03 Juni 2008
Baja

Inilah saat-saat menegangkan bagi petinggi dan karyawan PT Krakatau Steel. Kalau pemerintah benar-benar menjalankan niatnya melepas perusahaan baja pertama Indonesia itu, nasib Krakatau bakal hanya Tuhan yang tahu. Dalam setahun belakangan ,ini. memang berdengung keras rencana penjualan ttu

Kuping investor yang mendengar dengung itu langsung menyambar. Saal ini, setidaknya sudah ada lima calon investor yang berminat meminang Krakatau. Kelima investor itu adalah ArcelorMittal, BlueScopeSteel, Tata dan Essar Steel, dan Posco.

Sebagai pemain baja kelas dunia, mereka tak salah menangkap peluang itu. Bagaimana pun Indonesia adalah pasar baja yang besar. Kebutuhan per kapita baja negeri ini cuma 33 kilogram. Dan tak kalah menariknya, negeri ini mempunyai cukup cadangan iron ore atau bijih besi yang merupakan bahan baku baja.

Bagi investor, betapa nikmatnya bisa memperoleh pabrik baja, bahan baku, dan pasar yang saling berdekatan. Kenikmatan makin sempurna di saal melambungnya harga baja.

Namun, sebelum pemerintah benar-benar tega melepas Krakatau, tentu ada baiknya merenungkan barang sejenak, betapa pentingnya memiliki pabrik baja sendiri. Ketika Indonesia memulai era industrialisasi pada 1970-an, membangun industri baja di Cilegon yang bernama Krakatau Steel itu merupakan langkah yang benar.

Para ahli ekonomi atau industrial ngatakan industri baja merupakan mother industry bagi sektor-sektor lain. Mulai dari sektor pertahanan, transportasi, manufaktur, otomotif, hingga peralatan rumahtangga.

Singkat kata, industri baja memang sangat vital dan strategis. Karena itu, setiap negara begitu ketat melindungi industri ini. Tengoklah betapa Pemerintah China sangat memproteksi industri bajanya. Berbagai insentif mereka gelontorkan yang membual produk baja asal China menjadi murah. Karena itu pula, banyak negara menuding Negeri Panda itu melakukan praktek dumping atas produk bajanya. Dan, kini, baja China mampu menguasai 34% pasar baja dunia.

Dengan posisi demikian strategis, begitu pemerintah merencanakan menjual Krakatau melalui strategic sales, kontroversi pun menyeruak. Apalagi alasan utama pemerintah menjual seperti itu karena Krakatau butuh suntikan modal besar dan teknologi produksi baja yang lebih maju.

Benarkah demikian? Ya, memang bisa jadi demikian. Untuk menutup defisit baja, produksi Krakatau memang harus digenjot habis. Dan tentu saja, untuk mendongkrak kapasitas produksi tentu buluh duit besar.

Namun, sebelum melepas Krakatau, pemerintah perlu memikirkan dan merumuskan dengan serius bagaimana strategi dan kebijakan pemerintah atas industri baja itu. Mulai kebutuhan jangka pendek hingga jangka panjang. Pemerintah mungkin mencontek langkah Jepang beberapa puluh tahun silam, bagaimana negeri itu membuat struktur industri bajanya bersinergi dengan industri lain, mulai hulu hingga hilir.

Misalnya saja di jangka pendek untuk memenuhi kebutuhan baja konstruksi. Dan, di jangka menengah untuk menopang industri pertahanan. Begitu seterusnya.

Strategi itulah yang menjadi patokan pemerintah untuk menyusun cetak biru industri baja nasional. Kalau perlu dana dan harus mengundang investor, pemerintah harus memilih investor yang paling pas dan paling mampu untuk menjalankan strategi itu. Baik dari sisi permodalan maupun teknologi.

Kalau tak ada investor yang mampu memenuhi syarat itu, sebaiknya biarkan manajemen Krakatau Steel mengelola perusahaanniya. Buat apa menyerahkan ke asing, bila mereka tak punya kemampuan lebih.

Sumber : Kontan, Page : 2 

 Dilihat : 4037 kali