10 Oktober 2007
Asing Tak Ganggu Pasar Baja

JAKARTA: Maraknya investasi di sektor hulu industri baja nasional diyakini tidak mengganggu pasar baja dan produsen baja domestik.  Sebab, saat ini pelaku industri baja dalam negeri belum mampu memenuhi tingkat konsumsi baja nasional. "Tidak terganggu dan tidak akan terjadi over produksi di Indonesia, karena tak banyak (investor asal China) yang masuk ke sana (pasar pelaku industri dalam negeri)," kata kata Dirjen Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka Departemen Perindustrian (Depperin) Ansari Bukhari di Jakarta,

Selain itu, jelas dia, kebutuhan konsumsi baja nasional pada 2009-2010 pun terus meningkat menjadi sekitar 10 juta ton seiring pertumbuhan infrastruktur. Sementara itu, kemampuan produksi industri baja nasional menurut dia belum mencapai tingkat tersebut.

Ansari mengungkapkan, saat ini tingkat konsumsi baja nasional masih sangat rendah yakni berkisar 6 juta ton per tahun, jauh di bawah China yang mencapai 300 juta ton per tahun. Karena itu, pasokan baja untuk konsumsi negara itu pun tidak seluruhnya berasal dari dalam negeri. Ke depan, potensi pasar China pun semakin besar. Hal itu yang menurut dia menyebabkan banyak perusahaan baja China membuka pabrik di Indonesia. Ansari menegaskan, dengan adanya investasi baru di sektor hulu diharapkan dapat berdampak pada pertumbuhan industri baja nasional.

Selain itu, lanjut dia, pemerintah juga memang berupaya mendorong industri di dalam negeri agar mampu berdaya saing global. Yang perlu diperhatikan, kata dia, adalah jangan sampai seluruh produksi perusahaan baja asal China di Indonesia semuanya dipasarkan ke luar negeri.

Terlepas dari itu, Ansari berpendapat tak semua dari sekian banyak investor baja asal China yang kini tengah menjajaki kemungkinan berinvestasi di sektor hulu baja nasional akan tetap bertahan. Ansari memperkirakan hanya satu atau dua perusahaan saja yang nantinya akan tetap hidup.
"Jadi mungkin realisasinya satu atau dua perusahaan saja. Itu pun sudah bagus, karena sekali masuk kapasitas mereka bisa 1-2 juta ton per tahun," katanya.

Ansari mengungkapkan, maraknya investasi asal China di sektor industri hulu baja nasional disebabkan kebijakan ekspor pemerintah China. Untuk produk-produk di sektor hulu seperti slab atau billet pemerintah China menerapkan pungutan ekspor (PE) sebesar 11% per ton.

"Makanya mereka lebih memilih pindah ke negara penghasil bahan bakunya. Mereka yang selama ini berkecimpung bisnis di sana menganggap kebijakan itu tak kompetitif," katanya.

Mengenai kemungkinan perusahaan baja asal China akan mementingkan pasar internasional, Ansari menegaskan bahwa hasil produksi tersebut diutamakan untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri. "Akan dipasarkan di sini, meski memang tidak menutup kemungkinan diekspor juga," katanya.

Sebelumnya, menanggapi banyaknya perusahaan baja China yang masuk ke Indonesia, Direktur Utama PT Krakatau Steel Daenulhay mengatakan bahwa hal itu tidak akan memengaruhi kinerja perusahaan. Pasalnya, perusahaan-perusahaan itu kebanyakan masih dalam tahap penjajakan, sementara Krakatau Steel sudah lebih awal menguasai pasar. Selain itu, beberapa perusahaan itu juga memiliki segmen berbeda dengan perusahaan yang dikelolanya. "Jadi kita tidak khawatir," tegasnya. Data Depperin menyebutkan selain Nanjing Steel dan China Nickel Resources, perusahaan asing masuk dalam sektor industri hulu baja nasional antara lain PT Vacation International Indonesia (asal China), PT Oriental Pratama Indonesia (asal China), PT Fine Wealthy Indonesia (asal China), PT Hoi Cheong Indonesia (asal China), PT Sinar Nusantara Mitra Selaras (asal China), PT Indoferro (asal Singapura), serta PT Essar Indonesia (asal India).

(Sumber: Harian Seputar Indonesia - 10 Oktober 2007)

 Dilihat : 3160 kali