03 Juni 2008
Mittal RI berpotensi jadi basis produksi baja di Asean

JAKARTA ArchelorMittal, produsen baja terbesar di dunia, menyatakan Indonesia berpotensi menjadi basis produksi baja di kawasan Asia Tenggara atau regional hub, apabila investasi perusahaan melalui strategic partner dengan PT Krakatau Steel (KS) terealisasi.

Executive Vice President Finance and MA ArchelorMittal Sudhir Maheshwari mengatakan tidak menutup kemungkinan bagi perusahaan untuk menjadikan Indonesia sebagai basis produksi, mengingat potensi Indonesia yang cukup besar, baik populasi, pertumbuhan ekonomi, kebutuhan  baja yang terus meningkat maupun yang lainnya.

"Kalau memang Indonesia dijadikan regional hub itu mungkin saja karena ArchelorMittal memiliki bisnis yang banyak dan terbagi sejumlah segmen. Kalau Indonesia dilihat memiliki banyak potensi untuk dijadikan basis produksi kawasan di Asia Tenggara, kami akan melakukan itu. Kami tidak menutup kemungkinan tersebut," katanya dalam video conference dengan sejumlah media, kemarin.

Menurut Sudhir, Indonesia bisa menjadi regional hub melalui rencana dan investasi yang tepat dan perusahaannya berkomitmen menanamkan investasi di Indonesia, guna memajukan industri baja nasional. "Basis produksi dapat tercapai kalau investasi dilakukan pada waktu dan tempat yang tepat," katanya.

Perlu konsolidasi

Saat ini, katanya, industri baja di dunia perlu melakukan konsolidasi untuk meningkatkan pertumbuhan dalam rangka memenuhi permintaan di pasar dunia.

Sudhir mengklaim merger antara Archelor dan Mittal menjadi bukti strategi konsolidasi yang cukup efektif, dilihat dari pertumbuhan perusahaan yang baik.

Dia menegaskan saat ini merupakan waktu yang tepat bagi KS untuk melakukan konsolidasi dan perusahaan menunggu jawaban dari pemerintah dan manajemen KS untuk mulai melakukan dialog.

"Yang lebih penting bagi kami adalah semakin cepat strategic sale berlangsung maka makin tepat bagi KS untuk tumbuh dan berekspansi. Kami tidak mau berspekulasi, apakah privatisasi dilakukan tahun ini atau tahun depan. Harapan kami adalah strategic sale. Tentunya itu menjadi keputusan pemerintah apakah IPO atau SS," paparnya.

Sudhir kembali menegaskan bahwa perusahaan berkomitmen menjadikan KS sebagai flag steel producer yang dimiliki pemerintah dan menjadikan KS lebih besar lagi daripada saat ini, baik kapasitas produksi, teknologi maupun kapabilitas perusahaan.

"Selalu ada opsi untuk membuat pabrik sendiri atau kerja sama dengan pihak lain atau KS, tapi yang kami lihat adalah KS tetap menjadi flagship produsen baja Indonesia dan kami sangat komit untuk hal itu," tegasnya.

Akhir pekan lalu, Meneg BUMN Sofyan Djalil mengatakan rencana privatisasi KS sudah keluar jalur, karena sudah dibawa ke area politis.

"Itu sudah keluar jalur. Rencana pemerintah memprivatisasi untuk meningkatkan kapasitas KS. Sekarang, hal ini menunggu keputusan dari DPR," katanya.

Sumber : Bisnis Indonesia, Page : T2 

 Dilihat : 3746 kali