen baja Indonesia Krakalau Steel, yang telah dipresentasikan pada 5 Mei. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) M Lutfi mengatakan Krakatau Steel memerlukan pemain baja kelas dunia sebagai mitra strategis agar kinerjanya berkembang lebih cepat baik dalam produksi maupun pasarnya.

Di samping itu. dengan penjualan Strategis dalam privatisasi Krakatau Steel. BUMN baja itu tidak dipermainkan perusahaan penyedia bahan baku bijih besi "Kepentingan utama kami dan Depperin sama. yaitu menggandakan produksi baja Krakatau Steel, agar setidaknya bisa memenuhi kebutuhan domestik," " katanya. Lutfi menyesalkan manajemen Krakalau Steel yang sebelumnya sudah berjanji kepada Wapres Jusuf Kalla untuk meningkalkan produksi dua kali lipat, namun ternyata sudah dua tahun ini belum ada realisasinya. (Pumpunan/ani)

Sumber : Harian Terbit, Page : 6 

 Dilihat : 2776 kali