Risk Management
 

MANAJEMEN RISIKO

Dalam rangka meningkatkan kemampuan Perseroan mengatasi permasalahan lingkungan internal maupun eksternal dari aspek bisnis potensial yang semakin kompleks, Perseroan menerapkan konsep manajemen risiko. Melalui Pengelolaan manajemen risiko, Perseroan diharapkan dapat secara proaktif mengidentifikasi potensi masalah yang kritis bagi kelangsungan bisnis Perseroan dan segera dapat melakukan langkah-langkah mitigasi yang dinilai paling optimal. Sebagai Kerangka Kerja (Framework) penerapan Manajemen Risiko, Perseroan telah menetapkan manual implementasi manajemen risiko yang disusun mengacu pada standar Committee of Sponsoring Organization of The Treadway Commission (COSO).

Perseroan mengklasifikasikan risiko bisnis ke dalam empat jenis risiko, yaitu:

  1. Risiko Strategis, yaitu risiko-risiko yang bersifat strategis bagi pengembangan bisnis perusahaan, seperti: kesalahan transaksi strategis, perubahan kebijakan pemerintah, kurangnya hubungan investor serta pengembangan produk baru.
  2. Risiko Operasional, merupakan risiko yang terjadi akibat kegagalan atau tidak memadainya proses pengendalian suatu proses bisnis yang dapat disebabkan berbagai faktor seperti manusia, alat, sistem atau faktor eksternal Perseroan.
  3. Risiko Finansial, merupakan risiko yang secara langsung maupun tidak langsung menimbulkan kerugian dalam bidang keuangan.

        Contoh: kelemahan Likuiditas, tidak tersedianya Ekuitas, pelemahan nilai rupiah terhadap mata uang asing, dan lain-lain.

  1. Risiko Kepatuhan , yaitu risiko terkait penyimpangan kepatuhan Internal & Eksternal merupakan eksposur korporat yang strategis, dan berdampak pada potensi penutupan usaha, karena pengaruh dari faktor internal & eksternal.

Seperti halnya bidang usaha lainnya, bidang usaha Perseroan juga tidak lepas dari tantangan dan risiko secara makro maupun mikro sebagai berikut:

A.         RISIKO USAHA PERSEROAN

No

RISIKO

DAMPAK

MITIGASI

1.       

Risiko Pasokan Bahan Baku, Energi, Barang dan Jasa Utama Perseroan

 

Perseroan tidak dapat memaksimalkan utilisasi kapasitas produksi sehingga dapat memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap bisnis, kondisi finansial, hasil usaha dan prospek Perseroan.

 

Perseroan berusaha untuk menjaga kelangsungan pasokan bahan baku melalui pengadaan bahan baku, energy dan barang dari berbagai sumber sebagai berikut:

  • Pasokan dalam negeri untuk slab baja yaitu dari PT Krakatau POSCO,
  • Pasokan luar negeri untuk slab baja, billet baja dan bahan baku lainnya yaitu dari negara Brazil, Ciprus, Australia, Rusia, Tiongkok, Jepang dan Korea Selatan,
  • Pasokan sumber daya energi, Perseroan memperoleh dari PT Pertamina (Persero) ("PT Pertamina"), PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. ("PT PGN") untuk pasokan gas alam, PT Air Liquide Indonesia (“PT Alindo”) untuk pasokan gas industri serta dari PT Perusahaan Listrik Negara ("PT PLN") untuk pasokan listrik

 

Selain itu, Perseroan juga melakukan strategi sebagai berikut:

  • Melakukan negosiasi atas komitmen Supply Agreement dengan pemasok bahan baku
  • Menjalin komunikasi yang intensif dengan pihak produsen untuk pengamanan supply bahan baku
  • Mencari alternatif vendor pemasok bahan baku yang lain
  • Optimalisasi pendayagunaan /pengaturan pemakaian bahan baku

 

2.       

Risiko Persaingan dari Perusahaan Baja Lain

Perseroan tidak akan dapat mempertahankan posisi sebagai pesaing yang dominan.

Perseroan melakukan berbagai upaya sebagai berikut:

  • Meningkatkan pangsa pasar melalui kerjasama strategis
  • Branding yang kuat di pasar domestik
  • Mendorong pemerintah untuk melakukan pengawasan terhadap penyalahgunaan ijin impor baja
  • Meningkatkan competitive advantages produk dan pelayanan

 

3.       

Risiko Struktur Permodalan

 

Kenaikan Tingkat hutang Perseroan dapat berpengaruh kepada kemampuan Perseroan dalam melakukan perbaikan modal, karena Perseroan harus mendedikasikan sebagian besar arus kas dari operasi untuk pembayaran hutang

Perseroan melakukan berbagai upaya sebagai berikut:

  • Perseroan telah menyusun strategi untuk segera merealisasikan operasionalisasi proyek strategis Perseroan
  • Melakukan efisiensi dan program penghematan melalui manfaat dan biaya
  • Melaksanakan strategi pembayaran prioritas dan negosiasi
  • Mengoptimalkan rasio-rasio utama yang mempengaruhin struktur permodalan

 

  • 4.       
  • Risiko Sumber Daya Manusia
  •  
  • Operasional Perseroan terganggu akibat kesulitan dalam menyiapkan tenaga kerja yang kompeten secara cepat khususnya untuk tenaga ahli yang sulit diperoleh di pasar tenaga kerja
  • Perseroan melakukan berbagai strategi untuk memastikan tersedianya sumber daya manusia yang dapat mendukung kinerja perseroan diantaranya:
  • ·      Melakukan rekrutmen secara periodik
  • ·      Membangun program pengembangan talent people
  • ·      Melakukan regenerasi karyawan pada posisi kunci
  • ·      Mengadakan program training khusus bagi karyawan yang akan ditempatkan pada posisi yang membutuhkan keahlian tertentu
  • ·      Mengembangkan karyawan melalui berbagai program peningkatan kompetensi
  • ·      Menerapkan reward dan punishment secara konsisten

 

5.       

Risiko  Kuatnya Kontrol Pemerintah Atas Pengelolaan Perseroan

Pengaruh Pemerintah yang sangat kuat dapat memberikan dampak merugikan terhadap bisnis, prospek, kondisi keuangan, likuiditas dan hasil usaha Perseroan. konflik kepentingan dapat berdampak negatif terhadap operasional Perseroan secara keseluruhan.

 

Perseroan berupaya menjalin komunikasi secara intensif dengan Kementrian BUMN sebagai pemegang saham utama Perseroan guna menjelaskan program dan rencana strategis Perseroan kedepan.

 

6.       

Risiko Perubahan Teknologi

Perseroan akan terbebani oleh Pengem-bangan atau penerapan teknologi, jasa/ standar baru serta investasi substansial baru oleh Perseroan

Perseroan telah berupaya menyesuaikan situasi dan keadaan yang telah berubah dengan cara:

  • Terus menyiapkan dan mengembangkan SDM yang berkualitas,
  • Study banding ke perusahaan terkemuka nasional dan internasional guna mempelajari pengalaman dalam menghadapi setiap perubahan atas pengembangan atau penerapan teknologi, jasa atau standar baru

 

7.       

Risiko Pengoperasian Bisnis Inti Perseroan Yang Seluruhnya Berlokasi / Terkonsentrasi di Cilegon

Tidak adanya fasilitas alternative serta operasi dan arus kas Perseroan saat ini dan di masa depan yang sepenuhnya terkonsentrasi pada fasilitas tunggal Perseroan di Cilegon

Perseroan telah melakukan berbagai upaya sebagai berikut:

  • Membangun fasilitas produksi bahan baku di Pulau Kalimantan serta membuka kantor perwakilan untuk pemasaran produk di Surabaya
  • Mengasuransikan asset perusahaan
  • Menerapkan Sistem Manajemen Pengamanan 

8.       

Risiko Kegagalan Perseroan Memenuhi Peraturan Perundang-Undangan Yang Berlaku

Perseroan dapat dikenakan sanksi perdata, termasuk denda, hukuman atau penarikan produk serta sanksi-sanksi pidana lainnya disamping itu terjadi kerawanan dan gangguan keamanan, menurunkan tingkat kepercayaan, dukungan dari lingkungan masyarakat sekitar

Perseroan melakukan berbagai strategi sebagai berikut:

  • Menetapkan unit khusus yang bertanggung jawab mengelola dan memantau kepatuhan Perseroan terhadap peraturan perundang-undangan diantaranya dengan melakukan assessment rutin (tahunan),
  • Mengembangkan data base peraturan yang harus dipenuhi Perseroan serta melakukan monitoring implementasi setiap perubahan peraturan yang ada. 

 

B. RISIKO TERKAIT INDUSTRI BAJA

No

RISIKO

DAMPAK

MITIGASI

1.

Risiko Volatilitas Bisnis Baja

Penjualan dan laba Perseroan terpengaruh secara negatif oleh penurunan harga baja domestic dan berdampak pada pendapatan Perseroan

Perseroan telah berupaya untuk mengendalikan tingkat volatilitas harga baja dengan strategi sebagai berikut:

  • Meningkatkan pangsa pasar melalui kerjasama strategis,
  • Melakukan branding yang kuat di pasar domestic
  • Meningkatkan competitive advantages produk dan pelayanan,
  • Mendorong pemerintah untuk memperkuat program sinergi bisnis BUMN terutama dalam peningkatan penyerapan produk baja domestik untuk memenuhi kebutuhan proyek pembangunan nasional.

2.

Risiko Lingkungan Industri Pengolahan Baja

Pencemaran apabila limbah tersebut dilepaskan di lingkungan atau tempat kerja. Selain itu, Perseroan dapat diharuskan menanggung biaya yang cukup besar dan penghentian usaha perseroan

Perseroan berupaya untuk mengendalikan dampak lingkungan industri pengolahan baja dengan strategi sebagai berikut:

  • Memenuhi standar lingkungan mengacu pada standar ISO 14001 yang secara berkala telah dilakukan resertifikasi oleh badan independen K3LH nasional
  • Pengendalian dan pengelolaan limbah,
  • Program komunikasi dan sosialisasi kepada masyarakat sekitar,
  • Optimalisasi pemanfaatan limbah,
  • Investasi fasilitas pengolahan limbah
  • Program Penanaman pohon  prioritas diperumahan penduduk dekat lokasi pabrik

 

C. RISIKO UMUM

No

RISIKO

DAMPAK

MITIGASI

1.

Risiko Perubahan Kondisi Perekonomian Secara Makro Dan Global

Kerugian secara material terhadap penjualan produk, arus kas, kinerja operasi, kondisi keuangan dan prospek usaha Perseroan

Perseroan melakukan berbagai strategi sebagai berikut:

·      Secara aktif telah mengikuti forum forum terkait industry baja antara lain asosiasi produsen baja nasional

·      Mengusulkan dukungan kebijakan pemerintah untuk industri baja diantaranya mendorong pemerintah untuk memperkuat program sinergi bisnis BUMN terutama penggunaan produk dalam negeri (baja) untuk proyek-proyek pembangunan nasional,

 

2.

Risiko Valuta Asing (Depresiasi Nilai Tukar Rupiah)

sensitifitas terhadap fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing, yaitu jika terjadi penurunan mata uang Rupiah yang sangat signifikan khususnya terhadap Dollar AS, akan mempengaruhi kondisi keuangan dan hasil usaha Perseroan

Untuk mengantisipasi risiko perubahan kurs valuta asing (Depresiasi Nilai Tukar Rupiah) perseroan melakukan hedging dengan berbagain instrument, termasuk diantaranya Forward dan Cross-Currency Swap.

 

3.

Risiko Tuntutan Atau Gugatan Hukum

Tuntutan ataupun gugatan hukum dari dan/atau kepada pihak-pihak penggugat dengan Perseroan. Risiko ini dapat menimbulkan dampak material yang merugikan Perseroan

Perseroan telah berupaya menyelesaikan secara aktif semua permasalahan legal yang berhubungan dengan perselisihan, gugatan pencemaran lingkungan baik oleh Stakeholder dan LSM dengan tetap menjaga aspek keadilan dan penyelesaian yang tidak merugikan pihak ekternal.

4.

Risiko Perubahan Kebijakan Pemerintah

Secara material dapat mempengaruhi pendapatan dan hasil usaha Perseroan.

 

Perseroan telah berupaya mengusulkan kebijakan-kebijakan untuk mendapat dukungan pemerintah dalam rangka memperkuat industry baja:

  • Meninjau kembali perjanjian perdagangan bebas/ Free Trade Agreement,
  • Penggunaan produk dalam negeri dalam proyek pembangunan nasional
  • Penetapan harga Gas Alam dan tariff listrik yang kompetitif
  • Pengenaan bea masuk anti dumping,
  • Penetapan ijin impor baja yang lebih selektif untuk melawan tindakan unfair trade.

 

Assessment Maturitas ERM Manajemen Risiko

PT Krakatau Steel sebagai salah satu entitas bisnis yang membidangi sektor baja di Indonesia telah mulai menerapkan kerangka kerja manajemen risiko sejak tahun 2008 sebagai bagian dalam usaha pencapaian tujuan organisasi. Namun disadari atau tidak, penilaian akan tingkat kematangan dari penerapan menajemen risiko pun sama pentingnya dengan proses penerapan manajemen risiko itu sendiri, sebagai bagian dari proses monitoring and control. Oleh karena itu pentingnya menilai tingkat kematangan dalam penerapan manajemen risiko di dalam seluruh aktivitas Perseroan merupakan suatu pilihan manajemen sebagai acuan dalam peningkatan dan perbaikan pengelolaan risiko secara terintegrasi kedepan.  

Tingkat kematangan manajemen risiko atau risk maturity level perlu diukur untuk mengetahui apakah penerapan manajemen risiko dalam organisasi mempunyai arah yang benar dan sesuai dalam mencapai efektifitas pengelolaannya. Penilaian tingkat maturitas ERM (Enterprise Risk Management) PT Krakatau Steel pada tahun 2016 telah dilakukan dengan melibatkan lembaga independen penilai maturitas implementasi manajemen risiko perusahaan yang telah berpengalaman melakukan assessment di beberapa BUMN terkemuka nasional hal ini dilakukan untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan organisasi sehingga output dari hasil penilaian maturitas tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan tata kelola perusahaan dan tata kelola risiko (Risk Governance) PT Krakatau Steel.

Hasil penilaian maturitas manajemen risiko PT Krakatau Steel pada penilaian perdana ini masih pada level Basic Upper namun demikian hal ini cukup memberikan gambaran konstruktif atas peluang perbaikan yang harus diselesaikan oleh pemilik risiko (unit kerja) dengan dukungan manajemen puncak.

 

Materi Risiko WEB-7.jpg

ROADMAP MANAJEMEN RISIKO PT KRAKATAU STEEL 2015 - 2018

ROADMAP MANAJEMEN RISIKO PT KRAKATAU STEEL 2015 - 2018.jpg