03 Juni 2008
ArcelorMittal Berjanji Akan Terapkan Teknologi Terbaru - ArcelorMittal mengaku sudah memiliki 640 hak paten di bidang teknologi baja

JAKARTA. ArcelorMittal seolah tak kenal putus asa. Niatnya mengakuisisi PT Krakatau Steel tak berhenti kendati tentangan begitu kencang dari manajemen Krakatau Steel. Berbagai rintangan tersebut sepertinya justru membuat Mittal mengeluarkan jurus baru berupa janji akan menerapkan teknologi tinggi untuk Krakatau.

"Kami siap menerapkan teknologi yang up to date. Perlu kami klarifikasikan bahwa kami punya segudang teknologi tinggi. Kami juga memiliki 640 hak paten teknologi baja di seluruh dunia," kata Executive Vice President Finance and M A ArcelorMittal, Sudhir Maheshwari, melalui teleconference dari London di Hotel Four Season, Jakarta, Senin (2/6).

Sudhir membantah, Mittal tak siap dengan teknologi canggih. Memang, ada pabrik Arcelor Mittal di Differdange, Luxemburg, yang hingga kini masih memakai mesin renta buatan abad ke-19. Mereka beralasan, itu karena pergantian mesin belum tentu jadi pilihan terbaik bagi sebuah perusahaan baja.

Jadikan basis produksi

Namun, terhadap Krakatau Steel, Sudhir berjanji jika pemerintah sepakat menjual, Mittal akan menimbang teknologi yang paling cocok. "Nanti kami bicara dengan stakeholder di Indonesia, teknologi apa yang pas untuk Krakatau," katanya Intinya Mittal berjanji menjadikan Krakatau sebagai pabrik baja kelas internasional.

Bisakah kelak Indonesia dijadikan basis produksi dan basis manajemen Mittal seperti yang dilakukan pemerintah Luxemburg? Soal ini, Sudhir hanya berujar, Mittal siap menjadikan Krakatau Steel sebagai basis produksi di Asia Tenggara. "Betul memang Luxemburg kami jadikan sebagai basis produksi. Tapi ini berbeda dengan Indonesia. Kami siap menjadikan Indonesia sebagai basis produksi baja di kawasan," kata Sudhir, yang juga aktor utama mergernya Arcelor dan Mittal.

Seperti pebisnis pada umumnya, Mittal juga menjanjikan jika pemerintah menerima pinangan mereka melalui strategic sales, Indonesia akan mendapat banyak keuntungan. Antara lain stimulus ekonomi yang baik. "Indonesia memiliki basis pasar yang luas, juga bahan baku baja yang memadai," tambah Vice President Mergers and Acquisitions Ondra Otradovec.

Sayang, manajemen Krakatau Steel hingga berita ini turun masih juga belum bisa dikonfirmasi. Telepon dan kiriman pesan singkat KONTAN ke mereka tak juga mendapat balasan. Tapi dalam berbagai kesempatan, manajemen Krakatau, mulai dari direksi, komisaris, hingga serikat pekerja, serempak menolak penjualan Krakatau lewat strategic sales.

Mereka lebih memilih mencari dana dengan cara melantai di bursa alias initial public offering OPO). "Sekali lagi privatisasi itu harus. Tapi pola yang terbaik adalah IPO," tegas Komisaris Utama Krakatau Steel Taufiequrachman Ruki, Kamis (29/5) pekan lalu.

Sumber : Harian Kontan, Page : 14 

 

 Dilihat : 3350 kali