04 Juni 2008
Menguji Senapan Anak Negeri

TEKNOLOGI Industri pertahanan nasional bisa dibilang masih tertinggal. Indonesia belum dapat membuat pesawat tempur sendiri. Begitu pula pembangunan kapal perang yang memiliki peralatan canggih.

Namun, ada senjata buatan anak negeri yang berskala internasional, yakni senapan serbu buatan PT Pusat Industri Angkatan Darat (Pindad). TNI sebagai pengguna berulang kali kagum dengan kemampuan senjata buatan Bandung itu. "Hebat. Enteng dan sangat akurat," kata mantan Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto sambil tersenyum. Kala itu. September 2003, Sutarto untuk pertama kali mencoba senapan serbu model 2 atau SS2 di Lapangan Tembak Pindad, Bandung. Jenderal yang punya reputasi jago tembak itu membidik puluhan balon dari jarak 5O meter. Tak satu peluru pun meleset. Pulang ke Jakarta, Sutarto langsung membawa 40 pucuk SS2 dan memesan senapan buru itu untuk mempersenjatai 60 batalyon di seluruh Tanah air.

Seperti apa kehebatan senapan serbu lokal itu? Banyak pihak mengatakan lebih baik dari senapan legendaris Automat Kalashnikovs-47 (AK-47). Meski AK-47 telah menjadi simbol kegiatan revolusi bersenjata karena dalam 50 tahun terakhir Kalashnikov diproduksi sekitar 90 juta pucuk, senapan otomatis itu dibikin berdasarkan cetak biru tahun 1947.

PT Pindad bahkan sesumbar, SS2 boleh diuji di medan tempur mana pun dengan senapan M-16 seri terbaru, A3. Padahal, M-16 yang dirancang Eugene Stoner pada awal 1950-an bukan senapan serbu sembarangan. Senapan buatan pabrik Colt dan Armalite. Amerika Serikat, itu menjadi tentengan utama pasukan Amerika sejak Perang Vietnam dan senapan standar pasukan elite Inggris, SAS.

Namun, sesumbar Pindad bukan omong kosong belaka. SS2 telah terbukti tangguh mengungguli senjata produk luar. Tahun 2006, SS-2 mengalahkan AK dan M.16 dalam lomba tembak Asean Army Rifle Meet ke XVI di Hanoi, Vietnam.

Tahun ini, kontingen menembak Angkatan Darat berhasil meraih juara pertama lomba menembak Australian Army Skill At Arms Meeting wing dilaksanakan di Australia dengan peserta antara lain Australia, Indonesia. Malaysia, Singapura, dan Papua Nugini Kontingen Garuda XXIII yang bertugas di Kongo juga menggondol juara dua di bawah India dalam lomba tembak antar-12 negara kontingen.

Meski kemampuan prajurit TNI tak bisa dikesampingkan, ketepatan membidik senjata Pindad itu diakui menjadi faktor utama. Tak heran beberapa panglima tentara negara Asia sudah memuji keandalan produk Pindad tersebut.

Tongkrongan SS2 memang menawan. Ramping tapi kokoh, dan dilengkapi berbagai instrumen senapan modem. Bobotnya pun hanya 3,2 kilogram bila magasin tensi penuh 30 peluru. Sebagai perbandingan, M-16 A2 beratnya 4.47 kilogram; FNC 4,06 kilogram; dan AK-47 4,3 kilogram. Dengan spesifikasi demikian, tak heran bila desain dan manufaktur SS2 berhasil mendapat penghargaan Rintisan Teknologi Industri dari Menteri Perindustrian.

Yang membanggakan lagi, bahan bakunya hampir semua buatan lokal. Jika saat awal produksi SS2 baja tempa untuk laras yang didatangkan dari Jerman, kini PT Krakatau Steel sebagai penghasil baja Tanah Air intensif merancang laras SS2. "Kami yakin laras yang diproduksi kualitasnya prima," kata Juru Bicara Departemen Pertahanan Brigjen Slamet Hariyanto.

SS2 merupakan hasil penyempurnaan SS1 yang dibuat PT Pindad 10 tahun silam. SS1 sendiri merupakan hasil reka ulang senapan buatan Belgia, I  (Fabrique Nationale Carrabem. SS2 mengunakan peluru berkaliber  4" mm seperti pendahulunya, SSL SS2 juga menggunakan popor lipat sehingga fleksibel untuk digunakan sesuai kebutuhan di segala medan.

Meski demikian, secara prinsip SS1 dan SS2 jauh berbeda. Contohnya pisir dan pejera SS2 bisa dibuka untuk mendudukkan teleskop. Ini membuat jarak tembak akurat mencapai 600 meter hingga 700 meter, SS1 hanya efektif 400 meter, sama dengan AK-47, sedangkan M-16 A2 bisa sampai 530 meter. Keunggulan lain SS2 tahan terhadap cuaca dan karat.

SS2 juga memiliki dudukan untuk red dot  titik merah  guna meningkatkan akurasi tembakan, serta teropong malam hari  (night vision scob). Senapan serbu ini mampu memuntahkan 740 butir peluru dalam satu menit, juga bisa dipasangi pelontar granat.

Senapan ini juga telah dikembangkan menjadi berbagai type dengan medan operasinya, yaitu type standar, marinized. dan raider, baik untuk laras panjang, karaben maupun laras pendek. Tipe Marinized dikembangkan khusus untuk marine condition dan swap condition, sedangkan tipe raider dikembangkan untuk medan tempur khusus.

Atas usaha-usaha yang dilakukan Pindad dalam mengembangkan, mendesain dan memproduksi senapan serbu yang memiliki kualitas andal, unggul, dan tidak kalah dengan kualitas senapan-senapan Sejenis dan negara-negara lain. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahi Satya Lencana Pembangunan kepada Direktur utama PT Pindad Budi Santoso pada tahun 2006 .

Aditya Cahya Utama

Sumber :  Jurnal Nasional, Page : 22 

 Dilihat : 23976 kali