04 Juni 2008
Keuangan Krakatau Steel Membaik

PT Krakatau Steel merevisi target perolehan laba tahun 2008 menjadi 850 miliar dari sebelumnya Rp430 miliar. Peningkatan taget hingga dua kali lipat ini didorong oleh pencapaia laba di kuartal 1-2008 sebesar Rp411 miliar lni pertama kali, kami meminta revisi peningkatan target. Biasanya yang terjadi revisi pengurangan target, kata Direktur Utama ks. Fazwar Bujang di Jakarta, Rabu (28/5).


Padahal sebelumnya di tahun 2006 KS mengalami kerugian Rp 130 miliar. Perolehan yang sangat signifikan ini. merupakan dampak dari kenaikan harga baja dunia, pengaruh supply dan demand serta perbaikan kinerja operasional Internal ks sejak tahun 2007 yang lalu.

Menurutnya, hal Ini menunjukkan bahwa ks adalah perusahaan sehat dan berpotensi besar untuk semakin berkembang ke depannya.

Sepanjang 2007, penjualan baja ks mencapai 2,38 juta ton/tahun, dengan komposisi untuk kebutuhan domestik 87 persen dan ekspor 13 persen. diperkirakan hingga akhir 2008 ini penjualan baja KS akan mencapai 2,5Juta ton/tahun, dengan target penjualan domestik 90 persen dan ekspor 10 persen.

Tahun 2011, KS menargetkan kapasitas produksi dapat mencapai 5 juta ton/tahun. Untuk mencapai hal itu, antara lain ks akan melakukan revitalisasi pabrik, perbaikan bisnis proses perusahaan, transfortasi bisnis dan teknologi berbasis batu bara, serta bersinergi dengan PT Antam Tbk.

Fazwar mengatakan, dengan kondisi yang prima seperti Itu KS tidak membutuhkan strategisale untuk mengembangkan usaha. Pengembangan bisnis terbaik menurutnya, dapat dilakukan dengan penjualan saham (initial public offering/IPO) ataupun dengan melakukan pinjaman ke bank, kita tidak butuh partner (strategic sales) untuk pengembangan usaha. Kami lebih butuh sparing partner untuk memacu pertumbuhan bisnis KS," ujarnya.

Menurutnya, dengan IPO, KS akan mendapatkan equity tambahan sekitar Rp2 triliun. Serta dapat berkembang secara mandiri dan tanpa intervensi asing.sesuai dengan pertumbuhan pasar baja domestik. KS bahkan sudah ditawari pihak perbankan untuk melakukan peminjaman. Dengan kondisi perusahaan yang sehat seperti ini, tidak mustahil kami mendapat pinjaman sebesar Rp 11 triliun dari perbankan," katanya menegaskan.

Walau begitu, KS tetap menyerahkan keputusan privatisasi di "tangan" pemerintah dan DPR. Hingga saat ini, KS belum mendapatkan instruksi tertulis dari Menneg BUMN untuk melakukan diskusi dengan para peminat strategic sales. Walau secara lisan Menneg BUMN Sofyan Djalil sudah meminta KS untuk melakukan kajian terhadap calon mitra strategis, "Kita belum dapat instruksi tertulis. Nanti kalau melakukannya tanpa instruksi tertulis, malah menimbulkan polemik lagi," tandasnya.

Banyak kalangan mengkhawatirkan kesalahan yang sama bakal terjadi pada perusahaan baja yang didirikan pada 1971 itu. Bagi pihak KS sendiri, initial public offering (IPO) adalah pilihan terbaik. "Jangan ulangi kesalahan masa lalu karena kesalahan itu akan ditanggung generasi yang akan datang," kala Komisaris Utama KS Taufiequrachman Ruki, di Jakarta, pekan lalu.

Lagi pula, kondisi saat ini lebih terlihat bahwa Mittal lah yang membutuhkan KS, bukan sebaliknya.

Dia melanjutkan, kondisi keuangan yang baik sudah KS perlihatkan. Melihat pertumbuhan yang signifikan selama kuartal I 2008, manajemen meningkatkan proyeksi laba tahun ini jadi Rp85O miliar dari rencana awal Rp430 miliar. Perolehan laba kuartal pertama 2008 sudah mencapai Rp411 miliar.

Selain itu, dengan ketersediaan dana tunai per April yang sebesar Rp 1,2 triliun, maka KS memungkinkan untuk dapat pinjaman segar untuk pengembangan hingga 11,2 Triliun.

Dengan kemampuan berutang sebesar itu lalu dikombinasikan dengan potensi IPO USS200 juta, maka KS masih dapat menjalankan proyek senilai USS 800-900 juta dalam rangka meningkatkan kapasitas menjadi 4-5 juta ton per tahun dengan teknologi berbasis batu bara. Dengan dana yang ada tersebut maka teknologi pembuatan baja dapat diadakan dan pabrik baru dapat segera dibangun.

IPO menjadi pilihan kami selain menghindari kemungkinan penguasaan saham asing dapat dihindari, metode ini pun diyakini aman dan memberikan kepemilikan saham yang luas kepada publik.

Mantan ketua KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) itu menolak metode strategic sales dalam rangka privatisasi, karena beberapa pertimbangan. Antara lain untuk menghindari strong voting right atau hak-hak tertentu yang akan dimiliki si mitra strategis. "Walaupun hanya memiliki 15 persen, 20 persen, apalagi sampai 30 persen, si partner itu memiliki hak veto baik Itu pada perubahan direksi, maupun strategi perusahaan," kata dia menjelaskan. Hal itu termasuk hak preemtif (keistimewaan membeli saham perusahaan saat penawaran saham perdana).

Jika strategic sales jadi keputusan pemerintah, Mittal kelak punya kesempatan membeli semua saham. "Itulah yang terjadi mengapa Mittal menguasai mayoritas perusahaan baja di dunia," katanya menegaskan.

Sumber : Jurnal Nasional, Page : 18 

 

 Dilihat : 3720 kali