03 Juni 2008
Agustus, Harga Baja Naik Lagi 10 Persen

[JAKARTA] Industri baja sepertinya tengah naik daun. Sejak Januari 2008 lalu, hingga sekarang ini, harganya terus meroket. Dipastikan, Agustus mendatang, harga baja kembali naik hingga 10 persen, baik flat product maupun long product.

Demikian dikatakan General Manager PT Krakatau Steel (KS) Marsidon, dihubungi SP, Senin (2/6) pagi. Kenaikan harga baja ini, kata dia, juga berlaku di dunia internasional. Kenaikan itu katanya, didorong oleh kenaikan harga bahan baku di seluruh dunia. Bijih besi misalnya.

"Harga baja saat ini terus naik setiap bulan, sejak Januari lalu. Bahkan, untuk delivery (pemesanan) Agustus nanti, harga seluruh produk baja dipastikan akan naik hingga 10 persen," kata Marsidon.

Hal senada disampaikan, Direktur Pemasaran PT Krakatau Steel, Irvan Kamal Hakim. Menurut dia, kenaikan harga baja dalam negeri tidak lepas dari kenaikan harga baja di seluruh dunia.

"Inginnya harga baja ini tidak naik. Tetapi, bahan bakunya, seperti bijih besi, serap, ferro alloy, billet, serta biaya angkut, biaya energi dan pertumbuhan konsumsi dunia, ikut mempengaruhi kenaikan harga baja," tutur Irvan.

Kendati demikian, Irvan mengaku, tingginya harga baja tidak membuat pabrik baja mengurangi margin produksinya. Karena, menurut dia, margin harga jual baja dibanding biaya produksinya relatif tetap.

"Marginnya tetap, hanya harganya agak naik. Tetapi, harga jualnya juga tidak bisa terlalu tinggi, karena kalau harga baja tinggi, dikhawatirkan orang tidak akan beli."

Bea Masuk

Sementara itu, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Tekstil, dan Aneka, Departemen Perindustrian (Dirjen ILMTA Depperin) Ansari Bukhari mengatakan, kenaikan harga baja memang memukul beberapa industri yang menggunakan bahan dasar baja. Tetapi, menguntungkan bagi industri baja itu sendiri.

Dalam kesempatan yang sama, Ansari juga mematahkan pernyataan PT Krakatau Steel yang mengeluhkan tingginya tarif bea masuk (BM) baja di Malaysia. Menurut dia, Malaysia telah menghapuskan tarif BM bajanya dari 50 menjadi nol persen.

"Malaysia telah membuka pasar bajanya dengan menghapuskan tarif BM. Buktinya, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Malaysia telah mengirimkan surat pemberitahuan penghapusan BM baja di Malaysia," ujar Ansari.

Padahal, menurut Irvan, BM baja yang dihapuskan Malaysia hanyalah untuk jenis billet, jenis bahan baku baja semi finished yang biasa digunakan untuk besi beton. Tetapi, untuk flat product, seperti hot rolled coil (HRC) dan cold rolled coil (CRC), BM-nya masih 50 persen.

"Tidak benar jika tarif BM baja dihapuskan. Saya kurang yakin, jenis apa saja yang dihapuskan BM-nya, tetapi itu hanya untuk long product. Sedangkan, untuk flat product BM-nya masih 50 persen," kata Irvan. [CNV/N-6]

Sumber : Suara Pembaruan, Page : 12 

 Dilihat : 2773 kali