03 Juni 2008
Hitam Putih Arcelor-Mittal

ARCELOR-Mittal tengah menjadi perbincangan hangat terkait wacana privatisasi PT Krakatau Steel (KS). Dari empat peminat KS, Arcelor-Mittal tampaknya menjadi calon kuat yang menginginkan opsi strategic partner (penjualan strategis) atas KS. Polemik perlu tidaknya privatisasi KS akhirnya berujung pada perdebatan seputar strategic partner yang dilakukan Mittal. Rekam jejak Mittal pun terungkap. Bagaimana sesungguhnya Mittal?

Mengacu pada daftar Top 80s Steel-Producing Companies yang dikeluarkan International Iron and Steel Institute (lisi), Mittal setelah merger dengan Arcelor pada Juni 2006 dan menjadi Arcelor-Mittal  kini berada di peringkat ke-1. Sementara Tata Steel ke-6, BlueScope Steel menduduki peringkat ke-42, dan Essar Steel justru tidak masuk daftar.

Arcelor-Mittal berhasil menduduki puncak setelah mengakuisisi berbagai perusahaan sejenis, seperti di banyak negara termasuk Kanada, Meksiko, Polandia, Rumania, Kazakhstan, Ceko, Luxemburg, dan Ukraina. Namun, banyak yang menilai bahwa pengaruh Arcelor-Mittal relatif lemah di kawasan Asia.

Prestasi Arcelor-Mittal, selain sebagai calon kuat untuk memprivatisasi KS, tidak lepas dari kiprah orang di balik perusahaan tersebut. Siapa tidak mengenal Lakhsmi Nivas Mittal? Kisah hidupnya memberi inspirasi banyak orang untuk berjuang, bersemangat, dan pantang menyerah. Mittal lahir di Sadulpur.sebuah desa miskin gersang dan berpasir, di wilayah Rajasthan, bagian barat India. Berawal dari desa tandus ini, Mittal mampu mengubah hidupnya menjadi salah satu konglomerat dunia. Total asetnya diperkirakan mencapai 27,7 miliar poundsterling atau sekitar Rp475 triliun.

Sejumlah pihak yang pro terhadap rencana strategic partner Mittal, berargumen bahwa Mittal memiliki ikatan dengan Indonesia. Hal ini tidak sepenuhnya salah, tetapi tidak sepenuhnya benar. Jika dilihat dari konteks kesejarahan, Mittal memang dekat dengan Indonesia. Pada 1976, Mittal mengawali bisnis bajanya di Waru  sekarang masuk wilayah Kabupaten Sidoarjo, JawaTimur dengan mendirikan PT Ispat Indonesia. Rintisan itu yang kemudian berekspansi dan mendunia. Mittal melebarkan sayapnya ke mancanegara seperti Trinidad and Tobago, Meksiko, Kanada,Kazakhstan,dan Eropa. Yang paling menggencarkan adalah ketika Mittal mengakuisisi perusahaan baja terbesar di Eropa, yaitu Arcelor.

Tidak bisa dipungkiri,Mittal dikenal paling piawai dalam menjalankan strategi privatisasi. Ini terbukti melalui strategi itu, Mittal perlahan membangun kerajaan baja dunia. Meski demikian, harus diakui pula bahwa perjalanan Mittal membangun kerajaan bisnisnya tidak lepas dari berbagai insentif dan fasilitas yangdiperolehnya dari negara tempat Mittal mengakuisisi pabrik baja.

Pemerintah setempat lazimnya memberi komitmen untuk memberikan kemudahan akses bagi Mittal dalam memperoleh bahan baku. Mittal harus diakui memang cerdas dalam membaca peluang. Mittal kerap mengakuisisi industri baja yang nyaris bangkrut. Mitral membelinya dengan harga murah.

lalu ditata dengan manajemen yang disiplin sehingga berhasil menjadi mesin uang yang produktif.

Dibalik berbagai keberhasilannya menjadi kampiun baja dunia, rekam jejak Arcelor-Mittal di sejumlah negara juga menorehkan cerita buruk. Di Bosnia, awak Mittal Steel Zenica menuntut perbaikan gaji mereka dan melakukan mogok massal tanpa batas waktu sampai tercapainya kesepakatan. Di Inggris, akuisisi Mittal terhadap Arcelor menimbulkan ketidaknyamanan politik. Di Prancis, pekerja Arcelor-Mittal mengamuk dan menghancurkan pabrik akibat efisiensi yang berujung pada PHK. Di India, Arcelor-Mittal mendorong Tata Steel menuju kebangkrutan. Di Afrika Selatan, akibat dominasinya hingga 80%, Mittal SouthAfrica terkena denda akibat mengatur standar harga baja.

Selanjutnya, di Nigeria, terjadi pembatalan pembelian BUMN setelah terungkapnya sejumlah kasus penipuan dan penyalahgunaan yang dilakukan Mittal dalam proses pengambilalihan. Di Trinidad and Tobago, terjadi ancaman mogok massal karena Mittal tidak memenuhi janji pengalihan saham kepada karyawan sebagaimana yang dijanjikan sejak 14 tahun lalu. Di Indonesia, mereka menghadapi konflik dengan serikat pekerja. Karyawan mogok akibat kebijakan penurunan gaji hingga 50%, hingga demo warga akibat proses produksinya yang tidak ramah lingkungan. Perusahaan ini bahkan masuk daftar hitam buruk versi Kementerian Lingkungan Hidup.

Selain efisiensi, strategi penguasaan bahan baku juga ditempuh, ini terjadi di perusahaan Kryvorizhstal di Ukraina (Oktober 2005). Belum lagi dengan lobi ke penguasa,seperti kasus penguasaan cadangan iron di sebelah barat Liberia (Agustus 2005), yang menguras sekitar satu miliar ton iron selama 25 tahun. Hal yang demikian bisa terjadi di KS.

Ngototnya Minal untuk mengakuisisi KS setidaknya dilatarbelakangi tiga motif. Pertama, memanfaatkan fasilitas iron ore KS yang kini dikembangkan di Kalimantan sebagai bagian untuk memperkuat suplai bahan baku pengolahan baya. Kedua, memperluas market share di kawasan Asia. Mengakuisisi KS, sama artinya membangun jembatan emas karena jaringan KS yang terintegrasi, sehingga Mittal dapat mengoptimalkan pasar Mitted di Asia dan untuk lebih mengoptimalkan PT Ispat Indonesia. Ketiga ,mendapatkan harga jual yang murah, mengingat kondisi KS yang hingga 2006 masih mengalami bleeding akibat kerugian dan beban utang yang dialami.

Memang.dalam lini bisnis baja, Mittal telah menguasai pasar.Tata Steel, BlueScope Steel, dan Essar Steel hanya memproduksi masing-masing 4,9, dan 8,6 juta ton per tahun, sedangkan Mittal mencapai 117 juta ton per tahun. Namun demikian, masih banyak pertimbangan penting dalam pengambilan keputusan.

Konteks kesejarahan yang diusung berbagai kalangan belum memadai untuk keputusan final. Jika ditelaah, ikatan perusahaan ini dengan Indonesia masih perlu dipertanyakan, mengingat bisnis kerap berorientasi pada profit semata. Jika menganalogikan kedekatan Mittal dengan Indonesia hanya dalam konteks kesejarahan, maka patut dikomparasikan dengan kiprah Mittal di India yang justru baru dimulai pada 2005. Kondisi ini menjelaskan bahwa Mittal hanya fokus terhadap bisnisnya dan tidak menjadikan spesial sebuah negara, meski memiliki kedekatan atau menjadi bagian dari sejarah hidupnya.

M Ikhsan Modjo

(Direktur INDEF)

Sumber : Harian Seputar Indonesia, Page : 15 

 

 Dilihat : 3086 kali